by

Jusmansyah: Syahadat Adalah Harga Mati Bagi jemaat Muslim Ahmadi yang Sejati

Kabar Damai, Minggu 11 Juli 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Diskriminasi terhadap jemaat muslim Ahmadiyah masih sering dijumpai di Indonesia. Alasannya karena Ahmadiyah dianggap sebagai praktik menyimpang dalam beragama. Satu hal konkret yang kerap dijadikan masalah ialah perihal syahadat yang disebut berbeda dari muslim kebanyakan.

Jusmanyah, Ahmadi melalui kanal youtube Ahmadi Talk memaparkan bahwa syahadat muslim Ahmadiyah dan umat muslim kebanyakan adalah sama.

“Setiap orang Ahmadiyah meyakini dan mengaku beragama Islam, maka kalimat syahat kami para Ahmadi sama persis dengan kalimat syahad yang dibaca dan diakui oleh kaum muslimin yang lainnya, yakni Asyhadu an laa ilaaha illallahu, wa asyhaduanna muhammadar rasulullah,” ungkapnya.

Menurutnya pula, hal tersebut dapat ditemukan dalam azan dibanyak negara. “Kemudian, lafadz tersebut pula yang dikumandangkan didalam azan dari masjid-masjid Ahmadiyah yang ada 213 negara diseluruh dunia ketika solat fardhu yang lima waktu,” tambahnya.

Apabila masyarakat masih saja tidak mempercayai perihal syahadat ini, menurutnya dapat mencari penjelasan melalui berbagai cara dan upaya.

“Jika ada yang tidak percaya bahwa syahadat kami demikian, silahkan datang secara langsung juga secara sembunyi-sembunyi, dengarkan kalimat syahadat yang dikumandangkan melalui azan di masjid-masjid Ahmadiyah atau bertanya langsung kepada orang-orang Ahmadiyah baik anak-anak maupun dewasa, laki-laki dan perempuan,”.

Baca Juga: Peranan Ahmadiyah dalam Kemerdekaan Indonesia

“Dimana pasti akan kita dapatkan bahwa syahadat kami adalah Asyhadu an laa ilaaha illallahu, wa asyhaduanna muhammadar rasulullah,” jelasnya.

Bagi jemaat muslim Ahmadiyah, syahadat adalah harga mati. “Demikian juga ketika seseorang baiat, masuk kedalam organisasi jemaat Ahmadiyah ini maka ia wajib untuk membaca dua kalimat syahat tersebut. Jadi kalimat syahadat tersebut adalah harga mati bagi jemaat muslim Ahmadi yang sejati,” tuturnya.

Berkenaan dengan kalimat syahadat, pendiri Ahmadiyah sendiri Hadrat Mirza Ghulam Ahmad beliau bersabda bahwa “Inti dari kepercayaan kami adalah: Asyhadu an laa ilaaha illallahu, wa asyhaduanna muhammadar rasulullah (Tak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah). Kepercayaan kami inilah yang menjadi tempat bergantung dalam hidup ini, dan yang padanya- dengan rahmad dan karunia Allah- kami berpegang teguh sampai akhir hayat kami,”.

Menurut Jusmansyah, dua kalimat syahadat ini merupakan pegangan yang betul-betul harus dipegang oleh kaum muslim Ahmadi bahkan sampai akhir hayat kami.

Hadrat Mirza Ghulam Ahmad beliau bersabda “Aku telah menekankan berulang kali bahwa kalian tidak boleh hanya cukup puas, kalau kalian cukup hanya umat Islam dan telah menyatakan laillahaillallah (Tidak ada yang patut disembah kecuali Allah).

Mereka yang telah mempelajari kitab suci Al-Quran tahu  jika Tuhan tidak puas hanya dengan sekedar ucapan saja. Al-Quran mengemukakan bagaimana umat Yahudi bagaimana mereka dikaruniai oleh Allah SWT oleh anugerah, karunia yang besar tetapi ketika mereka hanya berucap dimulut saja sedangkan hatinya menjadi penuh dengan kedengkian, keculasan serta fikiran-fikiran yang jahat kepada yang lainnya, maka Allah SWT lalu menimpakan berbagai azab kepada mereka. Sedemikian rupa sampai ada dari golongan mereka yang disebut oleh Allah SWT sebagai kera dan babi.

Maka oleh karena itu, muslim Ahmadiyah sebagai orang-orang yang mengaku sebagai umat Islam kemudian mengaku mengikrarkan dua kalimat syahadat tentunya ikrar tidak hanya sekedar dimulut saja tetapi lebih penting daripada itu amalan kita disesuaikan dengan ucapan.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed