by

Jiwa Yang Tertekan

Oleh: Pdt. DR (H.C) Elsen Tan M.Th (Ketua Sinode Gereja Reformed Kharimatik Indonesia)

Refleksi kali ini mengangkat tema tentang Jiwa Yang Tertekan. Dalam Mazmur 42: 6 disebutkan, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”

Ada seorang datang kepada psikolog untuk berkonsultasi. Orang ini mengeluh bahwa hidupnya sangat tertekan, penuh dengan goncangan. Kalau malam, dia tidak bisa tidur sehingga harus mengonsumsi obat tidur, makan tidak enak, dan masih banyak lagi yang dia keluhkan.

Dia ingin terlepas dari tekanan ini, agar dapat bersukacita, bebas dari rasa khawatir, cemas yang berlarut- larut, serta bebas dari macam-macam hal yang menekankan jiwanya.

Lalu apa jawaban psikolog terkenal itu? Dia menjawab, saya anjurkan supaya anda bergembira dalam hidup ini. Pergilah untuk menonton pertunjukkan komedi terkenal yang akan pentas malam ini. Pasti anda akan tertawa, perut anda akan tergoncang dan gembira serta anda akan mengeluarkan air mata bahagia.

Lalu orang itu menjawab, “tidak perlu”.  Psikolog itu bertanya heran, “loh kenapa?”. Karena komedian terkenal yang akan tampil malam ini adalah saya sendiri.

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan banyak orang yang mengalami tekanan jiwa. Ada orang yang terpaksa gembira dan bahagia, tetapi sebenarnya di dalam dirinya menyimpan dan menyembunyikan tekanan dalam jiwa. Dari mukanya tertawa tapi hatinya menangis (sedih).

Di saat pandemi ini, banyak yang menderita tekanan batin. Akibarnya, orang menjadi tidak bisa tidur, nafsu makan berkurang, makanan yang masuk ke mulut terasa hambar, pencernaan terganggu, lemah lesu, sakit kepala, keringan dingin.

Tekanan jiwa bukan hanya ada di zaman sekarang, tetapi sejak zaman dulu juga dialami banyak orang. Dalam Alkitab Yeremia Pasal 20 : 7-15 dijelaskan:

Ayat 7: Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku. Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok- olokkan aku.

Baca Juga: Membekali Generasi Millenial

Ayat 8: Sebab setiap kali aku berbicara, terpaksa aku berteriak, terpaksa berseru: “Kelaliman! Aniaya!” Sebab firman TUHAN telah menjadi cela dan cemooh bagiku, sepanjang hari.

Ayat 9: Tetapi apabila aku berpikir: “Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya”, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang  menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya,tetapi aku tidak sanggup.

Ayat 10: Aku telah mendengar bisikan banyak orang: “Kegentaran datang dari segala jurusan! Adukanlah dia! Kita mau mengadukan dia!” Semua orang sahabat karibku mengintai apakah aku tersandung jatuh: “Barangkali ia membiarkan dirinya dibujuk, sehingga kita dapat mengalahkan dia dan dapat melakukan pembalasan kita terhadap dia!”

Ayat 11: Tetapi TUHANmenyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apaapa. Mereka akan menjadi malu sekali, sebab mereka tidak berhasil, suatu noda yang selamalamanya tidak terlupakan!

Ayat 12: Ya TUHAN semesta alam, yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasanMu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.

Ayat 13: Menyanyilah untuk TUHAN, pujilah TUHAN! Sebab ia telah melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orangorang yang berbuat jahat.

Ayat 15: Terkutuklah orang yang membawa kabar kepada bapaku dengan mengatakan: “Seorang anak laki-laki telah dilahirkan bagimu!” yang membuat dia bersukacita dengan sangat.

Yeremia mengeluh: mengapa aku yang melayani dengan setia justru mengalami penderitaan? Mengapa aku harus terancam jiwa? Orang depresi pada umumnya menganggap dirinya adalah orang yang paling menderita dalam hidup ini, menganggap dirinya yang paling susah, inilah yang dialami oleh Nabi Yeremia.

Apabila kita bisa terlepas dari tekanan jiwa atau depresi, maka kita sungguh bahagia. Hidup kita penuh harapan, tawa, senyum yang tulus, dan di dalam rumah semua senang.

Maka, dalam Mazmur 42: 6 yang sudah ditulis pada bagian awal disebutkan, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! memberikan 4 hal yang harus kita lakukan agar kita terlepas dari depresi atau tekanan jiwa.”

Ada sejumlah pesan yang bisa kita ambil dari Mazmur 42: 6.
1. Berharap kepada Allah
Berharap kepada Allah berarti percaya penuh kepada Allah. Dalam Amsal pasal 3: 5 dan 6 disebutkan, Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri (Ayat 5). Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah kita lari kepada peramalperamal atau paranormal (Ayat 6).

Dalam Mazmur 37: 5 juga disebutkan,  Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak. Allah tidak pernah berdusta dengan apa yang dijanjikannya, maka Allah akan menepati janjinya dan menolong kita apabila kita sunggung-sungguh berharapnya.

Dalam Yesaya 41: 10 dijelaskan, Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.

2. Besyukur kepada Allah
Dalam 1 Tesalonika 5: 18 disebutkan, Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah didalam Kristus Yesus bagi kamu.

Apabila kita ingin ditolong Allah, kita harus bersyukur dulu dengan apa yang ada pada kita. Jika kita tidak bersyukur dulu dengan apa yang ada pada kita, kita akan mengalami depresi atau tekanan jiwa. Sebagai anak-anak Tuhan alangkah baiknya jika kita selalu berkata apapun yang aku miliki sekarang ini aku tetap bersyukur kepada Tuhan.

Kemampuan bersyukur kepada Tuhan, akan menolong kita melihat ke depan dan bukannya terus menerus melihat ke belakang hidup kita.Senantiasalah bersyukur dan itu akan membuat kita berfikir positif akan segala hal.

Mazmur 46 : 2, Kita harus percaya kepada Allah untuk menolong kita terhadap setiap persoalan yang kita hadapi.  Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.

1 Korintus 10 : 13: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaanpencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

Jika saudara tidak percaya bahwa Allah sanggup menolong, maka itu kerugian yang sangat besar. Kita harus percaya bahwa mukjizat masih ada sampai sekarang ini.

Mazmur 25 : 14, Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjianNya diberitahukanNya kepada mereka. Bergaullah dengan Allah dengan karib atau sangat dekat. Daud tidak pernah mengatakan Allah kami atau Allah mereka, Daud selalu berkata Allahku Tuhan saya.

Tuhan pasti menolong kita. Dia tidak akan membiarkan kita terus menerus dalam pergumulan. Apapun yang terjadi pada hidup kita, baik sebelum atau saat pandemi ini, marilah kita saat ini bebaskan hidup dari beban berat yang menekan. Marilah kita berharap kepada Allah dengan sepenuh hati, bersyukur kepada Allah. Kita percaya kepada Allah dengan sepenuh hati. Ingat, di luar Tuhan, semuanya sia-sia. Amin.

 

Pdt. DR (H.C) Elsen Tan M.Th (Ketua Sinode Gereja Reformed Kharimatik Indonesia)

Sumber: https://kemenag.go.id/read/jiwa-yang-tertekan-8nj6v

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed