by

Jejak Merah Putih di Lapangan Bulu Tangkis Olimpiade

Kabar Damai I Selasa, 10 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I Tujuh dari delapan medali emas dari pebulu tangkis Indonesia pada Olimpiade, dipersembahkan di bulan Agustus. Bagaikan kado teramat istimewa bagi perayaan kemerdekaan.

Bulu tangkis sejatinya sudah diperkenalkan jauh sebelum Olimpiade Barcelona 1992. Tepatnya ketika pesta olahraga multicabang terbesar di dunia itu digelar di Munich, Jerman, pada 1972 silam. Kala itu bulu tangkis statusnya hanya sebagai cabang olahraga ekshibisi, artinya tetap dilombakan hanya saja medali yang diperoleh tidak dihitung ke dalam klasemen perolehan medali.

Keberhasilan menjadikan olahraga, yang pertama kali diciptakan para prajurit Inggris yang bertugas di Pune, India, pada abad ke-19 untuk dimainkan di Olimpiade Munich 1972, tak lepas dari peran dua tokoh asal Indonesia. Mereka adalah Sudirman dan Suharso Suhandinata yang kemudian dikenal sebagai bapak bulu tangkis Indonesia dan dunia.

Laga ekshibisi di Munich diikuti 25 atlet dari 11 negara dan mempertandingkan empat nomor yaitu tunggal putra-putri, ganda putra, dan ganda campuran. Indonesia saat itu menurunkan para pemain kelas dunia. Mereka termasuk para juara All England, turnamen bulu tangkis tertua di dunia yang sudah digelar sejak 1899 dan menjadi barometer penting prestasi pebulu tangkis selain Olimpiade.

Ada nama Rudy Hartono, di mana ketika berlomba di Munich baru tujuh bulan sebelumnya menyabet gelar juara tunggal putra All England untuk kelima kalinya. Maestro bulu tangkis dunia ini tercatat sebagai peraih delapan gelar All England, di mana tujuh di antaranya ia rebut secara beruntun pada 1968-1974 dan gelar lainnya diraih pada 1976.

Terdapat pula nama Utami Dewi, adik kandung Rudy Hartono. Dewi saat itu adalah tunggal putri terbaik yang dimiliki Indonesia dan setahun sebelum ikut ke Munich, ia sempat menyabet titel juara Kejuaraan Asia di Jakarta, Agustus 1971. Indonesia juga mengirim pasangan Christian Hadinata dan Ade Candra untuk bertempur di nomor ganda putra. Seperti juga Rudy, Christian/Ade juga baru merebut titel All England 1972.

Baca Juga: Menilik Deretan Prestasi Greysia Polii dan Apriyani Rahayu

Pada penampilan perdana itu, Rudy dan kawan-kawan mencetak hasil gemilang. Rudy dan Christian/Ade keluar sebagai juara diikuti Utami Dewi sebagai runner-uptunggal putri. Di ganda campuran, Christian yang berpasangan dengan Utami menjadi juara ketiga. Total, Indonesia menyabet 2 emas, 1 perak, dan 1 perunggu. Hasil di Munich meski tidak diperhitungkan dalam klasemen perolehan medali sudah menegaskan bahwa Indonesia merupakan kekuatan utama bulu tangkis dunia.

Rudy berhasil meneguhkan kedigjayaannya atas Svend Pri dari Denmark di partai final. Rudy-Svend Pri merupakan musuh bebuyutan di arena pertandingan terutama dalam ajang All England di mana mereka saling mengalahkan. Rudy mampu menjinakkan Svend pada partai final All England 1970 dan 1972. Pada 1975 giliran Svend yang menumbangkan Rudy dan kemudian Rudy membalasnya pada 1976.

Bulu tangkis kembali dilombakan sebagai cabang olahraga ekshibisi pada Olimpiade Seoul 1988 dengan lima nomor termasuk tambahan ganda putri. Di Seoul, cabang ini diikuti atlet-atlet dari sembilan negara. Saat itu Tiongkok dan Korea Selatan telah muncul sebagai kekuatan baru bulu tangkis dunia. Mereka berbagi emas, tiga diborong Korsel dan sisanya diboyong Tiongkok. Indonesia hanya disisakan sekeping perak yang diraih Icuk Sugiarto, juara dunia 1983.

Tradisi Emas Olimpiade
Sejak bulu tangkis dilombakan secara resmi sebagai cabang yang memperebutkan medali pada Olimpiade Barcelona 1992 hingga Olimpiade Tokyo 2020, kontingen Merah Putih telah mengumpulkan 21 medali terdiri dari 8 emas, 6 perak, dan 7 perunggu. Ratu bulu tangkis dunia Susy Susanti tercatat sebagai penyumbang emas pertama Olimpiade untuk Merah Putih dari nomor tunggal putri. Ganda putri Greysia Polii dan Apriyani Rahayu pun tak ingin ketinggalan.

Greysia/Apriyani, srikandi-srikandi tangguh asal tanah Sulawesi, menjaga tradisi emas Indonesia dari cabang bulu tangkis Olimpiade. Greys dan Apri, begitu rekan-rekannya biasa memanggil, sukses merontokkan perjuangan salah satu ganda terkuat dunia, Chen Qingchen/Jia Yifan pada partai final nomor ganda putri Olimpiade Tokyo 2020.

Pada duel yang digelar di Musashino Forest Sport Plaza, Senin (2/8/2021), Greysia/Apriyani yang tampil di Tokyo sebagai ganda nonunggulan menggulung unggulan kedua asal Tiongkok dengan dua set, 21-19, 21-15. Hasil ini membuat Greysia/Apriyani tercatat sebagai ganda putri pertama Indonesia yang mampu meraih emas Olimpiade.

Kedua atlet yang berasal dari Perkumpulan Bulu Tangkis (PB) Jaya Raya itu juga mencetak sejarah baru. Lantaran membawa Indonesia sebagai negara kedua di dunia yang mampu mengumpulkan emas dari seluruh nomor yang dilombakan (tunggal putra, tunggal putri, ganda putra dan ganda putri, ganda campuran) pada cabang bulu tangkis.

Tiongkok menjadi negara pertama di dunia yang mampu mengawinkan ke-20 emas mereka dari seluruh nomor. Uniknya, Indonesia dan Tiongkok pernah sama-sama gagal merebut emas pada salah satu ajang Olimpiade. Tiongkok mengalaminya ketika Olimpiade Barcelona 1992 dan Indonesia saat Olimpiade London 2012.

Sukses besar kedua srikandi beda usia 10 tahun itu terasa semakin istimewa karena menjadi kado bagi perayaan kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2021. Seperti sebuah kebetulan, 7 dari 8 emas yang pernah dipersembahkan para pebulu tangkis Merah Putih mereka ciptakan pada bulan kemerdekaan. Greys pun mencetak sejarah pribadi, memberi kado ulang tahun paling istimewa kepada dirinya sendiri lantaran akan memasuki usia 34 tahun pada 11 Agustus nanti.

Peran Penting Tim Pelatih
Tak dapat dipungkiri, di balik kesuksesan para pahlawan olahraga Indonesia yang tampil di Olimpiade Tokyo 2020 dan menyumbangkan medali, ada peran penting tim pelatih. Tangan dingin pelatih bulu tangkis Eng Hian sukses mengantarkan ganda putri Greysia Polii dan Apriyani Rahayu merebut dan mempertahankan tradisi medali emas dari cabang bulu tangkis Olimpiade.

Seperti juga Greysia/Apriyani, Eng Hian adalah seorang olimpian, sebutan bagi atlet yang pernah berlomba di Olimpiade. Bersama Flandy Limpele, Eng Hian yang lahir di Solo, 17 Mei 1977 pernah merebut perunggu ganda putra bagi Merah Putih pada Olimpiade Athena 2004.

Para pelatih asal Indonesia dikenal memiliki kualitas melatih tingkat tinggi di samping pernah berpengalaman sebagai pemain, berlaga di tingkat internasional. Kondisi ini membuat kemampuan mereka banyak diperlukan untuk membantu meningkatkan kualitas permainan atlet-atlet bulu tangkis di sejumlah negara.

Tak sedikit dari mereka yang didaulat sebagai pelatih kepala dan sukses mengantarkan anak-anak asuhnya lolos ke Olimpiade dan merebut medali. Nama pertama yang layak disebut adalah Rexy Mainaky, perebut emas nomor ganda putra bersama Ricky Subagja pada Olimpiade Atlanta 1996.

Kakak kandung Rionny Mainaky, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI saat ini, dikenal sebagai pelatih yang sukses memperbaiki prestasi tim nasional (timnas) beberapa negara. Ketika menjadi pelatih kepala timnas Inggris era 2001-2005, pria kelahiran Ternate, 9 Maret 1968 itu berhasil membawa ganda campuran Nathan Robertson/Gail Emms merebut perak Olimpiade Athena 2004. Sang adik pun saat melatih sektor ganda putri timnas Jepang berperan mengantarkan Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi, meraih emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Setelah dari Inggris, Rexy menangani timnas Malaysia pada 2005-2012. Tangan dingin legenda Perkumpulan Bulu Tangkis (PB) Tangkas itu nyaris membuat ganda putra Koo Kien Keat/Tan Boon Heong merebut perunggu Olimpiade London 2012. Di semifinal, Keat/Heong dihentikan ganda Korea Selatan, Jung Jae-sung/Lee Yong-dae.

Usai Olimpiade London 2012 itu, Rexy sempat melatih di Filipina. Hanya setahun di Manila, ia diminta pulang ke tanah air oleh ketua umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) saat itu, Gita Wirjawan.

Diberi jabatan Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi, Rexy mendapat tugas khusus mengembalikan tradisi emas yang terputus di Olimpiade London 2012. Ia pun menjawabnya dengan torehan emas anak asuhnya, ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Petualangan pria humoris ini kemudian berlanjut. Pada awal 2017, ia diminta Asosiasi Bulu Tangkis Thailand (Badminton Associaton of Thailand/BAT) sebagai pelatih kepala timnas Thailand. Sayang, anak-anak asuhnya belum mampu merebut sekeping pun medali Olimpiade Tokyo 2020.

Gagal Rebut Medali
Masih ada nama Hendrawan, perebut perak Olimpiade Sydney 2000. Sejak 2009, diminta Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM) untuk melatih para pemain tunggal putra dan putri. Hendrawan menjadi sosok yang membantu Lee Chong Wei merebut perak tunggal putra Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Hendrawan sebagai pelatih kepala dibantu dua mantan pemain nasional Indonesia, Paulus Firman dan Flandy Limpele.

Paulus bergabung pada 2018, bertugas memoles ganda campuran. Flandy yang bergabung sejak 2020 setelah melatih timnas India adalah perebut perunggu ganda putra Olimpiade Athena 2004 saat berpasangan dengan Eng Hian.

Di Olimpiade Tokyo 2020, langkah anak asuhan Hendrawan yaitu Lee Zii Jia terhenti di babak 16 besar. Nasib serupa dialami Paulus ketika duet asuhannya, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying hanya menjadi juru kunci babak penyisihan Grup D.

Soon/Ying tak mampu mengulangi sukses ketika merebut perak ganda campuran di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Sebaliknya, Flandy mampu membawa ganda putra Aaron Chia/Soh Wooi Yik merebut perunggu Olimpiade Tokyo 2020.

Di timnas Singapura ada nama besar Mulyo Handoyo. Ia menjabat kepala pelatih dibantu dua mantan pemain nasional Indonesia, Pribadi Setia Atmaja dan Nunung Wibiyanto. Anak asuhnya, tunggal putra Loh Kean Yew dan tunggal putri Yeo Jia Min lolos ke Olimpiade Tokyo 2020, namun gagal pada penyisihan grup.

Coach Mulyo adalah sosok di balik sukses Taufik Hidayat merebut juara Olimpiade Athena 2004. Pelatih berusia 64 tahun itu pernah menukangi sektor tunggal di timnas India selama dua tahun, Desember 2016-Januari 2018.

Asosiasi Bulu Tangkis India (BAI) juga memakai jasa pelatih asal Indonesia, Namrih Suroto dan Dwi Kristiawan. Keduanya ditugasi untuk memoles ganda putra terbaik India, Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty. Sayang, di Olimpiade Tokyo 2020, anak asuh Namrih dan Dwi itu gagal menembus babak penyisihan grup.

Di daratan Eropa, keahlian pelatih-pelatih asal Indonesia juga sangat diperlukan. Mengutip www.badmintonasia.org, tercatat ada sejumlah nama yang melatih di benua Biru tersebut. Mereka adalah Imam Teguh Santoso yang melatih timnas Finlandia, Davis Efraim (pelatih Irlandia), Didi Purwanto (Hungaria), dan Indra Bagus Ade Candra (Belgia). Mereka umumnya sudah berpengalaman sebagai pelatih kepala di sejumlah negara Eropa. Davis Efraim,misalnya, melansir laman situs Asosiasi Bulu Tangkis Irlandia, disebut pernah menjadi pelatih kepala di Swiss, Polandia, dan Belanda.

Beruntung bagi Teguh Santoso dan Indra Bagus karena sukses meloloskan anak-anak asuh mereka ke Olimpiade. Teguh berhasil mengantarkan tunggal putra Kalle Koljonen lolos Olimpiade Tokyo 2020. Begitu juga Indra Bagus yang melapangkan jalan tunggal putri Lianne Tan tampil ketiga kalinya sebagai olimpian setelah di Olimpiade London 2012 dan Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Sayangnya Koljonen dan Lianne gagal menembus babak penyisihan.

Kejutan dari Guatemala
Dari kawasan Amerika Tengah muncul nama Muammar Qadafi, mantan atlet taruna hasil binaan PB Djarum di Kudus, Jawa Tengah. Pria kelahiran Solo, 30 Oktober 1981 ini merupakan pelatih untuk timnas Guatemala. Ia bertugas memoles dua pebulu tangkis veteran tunggal putra Kevin Cordon dan tunggal putri Nikte Sotomayor.

Guatemala tidak asing baginya karena pernah dua periode melatih di negara pusat peradaban suku Maya yang terkenal. “Periode pertama dari 2009 hingga 2010. Periode kedua dari 2017 sampai sekarang,” kata Qadafi, seperti dikutip dari www.badmintonasia.org. Peru menjadi negara pertama tujuannya melatih pada 2005, setelah pelatih utama mereka asal Tiongkok mundur.

Qadafi menghabiskan karier kepelatihannya di Peru selama 3,5 tahun dan menelurkan banyak bibit baru yang menguasai pelbagai turnamen di Amerika Latin. Ia kemudian menerima pinangan melatih timnas Guatemala. Ia hanya bertahan setahun saja di Guatemala karena pada 2010 memilih mundur dan meneruskan karier melatih di Meksiko serta Ekuador sebelum kembali ke Peru. Tak lama di Peru, ia memilih pulang ke Guatemala dan bersama sejawat lokal, Jose Maria Solis menyiapkan atlet untuk menembus Olimpiade Tokyo 2020.

Di tengah persiapan, Cordon dan Sotomayor bersama Qadafi terpaksa berlatih di aula Gereja San Francesco d’Assisi. Ini lantaran gelanggang olahraga tempatnya berlatih di Kota La Union, Zacapa, digunakan sebagai rumah sakit darurat Covid-19. Beruntung pihak paroki membantu biaya tagihan listrik aula tempat Cordon dan Sotomayor berlatih.

“Suatu hari saya dan pelatih sedang berjalan mencari lokasi latihan. Saya menemukan sebuah tempat dengan ukuran lapangan mirip dengan tempat kami berlatih sebelumnya termasuk pencahayaan ruangan, tinggi langit-langit dan ukuran gedung,” katanya seperi diberitakan ESPN Digital.

Akhirnya, Cordon dan Sotomayor berhasil menjadi olimpian berkat menembus Olimpiade Tokyo 2020. Bagi Cordon, ini adalah keempat kalinya ia menjadi olimpian sejak Olimpiade Beijing 2008. Sotomayor terhenti perjuangannya di babak eliminasi Grup F. Kondisi sebaliknya justru terjadi pada Cordon yang 28 November tahun ini menginjak usia 34 tahun. Ketika para pemain seumurnya memilih gantung raket, Cordon justru sedang dalam kondisi puncak.

Qadafi sukses membawa anak asuhnya hingga menembus partai semifinal, sesuatu yang belum pernah dicapai oleh pebulu tangkis benua Amerika dalam Olimpiade. Lalu apa rahasianya bisa sampai ke semifinal?

“Anda pernah membayangkan saya sampai di semifinal? Ini sesuatu yang luar biasa dan saya bermain lepas, seperti anak kecil yang selalu ceria,” katanya seperti dikutip dari situs resmi Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).

Sayang, langkahnya menuju final kandas di tangan raksasa Denmark, Viktor Axelsen. Axelsen yang bertinggi badan 195 sentimeter kemudian merebut emas setelah mengalahkan juara bertahan Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Chen Long asal Tiongkok.

Dalam upaya memburu perunggu untuk dipersembahkan kepada Guatemala, Cordon harus menghadapi pemain terbaik Merah Putih, Anthony Sinisuka Ginting. Dewi fortuna belum berpihak kepada Cordon dan perunggu pun menjadi milik Anthony.

Cordon gagal menyumbang medali kedua bagi Guatemala sejak mereka ikut pertama kali di Olimpiade Helsinki 1952. Medali semata wayang Guatemala disumbangkan atlet jalan cepat Erick Barrondo lewat perak cabang atletik nomor 20 kilometer jalan cepat Olimpiade London 2012.

Meskipun gagal mengantar Cordon menggapai perunggu, Qadafi tetap bersyukur karena sebuah pencapaian sangat penting telah ia lakukan dalam karier kepelatihannya. Anak asuhnya pun disanjung negaranya sebagai pahlawan baru bulu tangkis Amerika Latin.

Ia mengaku kontraknya sebagai pelatih Guatemala telah berakhir sebelum berangkat ke Tokyo. Sejumlah negara sudah mengontaknya meminta untuk melatih, termasuk dari Ukraina. Tetapi ia memilih pulang kampung, berkumpul dengan keluarga kecilnya di Yogyakarta usai Olimpiade Tokyo 2020. [Indonesia.go.id]

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed