by

Justina Rostiawati: Keberagaman Adalah Keniscayaan

-Kabar Tokoh-121 views

 Kabar Damai I Jumat, 26 Maret 2021

 

Jakarta | kabardamai.id | Justina Rostiawati adalah seorang peneliti, perencana program, pemantau, dan analis kebijakan dalam bidang keperempuanan dan isu-isu terkait gender, gender pengarusutamaan, hak asasi manusia, dan pendidikan.

Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Komisioner Komnas Perempuan, ia kini menjadi konsultan tentang masalah Gender Basic Violence (GBV), gender dan pendidikan, kesehatan reproduksi, dan hak seksual hak. Ia juga memfokuskan diri dalam isu lintas agama, termasuk peran perempuan dalam perdamaian dan keamanan, serta pelatihan kepemimpinan perempuan.

 

Wanita Katolik Indonesia

Justina Rostiawati merupakan mantan komisioner Komisi Nasional Kekerasan Terhadap Perempuan pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. Ia memulai karirnya di Universita Atma Jaya pada tahun 1983.

Ia pernah menjadi Kepala Bagian Pendidikan, Kepala Bidang Pelatihan Bagian, Koordinator Kajian Informasi dan Komunikasi, dan Sekretaris Bidang Akademik pada Pusat Studi Pembangunan Masyarakat. Saat ini, ia menjadi peneliti senior sejak tahun 2007.

Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Presidium Dewan Pengurus Pusat Wanita Katolik Republik Indonesia (Wanita Katolik RI) yang merupakan CBO yakni organisasi berbasis komunitas.

Justina memfokuskan pekerjaannya pada pengembangan komunitas, kesejahteraan dan sektor pendidikan, kesetaraan dan kesetaraan gender, kepemimpinan perempuan, dan masalah hak asasi manusia.

Ia adalah pendiri Lembaga Pemberdayaan Berbasis Komunitas Basis Komunitas dan anggota Kelompok Permusyawaratan Sekretariat Kemitraan Wanita Asosiasi – Sekretariat Jaringan Mitra Perempuan pada 2004 sampai dengan 2008.

Ia juga pernah ambil bagian dalam Relawan Kelompok Kerja untuk Kemanusiaan (Tim Relawan untuk Kemanusiaan) untuk menjangkau dan mendukung korban Kerusuhan Mei di Jakarta dan konflik Timor Timur (1998 – 2003).

 

Perempuan Melawan Pandemi

Pada masa pandemi, Justina Rostiawati menyatakan bahwa peran perempuan sangat penting. “Perempuan sudah dikenal sebagai pemelihara kehidupan. Di masa pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, peran perempuan sangat luar biasa.” Jelasnya saat dihubungi via whatsapp pada Rabu (24/3).

Ia menambahkan bahwa utamanya peran perempuan pada masa pandemi hadir sebagai penegak disiplin protokol kesehatan dengan cara mengajari anak-anak untuk menaati protokol kesehatan. Caranya adalah mengingatkan anak-anak untuk patuh dan disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan untuk mencegah (transmisi) penyakit.

Secara gotong royong, perempuan juga memprakarsai untuk penyediaan masker, makanan, dan lain-lian yang dibutuhkan untuk keluarga-keluarga yang sakit. Perempuan juga menginisiasi gerakan menanam sayur dan apotik hidup sebagai upaya untuk ketahanan pangan.

Untuk mengatasi krisis ekonomi tingkat mikro dalam keluarga dan lingkungannya, perempuan membuka usaha mandiri maupun berkelompok. Ada banyak peran perempuan pada masa pandemi di berbagai lini dalam membantu pemerintah mengatasi berbagai masalah di masa pandemi.

Termasuk ketika proses vaksinasi diselenggarakan, perempuan menjadi relawan dan turut mendidik masyarakat untuk menyadari pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan diri sebagai bentuk tanggung jawab kepada lingkungan.

Baca juga: Mengenang Nawal El Saadawi, Feminis Mesir yang Gigih dalam Berkarya

Belajar Mendengarkan Orang Lain

Bagi Justina, kebinekaan atau keberagaman adalah keniscayaan yakni keadaan atau kondisi yang sudah pasti demikian adanya. Para psikolog menyatakan bahwa manusia adalah unik, tidak ada yang sama satu sama lain.

Meskipun kembar, manusia pasti memiliki perbedaan. Atas dasar itu, demikian Allah Swt. menciptakan bumi dengan isinya yang beraneka ragam. Keragaman tersebut adalah keadaan yang mutlak.

Justina menambahkan, “kita harus memelihara keanekaragaman itu supaya bisa tetap hidup dan berkembang seutuhnya, saling memahami dan saling mau menolong. Hanya dengan saling memahami bahwa masing-masing dari kita mempunyai keunikan, kita bisa saling mengisi satu sama lain dan kedamaian pun akan tercipta.”

Menurut Justina, tidak ada satu pun manusia yang sempurna karena memang demikian Tuhan menciptakan manusia seisinya untuk bisa saling membantu, menolong, bekerja sama perbanyak perjumpaan dan dialog antar etnis/ras/suku dan agama.

Perjumpaan bisa terjadi lewat media apa saja, bisa juga langsung tatap muka. Dialog juga bisa membahas tentang apa saja, dari yg remeh temeh tentang keseharian sampai ke persoalan pelik, termasuk persoalan bangsa dan agama.

Ia menekankan, bahwa semua hal dan persoalan bisa diperbincangkan dan jangan menghindari taboo. Yang perlu diingat adalah saling memberikan apresiasi dan saling menghargai.

Saat melakukan sharing, bincang-bincang, atau mengemukakan pendapat perlu saling mendengarkan, serta tidak menghakimi.

“Belajar mendengarkan, memberi apresiasi kepada orang lain, tidak menghakimi dan mencemooh orang lain. Semua ketrampilan ini harus dipelajari dan dikembangkan dari usia dini, dari usia muda sehingga masing-masing dari kita berkembang dengan positive thinking,” pungkas Ketua Presidium DPP Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI).

 

Pengalaman Organisasi

  • 2013 – 2018

President of Indonesia Catholic Women’s Organization, CBO (tingkat nasional) yang berfokus pada kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan serta gender dan yang terkait dengan masalah perempuan

  • 2009 – 2013

Sekretaris Jenderal Organisasi Wanita Katolik Indonesia – tingkat nasional (Sekjen – Dewan Pengurus Pusat)

  • 2004 – 2008

Consultative Group of the Secretariate of Women’s Partnership Association ‘Sekretariat Jaringan Mitra Perempuan’

  • 2000 – 2005

Pendiri lembaga pemberdayaan berbasis masyarakat (Lembaga Pemberdayaan Komunitas Basis)

  • 1998 – 2003

Kelompok Relawan (Kerja) untuk Kemanusiaan ‘Tim Relawan untuk Kemanusiaan’ (Menjangkau dan mendukung korban Kerusuhan Mei di Jakarta & Timor Timur)

 

Penulis: Ayu Alfiah Jonas

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed