Jelang Pemilu, Pemerintah Tegaskan Larangan Kampanye di Rumah Ibadah

Kabar Utama304 Views
Oleh : Nadiyya Dinar Ambarwati
Menjelang 2024, Indonesia akan dihadapkan dengan pesta demokrasi yang merupakan momentum paling sakral bagi seluruh warganya. Momen ini dianggap sebagai keunikan tersendiri bagi Indonesia, karena dapat menyelenggarakan Pemilihan Umum (pemilu) secara serentak di seluruh wilayah sekaligus.
Setiap kandidat calon berlomba-lomba dalam mengomunikasikan pelbagai programnya sesuai visi dan misi yang telah ditentukannya. Bahkan pada masa kampanye, pemandangan jalan dihiasi penuh oleh pemasangan baliho dan spanduk.
Selain itu, prosesi kampanye tidak sampai dalam ruang terbuka saja, melainkan hingga ranah rumah ibadah. Hal ini tentu sebagai ladang untuk meraup simpati dan suara, khususnya di kalangan tokoh pemuka agama. Kampanye melalui rumah ibadah dianggap sebagai jalan yang efektif dan praktis, dalam mengoptimalkan komunikasi dari masing-masing kandidat calon terhadap masyarakat. Mengenai persoalan ini, terdapat kontroversi di jajaran kalangan para pemuka agama. Mereka menilai bahwa kampanye yang dilaksanakan di rumah ibadah itu dapat menuai polemik.
Bahkan, pada pertengahan Januari kemarin, tokoh lintas agama bersepakat untuk tidak gunakan rumah ibadah sebagai ajang kampanye. Kesepakatan itu tertuang dalam Deklarasi Damai Umat Beragama yang bertepatan dengan pegelaran acara Hari Amal Bhakti (HAB) ke-77 Kemenag. Salah satu isi dari naskah deklarasi tersebut menyebutkan, “Berkomitmen untuk tidak menggunakan rumah ibadah sebagai tempat kampanye atau aktivitas politik praktis sebagaimana laranagan yang tertuang dalam Undang-undang Pemilu.”
Dari pernyataan larangan tersebut, menegaskan bahwa rumah ibadah bukanlah panggungnya dunia perpolitikan. Rumah ibadah cukuplah dijadikan sebagai tempat dan sarana ibadah khayalak semestinya. Jika prosesi kampanye terus dilakukan di ruang lingkup rumah ibadah, tentu tidak menutup kemungkinan dapat memicu terjadinya perpecahan di kalangan masyarakat, sehingga menimbulkan pelbagai ujaran kebencian.
Penulis: Nadiyya Dinar Ambarwati, Mahasiswa SAA UIN Jakarta Angkatan 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *