by

Jilbab, Diskriminasi, dan Provokasi

-Opini-223 views

RA Gayatri WM

(Menanggapi status akun berinisial AS di medsos)

Pertama, diskriminasi dan provokasi terhadap fenomena NeoIslam dan PseudoIslam memang nyata. Akibat dari ulah kaum penganut NeoIslam maupun PseudoIslam, Islam-nya Muhammad Rasulullah mendapat serangan bertubi-tubi. Begitu juga Muhammad Rasulullah dan Alquran menerima serangan akibat dari ekspansi dan cara Manifest Destiny-nya kelompok NeoIslam dan PseudoIslam ini.

Kedua, diskriminasi dan provokasi terhadap perempuan Muslim maupun Non-Muslim yang tidak berjilbab, juga sangat nyata. Baik itu perempuan yang bekerja sebagai PNS/ASN, ibu rumah tangga, guru, dll. Baik itu merupakan tuntutan masyarakat secara informal, stigma, tekanan peer group, dll.

Ketiga, perempuan yang berhijab / berjilbab diidentikkan dengan sebagai Muslimah, padahal jilbab bukanlah busana Islam. Tidak ada yang namanya busana Islam. Yang ada dalam Alquran hanyalah busana takwa.

Selain itu, jilbab yang kini dipopulerkan sebagai busana menutup aurat menurut Alquran, dapat diperiksa menurut berbagai penemuan arkeologi, tidak cocok dengan pada masa Rasulullah abad ke-6 dan 7 M. Jilbab atau hijab yang dimaksud ialah busana seperti busana sari India yang masih dikenakan sampai hari ini, karena busana semacam itu lazim digunakan di empat peradaban / adidaya dunia saat itu: Hellenisme (Romawi-Yunani dan sekitarnya), India, Persia, dan Cina.

Jadi, memang keliru pula yang mengolok-olok hijab sebagai budaya Arab. Yang tepat seharusnya ialah mengkritik keras jilbabisasi atau hijabisasi maupun Arabisasi dalam segala bentuk. Begitu pula saya sebenarnya sangat tidak suka dan tidak setuju dengan segala olok-olok seperti bani taplak, memakai taplak, dan seterusnya, apalagi bila disampaikan oleh seorang yang berpendidikan, dan seorang yang berkegiatan di ranah pendidikan dan kesadaran publik.

Keempat, Imlek tidak hanya dirayakan oleh segelintir orang, tetapi juga kami Peranakan Muslim Cina merayakannya. Anda pikir di China tidak ada orang Muslim yang merayakan Imlek? Anda pikir Peranakan Cina Muslim tidak ada di Indonesia? Kami sudah ada sejak ratusan tahun di negeri ini. Yang Anda maksud budaya bangsa itu apa? Yang memaksakan suatu busana tertentu sebagai kewajiban agama Manifest Destiny Anda? Anda pikir dalam darah Anda tidak ada DNA Asia Timur yang merayakan Imlek? DNA Asia Timur ditemukan dalam hampir sebagian besar orang Indonesia di sebelah barat, hanya kurang pada masyarakat Melanesia di timur Indonesia.

Kelima, kalau Anda sedemikian membela kaum Muslim dan ajaran Islam agar dapat dipelihara dan dipraktekkan, tinggalkan agama model Manifest Destiny yaitu NeoIslam maupun PseudoIslam.

Muslim yang mengamalkan Islam-nya Muhammad, yang kaffah, yang melalui sampradaya dan parampara yang lurus, pasti tidak akan membela jilbabisasi maupun tidak akan menyudutkan budaya dan bangsa Cina, sebab ada banyak Muslim keturunan CIna, maupun ada banyak sekali perempuan perlu hidup sehat tanpa memakai jilbab sebagai busana keseharian.

Islam-nya Muhammad saw bukan agama Manifest Destiny, jadi teks-teks dalam Alquran tidak bermaksud untuk jilbabisasi sebagaimana ajaran dan dakwah dari kaum penganut NeoIslam dan PseudoIslam yang mewabah dan populer hari ini.

Siddhamastu,
Syekhah Hefzibah – RA Gayatri WM
Pendiri Generasi Hijrah Indonesis

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed