by

Jurnalisme Keberagaman Mengikis Prasangka dan Bangun Pemahaman Antarsuku

Kabar Damai I Senin, 4 Oktober 2021

Pontianak I Kabardamai.id I Tiga puluh lima anggota dan pengurus Laskar Satuan Keluarga Madura (LSKM) berdiskusi tentang prasangka dan kerangka pemberitaan dalam pelatihan jurnalisme dasar untuk keberagaman, di Aula Rumah Dinas Wakil Wali Kota Pontianak, Sabtu (2/10/2021).

“Prasangka yang ada di kepala kita, bisa menggiring kita untuk membenci orang lain, curiga terhadap orang yang berbeda suku dan agama,” kata Dian Lestari, Koordinator Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) Kalbar, yang menjadi pemantik diskusi.

Dian mengingatkan bahwa prasangka adalah satu di antara penyebab konflik. Prasangka dapat menimbulkan diskriminasi, yaitu tindakan terhadap seseorang atau kelompok berdasarkan apa yang telah diyakini.

LSKM sebagai satu di antara beberapa lembaga etnis, menyelenggarakan pelatihan ini sebagai upaya turut mendukung upaya pemerintah dalam merawat toleransi dan keberagaman di Kalbar. LSKM merupakan lembaga yang berkomitmen dalam menjaga toleransi antar suku dan agama serta nilai-nilai Pancasila.

Baca Juga: Platform Inovasi AJI, Media Pelaporan Kasus Kekerasan Terhadap Jurnalis

Acara dibuka oleh Kepala Kesbangpol Kota Pontianak, Rizal S.Sos. “Kegiatan ini sangat positif, apalagi di era digital seperti sekarang ini. Kegiatan ini memberikan pengetahuan bagaimana jurnalis itu mengambil peran dalam situasi, terutama dalam situasi konflik. Peranan media saat ini sangat menentukan situasi bagaimana kita mengelola keberagaman terutama di Kota Pontianak, merawat keberagaman tidaklah mudah dan itu bukan hanya tugas ormas, pemerintah tapi tugas kita semua,” katanya.

Fokus Pada Persamaan

Dian memaparkan bahwa jurnalisme keberagaman pada praktiknya menyampaikan informasi kepada publik, agar menghilangkan prasangka dan membangun jembatan pemahaman antarmasyarakat. Jurnalisme keberagaman menolak diskriminasi etnis, ras, gender, dan agama serta menentang radikalisme, intoleransi, dan ekslusivisme.

“Pada praktiknya jurnalisme keberagaman, apabila dalam suatu kejadian konflik maka yang diambil bukanlah masalah perbedaan, melainkan persamaan,” ujar Dian.

Dia menjelaskan bahwa dalam jurnalisme keberagaman terdapat tiga prinsip, yaitu mengedukasi, berempaty dan mengadvokasi. Mengedukasi berarti media mampu memberikan informasi yang mendidik, valid dan mampu dipertanggungjawabkan memancing nalar kritis para pembaca. Menyajikan berita yang tidak mendiskriminasi korban ataupun keluarga, mengadvokasi berita yang ditulis mampu mendorong agar pemerintah segera mengambil sikap terhadap situasi yang tengah terjadi tanpa adanya pembedaan.

Selain itu kerangka pemberitaan jurnalisme keberagaman menginfokan terjadinya peristiwa kekerasan dan intoleransi, yang perlu mendapat perhatian pihak berwenang, Menyajikan berita berperspektif kritis-konstuktif terhadap radikalisme dan intoleransi, berempati pada korban, berpihak pada minoritas. Seringkali permasalahan satu orang lalu dibawa kepada permasalahan kelompok.

“Saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Kak Dian. Seringkali permasalahan satu orang lalu dibawa kepada permasalahn kelompok, dan memicu terjadinya konflik antar etnis,“ ujar Mubasyir, peserta pelatihan.

Menurut dia, masyarakat masih saling curiga lantaran konflik yang terjadi pada masa lalu belum terselesaikan dengan baik. “Kita perlu membuka ruang-ruang perjumpaan, baik itu antar etnis dan agama dan tentunya sebagai generasi muda. Kita harus menjadi media penyejuk, bukan malah menjadi orang yang ngomporin. Kita perlu menjaga keberagaman yang sudah ada di Kalbar ini,“ papar Mubasyir.

Peserta lainnya, Muhid, mengatakan bahwa konflik tidak akan pernah membawa kebaikan. Justru malah memberikan dampak buruk apalagi kalua konflik itu tidak mampu dikelola dengan baik.

Merespon hal-hal yang disampaikan oleh peserta, Dian menjelaskan bahwa media sosial turut mengambil peranan dalam memperkuat segregasi.  “Hari ini yang paling banyak berkuasa adalah media sosial. Maka perlu membuat narasi tandingan, bahwa tindakan seseorang bukanlah tindakan satu suku,” katanya.

Dian menggarisbawahi bahwa menghormati perbedaan adalah hal mendasar yang harus diterapkan.  Pada dasarnya semua orang ingin disayangi, dihormati, dan tidak mau di diskriminasi. “Perbedaan merupakan sunnatullah. Tuhan memang menciptakan kita berbeda-beda, supaya kita bisa saling mengenal dan menghormati satu sama lain,” tutup Dian. (*)

Penulis: Lulu Musyarofah, Anggota Bidang Perempuan LSKM

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed