by

Kantor Kemenang Berhias Lampion Sambut Imlek

Mungkin kita biasa menyaksikan hiasan pernak-pernik Imlek di pusat-pusat perbelanjaan, perkantoran maupun di rumah-rumah ibadah umat Khonghucu maupun Buddha. Di Vihara milik umat Buddha maupun Lithang milik umat Khonghucu sudah dari awal Februari ini berhias diri menyambut Imlek 2572/2021.

Tahun ini, kita dapat melihat suasana yang berbeda di kantor Kementerian Agama RI di Jakarta. Sejak awal Februari Gedung tempat Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas berkantor ini berhias diri dengan pernak-pernik khas Imlek. Salah satunya dengan menggantung puluhan lampion di plafon Gedung kantor Kemenag.

Selain lampion, beberapa pohon sakura berdaun merah juga terpampang di sejumlah sudut kantor tersebut. Suanasa Imlek benar-benar semarak menghiasi gedung yang berada di Jl. MH. Thamrin, Jakarta ini.

Penampakan  tak biasa itu mendapat apresiasi sejumlah tokoh Khonghucu Indonesia.

Salah satunya Alim Sugiantoro, tokoh Khonghucu dari Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban bersama Generasi Muda Khonghucu (GEMAKU) Indonesia. Ia mengaku bangga dan takjub dengan pemandangan hiasan perayaan Imlek di kantor Kemenag itu.

“Tentunya kami bersama GEMAKU Indonesia sangat mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah mewujudkan keindahan semangat Imlek yang religius ini di Kementerian Agama,” ujar Alim dalam rilisnya kepada wartawan di Solo, Selasa (2/2/2021).

Dalam penilaiannya, pemandangan itu baru pertama kali dalam sejarah kantor Kemenag RI turut menyambut Imlek. Menurutnya, terpasangnya lampion dan pernik – pernik Imlek membuktikan bahwa Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut, menjalankan fungsinya sebagai Menteri Agama.

“Ini membuktikan bahwa Kemenag itu adalah milik enam agama, dan semua harus dilindungi. Dan harus di apresiasi,” ujar pria yang juga pembina agama Khonghucu Indonesia ini, sebagaimana dilansir fokusjateng.com (2/2/2021).

Alim menambahkan, Tahun Baru Imlek merupakan momentum religius bagi umat Khonghucu di mana saja berada. Tahun di mana saatnya semua umatnya bersuci dan memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik.

“Ini saat mengenang kembali karya-karya Nabi Kongzi pada peradaban Tionghoa, maka dari itu tahun Imlek dihitung berdasarkan tahun kelahiran Confucius (Kongzi),” tutur Ketua Penilik demisioner TITD Kwan Sing Bio Tuban ini.

 

Imlek dan Gus Dur

Perayaan Imlek sendiri baru dapat dirayakan secara terbuka oleh umat Khonghucu dan umat Buddha pada masa pemerintahan KH. Abdurrahman Wahid menjabat sebagai presiden ke-4 RI. Cucu pendiri NU inilah yang membuka gembok larangan perayaan Imlek oleh pemerintah Orde Baru.

Dalam tulisannya di tirto.id (9/4/2020), menurut Fadrik Aziz Firdausi, selama Orde Baru berkuasa etnis Cina tak diakui sebagai suku bangsa dan dikategorikan sebagai nonpribumi. Seturut politik kebangsaan Orde Baru, etnis Cina diharuskan mengasimilasikan diri dengan suku-suku mayoritas di tempat mukim mereka. Misalnya, jika seorang Cina tinggal di Bandung, mereka harus jadi orang Sunda.

Menurut begawan antropologi James Dananjaya, kebijakan itu berdampak lebih jauh daripada sekadar pergantian nama atau agama. Perlahan orang Tionghoa benar-benar melupakan jatidirinya.

“Akibat indoktrinasi yang dilakukan dengan sistematis tersebut, kebanyakan orang Tionghoa yang patuh pada politik pemerintahan Orde Baru, dengan sadar atau dengan tidak sadar, telah berusaha melupakan jati diri etnisnya sendiri, sehingga terjadilah autohypnotic amnesia,” tulis James dalam “Imlek 2000: Psikoterapi untuk Amnesia Etnis Tionghoa” yang terbit di majalah Tempo edisi 14 Februari 2000.

Masa-masa kelam itu akhirnya berakhir ketika Reformasi bergulir pada 1998. Dalam masa baktinya yang singkat, Presiden Habibie menerbitkan Inpres No. 26/1998 yang membatalkan aturan-aturan diskriminatif terhadap komunitas Tionghoa. Inpres ini juga berisi penghentian penggunaan istilah pribumi dan nonpribumi dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Gus Dur, panggilan akrab Abdurrahman Wahid lah yang kemudian bertindak lebih jauh lagi. Ia muncul membela hak komunitas Cina dengan konsep kebangsaan baru yang diperkenalkannya.

Dalam konsep kebangsaan Gus Dur, menurut Fadrik Azis, tak ada yang namanya pribumi dan nonpribumi. Dikotomi semacam itu adalah kesalahan dan gara-gara itu komunitas Cina dinafikan dari nasionalisme Indonesia. Bagi Gus Dur, tak ada yang namanya “keturunan masyarakat asli” di Indonesia, karena bangsa Indonesia dibentuk oleh perpaduan tiga ras, yakni Melayu, Astro-melanesia, dan Cina. Ia sendiri mengatakan dirinya adalah keturunan blasteran Cina dan Arab.

Tak hanya berteori, Gus Dur pun merealisasikan gagasannya itu ketika naik jadi presiden pada 1999. Pendiri Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yang sejak lama dikenal sebagai pluralis itu menganulir Inpres No. 14/1967 dengan menerbitkan Inpres No. 6/2000. Sejak itulah, komunitas Tionghoa bebas kembali menjalankan kepercayaan dan budayanya.

Inpres yang terbit pada 17 Januari tersebut membawa suka cita yang telah lama surut. Tahun baru Imlek tahun itu, yang jatuh pada 5 Januari, dirayakan dengan cukup megah di kompleks Museum Fatahillah Jakarta. Pada 9 April 2001, dengan Keppres No. 9/2001, Gus Dur meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif – yang kini sudah menjadi libur nasional. [AN/berbagai sumber]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed