by

Kalis Mardiasih: Perempuan Bukanlah Sumber Fitnah

Kabar Damai | Jumat, 01 Juli 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Peran dan pemikiran perempuan kini semakin berkembang dan dapat memberi dampak baik dalam kehidupan. Melalui kanal Islamidotco, Kalis Mardiasih yang merupakan seorang penulis dan aktivis perempuan menjelaskan bagaimana peranan perempuan tersebut dapat mengantarkannya menjadi pribadi yang bermanfaat sekaligus menepis fitnah terhadap perempuan sebagai sumber fitnah.

Kalis diawal pemaparannya menjelaskan bahwa sejak kecil ia yang lahir dan bertumbuh sebagai seorang muslimah hingga dewasa kini masih sangat mengingat bagaimana ajaran di masjid-masjid dan madrasah tempat ia menimba ilmu yagmana ia diajarkan dengan sebuah hadist popular yang berbunyi,

‘jika kamu menjadi seorang istri solehah maka kamu bebas masuk surga dari pintu mana saja,’.

Dari hadist tersebut menurutnya kemudian banyak kiai dan ustadz yang kemudian mengelaborasi topik tersebut dengan candaan-candaan yang bersifat domestik dan juga seksis untuk perempuan.

Internalisasi dari ceramah-ceramah tersebut menurutnya membentuk sebagian besar perempuan muslimah dalam mengembangkan diri dan melupakan jati diri sebagai muslimah yang sesungguhnya yaitu subjek yang merdeka dan juga berhak memberikan manfaat yang sebasar-besarnya untuk diri sendiri, lingkungan, bangsa dan negara dan bahkan untuk dunia.

Pada sisi yang lain, menurutnya masjid dan forum taklim juga dipenuhi dengan ancaman-ancaman untuk muslimah. Ada yang menyatakan bahwa isi neraka yang paling besar dan banyak diisi oleh muslimah. Muslimah adalah sumber fitnah, muslimah yang keluar dari rumah senantiasa diikuti oleh setan dibelakanganya, seluruh tubuh muslimah adalah aurat yang menjadi ujian bagi lelaki dan sebagainya.

Baca Juga: Alasan Mengapa Perempuan Masih Terpapar Paham Radikalisme

Darisana, terdapat dua kutub yang menuntut muslimah untuk berkembang dari keduanya. Disatu kutub menjadi muslimah yang penuh penyerahan diri, ketaatan dengan dikontrol dan tidak punya pilihan-pilihan lain untuk dirinya sendiri dan juga kutub ekstrim yang menempatkan muslimah sebagai sumber fitnah, aurat, tubuh yang penuh dosa dan berbalas dengan neraka.

Dalam perkembangannya, Kalis bertemu dengan nilai moderasi beragama yangmana salah satu inti ajarannya mengajarkan bahwa sisi hamba Allah adalah menggunakan tauhid. Tauhid merupakan awal dan akhir dari perwujudan seorang hamba.

Ketika manusia masuk dalam Islam maka ia harus mengikrarkan syahadat yang berarti menyembahkan dirinya hanya kepada Allah. Dengan itu, syahadat juga merupakan ikrar bahwa sebagai manusia perempuan juga tidak boleh menyerahkan diri kepada selain Allah.

Tauhid juga kemudian menyadarkan Kalis dalam menjadikan muslimah sebagai subjek yang mereka, intelektual dan punya tanggungjawab untuk menebarkan ilmu pengetahuan dan kebaikan guna menebarkan manfaat kepada lingkungan sekitar.

Dengan demikian, moderasi beragama melawan kutub ekstrim yang menempatkan subjek muslimah hanya dalam perintah untuk menghambakan diri, perintah yang semata untuk pelayanan dan menempatkan muslimah dalam pemahaman yang ekstrim yang menyatakan dirinya adalah sumber fitnah menuju pada nilai moderat yang lebih maju guna meningkatkan muslimah punya akal yang akan dipertanggungjawabkan kelak.

“Kalau kamu punya peran dibidang pendidikan kamu juga bebas masuk surga dari pintu mana saja. Jika kamu muslimah yang punya peran dibidang lingkungan, ekonomi, politik dan sosial yang menghasilkan kebijakan publik, melindungi kelompok rentan, memberi manfaat seluasnya maka pintu surga menanti semua muslimah dari pintu mana saja,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed