by

Jerman Disebut Belum Tangani Islamofobia dengan Baik

Kabar Damai I Minggu, 04 Juli 2021

Berlin I kabardamai.id I Kepala Dewan Islam Burhan Kesici yang berbasis di Berlin mengatakan pada Kamis (1/7) serangan Islamofobia semakin meningkat di Jerman. Namun, para politikus belum cukup berupaya untuk melawannya. Sejak penikaman Marwa El-Sherbini yang terjadi pada tahun 2009, serangan Islamofobia meningkat.

“Marwa El-Sherbini ditikam sampai meninggal oleh seorang pria yang dituduh melakukan kejahatan berdasarkan rasa kebencian atau anti-Muslim selama persidangan di Dresden,” kata Kesici, dikutip dari ihram.co.id (2/7).

Burhan menilai para politikus belum mengakui keberadaan Islamofobia di Jerman tapi menganggapnya sebagai bentuk xenofobia. Meskipun sebuah komisi dibentuk untuk memerangi sayap kanan, dia menyebut komisi itu selalu berusaha mencari kesalahan umat Islam saat insiden terjadi.

“Ada cukup serangan Islamofobia atau kekerasan terhadap Muslim di Jerman. Masyarakat Jerman juga tidak memperhatikan hal ini. Meskipun dari catatan polisi terjadi peningkatan kekerasan terhadap masjid kami, tempat ibadah dan wanita berjilbab, itu tidak diucapkan dalam masyarakat Jerman,” jelas dia.

Baca Juga: Anil Kumar, Pria Hindu yang Tulis Kaligrafi Alquran di 200 Masjid India

Dilansir ihram.co.id dari  Anadolu Agency, Jumat (2/7), Muslim tidak dianggap serius di Jerman dan akan ada tanggapan sosial yang jauh lebih besar jika orang-orang dari ras atau agama lain terkena insiden ini. Pemerintah mencoba untuk mencari solusi dari masalah ini. Namun, sampai sekarang tidak ada upaya yang serius.

“Kami menyadari beberapa bagian dari pemerintah mendukung kami. Saat kami berbicara, mengungkapkan suara kami, kami sadar ini tidak seperti yang kami harapkan,” tambah dia.

Burhan berharap para politikus tidak hanya mendengarkan suara para Muslim tapi ikut andil dalam memerangi Islamofobia serta memahami bahwa Muslim merupakan bagian dari masyarakat.

Menurut laporan kejahatan politik dari Kementerian Dalam Negeri Jerman dan Kantor Kriminal Federal, serangan Islamofobia pada tahun 2020 meningkat delapan persen dibandingkan tahun sebelumnya,. Total 1.026 kejahatan Islamofobia tercatat pada tahun 2020. Sementara untuk tahun sebelumnya, yaitu 950 pada 2019, 910 pada 2018 dan 1.075 pada 2017.

Memunculkan Kekhawatiran di Kalangan Muslim

Sebelumnya, Komunitas Muslim Turki-Jerman khawatir dengan meningkatnya kejahatan rasial islamofobia. Presiden Asosiasi Turki-Muslim IGMG, Kemal Ergun, mengatakan semakin banyak masjid menjadi sasaran ancaman, vandalisme, atau pembakaran dalam beberapa bulan terakhir.

“Sedikitnya 122 masjid menjadi sasaran serangan di tahun lalu,” kata Ergun dilansir dari Anadolu Agency, Selasa (5/1).

Bukan hanya itu, kata dia, masih ada puluhan masjid yang juga menerima banyak ancaman bom oleh neo-Nazi atau kelompok ekstremis lainnya. Hal ini memicu kekhawatiran di antara anggota komunitas.

“Kami meminta aparat kepolisian melakukan investigasi yang lebih efektif dan menangkap para pelaku penyerangan tersebut,” katanya.

Menurut Ergun, Muslim mengalami lebih banyak permusuhan dan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari karena meningkatnya prasangka anti-Muslim. Terutama kelompok Muslimah bercadar yang kerap kali memperoleh serangan verbal.

“Perempuan Muslim khususnya yang memakai jilbab sering dilecehkan secara verbal di jalanan, dan insiden penyerangan fisik dilaporkan juga meningkat,” ucapnya, dikutip dari republika.co.id (5/1).

Menurut angka resmi, polisi mencatat 632 kasus kejahatan Islamofobia di Jerman dari Januari hingga November 2020.

Ini termasuk penghinaan, surat ancaman, gangguan praktik keagamaan, serangan fisik dan perusakan properti.

Angka sebenarnya yang diyakini lebih tinggi, karena banyak korban tidak mengajukan pengaduan pidana ke polisi, sebagian besar karena ketidakpercayaan mereka pada penegak hukum.

Durmus Yildirim, ketua ATIB, salah satu organisasi Muslim Turki terbesar di Jerman, mengkritik politisi populis sayap kanan karena memicu kebencian dan diskriminasi terhadap imigran dan Muslim.

“Kami ingin mengakhiri retorika rasis dan populis ini, harus dilakukan upaya untuk hidup berdampingan secara damai,” kata Yildirim kepada Anadolu Agency, menyerukan sikap yang lebih kuat terhadap kebencian anti-Muslim dan anti-Turki.

Yildirim mengatakan komunitas Turki yang berpenduduk 3 juta orang di negara itu tidak akan menyerah pada ancaman dari kelompok dan partai sayap kanan.

“Kami bagian dari Eropa, kami tinggal bersama di sini. Generasi ketiga, keempat kami lahir dan besar di Jerman, negara itu juga menjadi tanah air kami,” ujar dia.

Sebagai negara berpenduduk lebih dari 80 juta orang, Jerman memiliki populasi Muslim terbesar kedua di Eropa Barat setelah Prancis.

Jurnalis Muslim Prancis Dapat Ancaman

Beberapa waktu lalu, seorang jurnalis Muslim Prancis , yang gencar mengkritik pemerintah atas kebijakan yang dia sebut “Islamofobia”, telah mendapat ancaman pembunuhan.

Dilansir dari sindonews, jurnalis bernama Nadiya Lazzouni tersebut juga menerima penghinaan, di mana dia dijuluki sebagai “pelacur Islam”, karena sikap kritisnya.

Nadiya kini meminta Presiden Emmanuel Macron untuk memberikan perlindungan terhadapnya karena ancaman pembunuhan itu dirasa sangat serius.

Jurnalis yang juga YouTuber tersebut menjadi populer karena memperdebatkan politisi konservatif di televisi dan menentang larangan jilbab di negara tersebut.

Nadiya mengatakan kepada saluran BFM TV,yang dilansir Minggu, 11 April 2021,bahwa dia menghubungi administrasi Macron dan telah meminta perlindungan. [ihram/republika/suara.com/sindonews]

 

Penyunting: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed