by

K.H. Ahmad Dahlan Pembaharu Pendidikan Muhammadiyah di Indonesia

Kabar Damai I Selasa, 29 Juni 2021

Jakarta I kabardamai.id I Pendidikan merupakan syarat penting guna membangun suatu peradaban bangsa, dibalik bangsa yang sukses dan maju tidak lepas dari peran pendidikan. Pendidikan memiliki tujuan untuk mengembangkan potensi diri manusia serta memberantas kebodohan. Untuk mewujudkan pendidikan tentu saja tidak lepas dari usaha tokoh-tokoh nasional, salah satunya yakni K.H. Ahmad Dahlan.

Beliau memiliki konsep kehidupan yang sangat banyak, seperti halnya beliau telah menekankan untuk berjuang dengan sungguh-sungguh dalam menyebarkan agama Islam yang kemudian telah diterapkan dalam organisasi Muhammadiyah. Pembaharuan merupakan langkah awal kebangkitan umat Islam di Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan. Akan tetapi, semangat pembaruan justru mengakibatkan perpecahan umat Islam di Indonesia seperti golongan modernis dan tradisionalis.

Salah satu tokoh dari golongan modernis yakni KH. Ahmad Dahlan, golongan modernis memiliki tujuan untuk memurnikan ajaran Islam serta meningkatkan kesadaran dalam beragama. Sedangkan golongan tradisionalis memiliki tujuan untuk meningkatkan peran Islam serta pemikiran Islam dengan berpegang teguh pada ajaran 4 madzhab, tokoh dari golongan tradisionalis yaitu KH. Hasyim Asy’ari. Sebelum kita mengetahui pembaruan pendidikan yang dibangun KH. Ahmad Dahlan, ada baiknya kita mengetahui biografinya terlebih dahulu.

K.H. Ahmad Dahlan merupakan sosok pembaharu Islam di Indonesia, sekaligus pendiri organisasi Islam yakni Muhammadiyah. KH. Ahmad Dahlan lahir sekitar 1285 H/ 1868 M, wafat pada 23 Februari 1923. Sebelum mendirikan organisasi Islam, beliau sempat menjadi guru agama di daerahnya. Di sisi lain, beliau juga pernah menjadi guru di Kweek School terletak di Yogyakarta, serta Opleiding School Voor Inlandsche Arbenaren merupakan salah satu sekolah pribumi yang terletak di Megalang (Ahdar, 2019). K. H. Ahmad Dahlan merupakan putra ke 3 dari K.H. Abu Bakar bin K.H. Sulaiman. K. H. Ahmad Dahlan menikahi seorang wanita yang bernama Walidah pada tahun 1888 dan dianugerahi dengan enam anak (Kasmuri Selamat, 2019).

Baca Juga: Fatmawati, Perempuan yang Menolak Dipoligami

Melihat ide dari K.H. Ahmad Dahlan dalam pembaharuan pendidikan, Islam diharapkan memberikan suatu kontribusi besar dalam bidang pendidikan Islam masa kini. Oleh karena itu, untuk menelusuri wacana pembaharuan pendidikan maka seringkali merujuk pada usaha beliau dalam membangun suatu sistem pendidikan.

Usaha beliau dalam membangun pendidikan bisa saja menjadi simbol dari kebangkitan generasi untuk menjawab tantangan yang dihadapi oleh Islam. Kondisi pendidikan pada saat itu terpecah menjadi dua bagian. Pertama sistem pendidikan Belanda berbentuk sekuler atau tidak memperhatikan ilmu-ilmu agama. Kedua pendidikan lokal (pesantren) lebih menekankan pada ilmu keagamaan. Oleh karena itu, K.H. Ahmad Dahlan bercita-cita untuk mengintegrasikan kedua pendidikan tersebut (Zetty Azizatun Ni’mah, 2014).

Pada abad-19 sistem pendidikan dualisme tetap berkembang pesat khususnya di Indonesia, dua sistem pendidikan tersebut memiliki suatu perbedaan yang sangat signifikan. Corak dari pendidikan sekuler yakni sistem pembelajaran yang tidak memperkenalkan nilai-nilai agama. Pendidikan sekuler memiliki suatu tujuan yang hanya mendidik anak dari golongan priyai untuk menjadi juru tulis serta memegang buku pegawai guna membantu majikan Belanda dalam bertugas di bidang teknik, perdagangan serta administrasi. Pondok pesantren merupakan gambaran pendidikan Islam tradisionalis. Pondok pesantren memiliki suatu sistem pembelajaran yang menekankan pada hafalan-hafalan. Menonjolnya pendidikan yang dibangun oleh Belanda memiliki suatu dampak melemahkan eksistensi pendidikan Islam tradisionalis.

Awal abad-20 kalangan Muslim terpelajar sadar akan lemahnya eksistensi pendidikan Islam di Indonesia, mereka terbuka dalam menerima ide-ide baru yang membawa pada kemajuan guna mendapatkan solusi yang terbaik. Lalu kemudian K.H. Ahmad Dahlan betekad untuk menciptakan suatu pembaharuan pendidikan, tekad pembaharuan dari K.H. Ahmad Dahlan memiliki 2 konsep dasar yakni, cita-cita dan teknik.

Dalam tekad tersebut yang dimaksud dari cita-cita yaitu mampu membentuk umat Islam yang berakhlak mulia, alim, memiliki pandangan yang luas serta paham masalah keduniaan. Sehingga dalam konsep cita-cita tersebut mampu menciptakan ulama intelek serta intelek ulama. Sedangkan dari segi teknik lebih condong pada cara-cara penyelenggaraan pendidikan. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan hal tersebut Muhammadiyah menyempurnakan kurikulum pendidikan Islam dengan cara memasukkan pelajaran-pelajaran agama ke sekolah umum, serta pengetahuan umum ke dalam sekolah agama.

Untuk mewujudkan sebuah pembaharuan dalam pendidikan Islam Muhammadiyah telah mendirikan madrasah-madrasah dan pesanteren dengan kurikulum memasukkan ilmu pengetahuan umum dan modern, serta mendirikan sekolah-sekolah umum yang menggunakan sistem kurikulum memasukkan pelajaran-pelajaran agama di sekolah umum.

Muhammadiyah juga memperkenalkan pondok pesantren dengan organisasi, administrasi, serta cara-cara penyelenggaraannya. Karakteristik dari lembaga pendidikan Muhammadiyah yakni His met the Qur’an yang merupakan suatu integrasi pendidikan Islam dengan pendidikan umum. Lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah menggunakan sekolah umum sebagai tahap awal, guna mendorong etos belajar keagamaan serta pengkajian ajaran-ajaran agama Islam. (Nelly Yusra, 2018).

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed