by

Isra Mi’raj Kado Spiritualitas – Diperingati atau Dialami?

Kabar Damai I Rabu, 10 Maret 2021

 

Yusuf Daud

 

Ajaran agama dapat didekati dengan berbagai metode pendekatan, seperti pendekatan tekstual, kontekstual, hermeneutik, sejarah, Fenomenologi, dan lain –  lain.  Pada tataran norma keagamaan, ajaran agama dapat didekati dari dimensi eksoterik dan esoteriknya.

Pendekatan esoterik adalah upaya untuk melihat agama secara mendasar dengan mengkaji hakikat yang dikandung oleh ajaran agama tersebut. Kalau pendekatan eksoterik lebih banyak menyoroti dimensi formalitas ajaran agama, maka pendekatan esoterik lebih banyak menyoroti makna dan inti suatu ajaran agama. Seumpama ajaran tentang shalat dalam agama Islam, pendekatan eksoterik lebih terfokus untuk melihat sah atau tidaknya pelaksanaan ibadah shalat.

Dalam hal ini, yang menjadi fokus perhatian adalah syarat dan rukun  (elemen-elemen) yang menjadi bangunan ibadah shalat secara lahir. Sehingga dengan terpenuhinya syarat dan rukun itu, maka ibadah shalat disebut sempurna dan dipandang sah secara formal. Dengan demikian, kewajiban Muslim sudah dipandang telah tertunaikan.

Akan tetapi , apakah shalat yang secara formal telah diselesaikan itu telah mencapai tujuan pokok perintah shalat ? Dirikan lah shalat untuk mengingat – Ku/Tuhan  (QS Thaha : 14).  Apakah  mungkin hanya dengan memenuhi syarat-syarat dan rukun shalat itu saja shalat telah dapat mengantarkan seseorang terbebas dari segala bentuk perbuatan keji dan munkar – sebagaimana diungkapkan dalam Kitab Suci? Bukankah banyak kita saksikan orang yang melakukan shalat juga melakukan perbuatan tercela? Korupsi misalnya.

Pertanyaan – pertanyaan di atas mesti nya menggelitik kita untuk merenung kembali bahwa pendekatan ajaran-ajaran agama yang hanya melalui pendekatan eksoterik semata ternyata tidak sepenuhnya bisa mengantarkan kita kepada inti Keberagamaan yang mendalam.

Pendekatan esoterik adalah dimensi lain dari pendekatan Keberagamaan . Yang menjadi fokus pendekatan esoterik adalah menyangkut hakikat, makna, dan tujuan pokok ajaran agama, atau apa yang menjadi substansi ajaran agama. Dalam Alquran , Tuhan menerangkan dalam (QS. Al-Hadid ayat 3)  bahwa diri – Nya adalah  al – Zhahir (Yang Lahir dan Nyata  dan al – Bathin (Yang Bathin). Oleh sebab itu, Jika alam semesta yang menjadi alamat dari nama – nama dan sifat – sifat Nya, maka alam ini pun terdiri atas lahir dan bathin.

Dengan demikian, hidup lahiriah berarti memperoleh eksistensi, yang dengan itu benda-benda memiliki wujud. Akan tetapi, memfokuskan diri pada wujud lahir semata berarti pengingkaran terhadap kodrat manusia yang sesungguhnya, karena pada yang batin lah tersimpan makna-makna dan prinsip-prinsip kehidupan yang sebenarnya. Oleh sebab itu , ketika kita hanya memfokuskan diri kepada yang lahir, maka tidak ada yang kita dapatkan kecuali dunia keberagaman yang tak habis-habisnya.

Sebaliknya, ketika kita masuk ke dalam relung batin , niscaya kita akan mendapatkan inti dari dunia yang serba aneka dalam satu hakikat. Pengetahuan esoterik membawa kita ke arah yang maknawi dan sekaligus ke prinsip dan Pusat segala sesuatu, sehingga mencapai Pusat Yang Transenden sekaligus Imanen. Yang Agung sekaligus Anggun. Jamaliyah- Jalaliyah, the Beauty and Majesty.

Melihat ajaran agama pada dimensi eksoteriknya yang beragam berarti kita melihat eksistensi keberagamaan dalam penampilannya yang warna – warni. Bahkan , semakin jauh kita memasuki relung-relung keragaman itu , niscaya kita akan mendapatkan aneka ragam yang lebih banyak lagi, dan itulah realitas keberagamaan yang kita saksikan . Tanpa realitas demikian, keberagamaan tidak memiliki wujud sama sekali. Dan Jika keberagaman tanpa wujud, itu adalah sesuatu yang absurd. Sebaliknya, Jika kita melihat dimensi esoterik, maka yang kita rasa kan adalah makna beragamaan yang demikian luas dan kaya. Dalam nya tak terukur dan luas nya tak bertepi.

Lantas, bagaimana mengungkap misteri peristiwa agung perjalanan Isra Mi’raj Nabi

Muhammad yang setiap tahun di bulan Rajab diperingati? Dialami atau sekedar diteladani ?

Apakah peristiwa Isra Mi’raj benar-benar terjadi? Apa makna penting peristiwa tersebut bagi umat manusia, khususnya bagi kaum muslimin? Dan mengapa Nabi Muhammad saw harus di Isra Mi’rajkan? Ketika Rosul Muhammad saw bersabda mengenai shalat ” Shalatlah kalian semua sebagaimana kalian melihat aku (Muhammad saw) shalat ”

صلوا كما رايتمني اصلي

dan sabdanya yang lain

الصلا ة معرج المؤمنين

” Shalat itu Mi’raj nya orang beriman ” menunjukan bahwa kedua sabdanya ini merupakan pengalaman hidup yang wajib diamalkan bagi siapapun mereka yang mau mengikuti ” uswatun hasanah ” menteladani junjungan Nabi besar Muhammad saw.

Sebelum manusia mengalami kematian, manusia semestinya mampu mencapai Terang Sejati tanpa tersentuh api, yang dapat menerangi pandangan qolbunya untuk berjalan kembali ke Negeri Asalnya (Home Sweet Home, Baitii Jannatii, Rumahku Surga-ku). Pencapaian Terang Sejati itu adalah di “Sidratul Muntaha” (QS 53:13 – 14), لقد راه نزلة اخرى  – عند سد رة المنتهى

Di Puncak Kesadarannya yang Tertinggi inilah Nabi Muhammad mengalami Isra Mi’raj yang merupakan peristiwa paling fenomenal dalam sejarah hidupnya, Perjalanan ke dalam diri Sejati. Dimana Rosulullah menempuh Perjalanan fisik dan spiritualnya untuk bertemu langsung dengan Allah. Oleh karena itu ia melewati Langit-langit kesadarannya, dari langit pertama sampai langit ke tujuh.

Baca Juga: Yusuf Daud: Cinta itu Menyentuh Ruh, Bukan Menyentuh Tubuh

Langit Kesadaran Adam, Langit Kesadaran

Yahya dan Isa, Langit Kesadaran Yusuf, Langit Kesadaran Idris, Langit Kesadaran Harun, Langit Kesadaran Musa dan Langit Kesadaran Ibrahim. Dengan demikian hidupnya akan selamat baik di dunia dan akhirat kelak.

Isra Mi’raj merupakan “kado spiritualitas” yang sangat istimewa berupa perjalanan ke dalam Diri Sejati. Mi’raj tidak diartikan perjalanan Nabi ke luar angkasa  (langit yang berlapis-lapis), tetapi perjalanan ke dalam lubuk hati yang paling dalam dimana ia menemukan dirinya berada dalam “kehadiran Tuhan”,  bahkan seorang Sufi besar  Ibn Arabi dalam kitab Futuhat Al-Makiyah  mengatakan bahwa Mi’raj dalam pengertian meruang (spatial) tidak akan pernah terjadi. Bagaimana mungkin padahal Tuhan Ada (selalu hadir) di mana saja dan kapan saja melampaui ruang dan waktu.

  1. Memasuki langit PERTAMA yaitu langit

kesadaran Adam berarti menyadari akan ketiadaan. Segala sesuatu yang bersifat jasmani, materi, adalah ketiadaan. Memasuki kesadaran adam berarti menyadari bahwa dibalik jasmani ada sesuatu yg kekal, ada suatu keabadian. Segala yang bersifat materi akan hancur, sedangkan yang dibalik jasmani atau ruhani akan kekal.

كل شيئ هالك الا وجهه

  1. Memasuki langit KEDUA kesadaran Yahya berarti menyadari bahwa kehidupan yang sesunguhnya adalah kehidupan yang tak pernah tertimpa kematian, yaitu kehidupan ruhani. Alam materi akan hancur namun alam ruhani akan tetap hidup. Memasuki kesadaran Yahya berarti menyadari akan kehidupan ruhani yang kekal abadi seabadi Ilahi. Memasuki kesadaran Yahya berarti hidup tidak melulu fokus pada urusan materi, tetapi memiliki kesadaran bahwa dibalik materi ada enerji. Dibalik jasmani ada ruhani. Dibalik ketiadaan ada kekekalan.
  2. Memasuki kesadaran Yahya berarti mengikuti suara Rosul sejati yg ada di dalam dirinya , yang selalu Sidiq, Amanah, Fathonah dan Tabligh. Memasuki Kesadaran Yahya berarti mengalir kan Al Asma’ul Husna menjadi aliran darah dan perilaku kita. Dalam kesadaran ini berarti tidak memihak , selalu berlaku adil dan bijaksana. Sehingga siapapun yang menerima keputusannya terhadap sesuatu yang diperselisihkan akan dapat menerima dengan sepenuh hatinya sebagaimana yang difirmankan Allah:

فلا و ربك  لا يؤمنون حتى يحكموك  فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا  في انفسهم  حرجا مما قضيت  و يسلموا  تسليما

Maka demi Tuhan mu, mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan , dan mereka menerima dgn sepenuhnya (QS: 4 An Nisa 65).

  1. Langit KETIGA Kesadaran Yusuf berarti memasuki alam keindahan karena sudah mampu melihat dualitas dunia ini sebagai sesuatu yg indah. Berada pada tingkat kesadaran ketiga ini jiwa, pikiran, sudah mulai tenang dan damai. Jiwa sudah tidak terombang-ambing lagi oleh dualitas dunia yang selalu pasang surut.

Manusia yang sudah berada pada kesadaran ini akan memahami mawar berduri dan melati semerbak wangi semuanya indah. Kebun kehidupannya selalu disirami dengan pikiran dan enerji positif. Dadanya sudah lapang. Sudah merasa cukup dengan Tuhan saja. Hidupnya sudah merdeka baik jiwa , raga pun pikirannya. Hidup tidak bergantung pada apa dan siapapun namun bergantung hanya kepada Tuhan.

Memasuki kesadaran Yusuf berarti mengubah pola-pola pikiran yang tidak sehat , menjadi pikiran yang sehat dan produktif. Mengubah pikiran negatif, ruwet, dan tidak produktif menjadi pikiran yang positif, lapang dan indah. Pikiran yang selalu positif dan tenang bukan saja berdampak pada peningkatan kualitas spiritual, tetapi jugs berpengaruh terhadap peningkatan kesehatan jasmani kita.

Memasuki kesadaran Yusuf berarti menerima apapun yang menimpa dirinya sebagai bagian dari cara Allah yang terbaik untuk meningkatkan kesadaran spiritual nya. Memasuki kesadaran Yusuf berarti sudah mampu melihat segala peristiwa yang menimpa dirinya sebagai bagian dari tindakan Allah untuk memperindah dan mempercantik perangai bathin nya di hadapan Allah.

 

Untuk dapat melewati keadaan seperti ini kuncinya adalah sabar.

SABAR ada 5 macam. Sabar dalam ibadah dengan menyempurnakan ibadahnya melalui ilmu Ma’rifat, hakikat, thariqat dan syariat. Ibadahnya tidak sekedar upacara jasmani, tapi melibatkan ruhani atau spiritual. Sehingga ibadahnya sampai pada kualitas rasa, hingga waktu ibadah menjadi sesuatu yg indah dan ditunggu tunggu kehadirannya.

Sabar dalam musibah (Ashobru ‘indal musibah) selalu berpikir positif terhadap musibah, sebagai cara Allah untuk meningkatkan keimanan dirinya. Musibah sebagai cara Allah untuk mengantarkan nya pada kesucian jiwa, agar jiwa, pikiran dan akalnya tidak terkotori oleh kotoran duniawi .

Sabar dalam kehidupan dunia (Ashobru ‘anid dunya ) , selalu bersikap sama terhadap dualitas dunia yang dihadapinya.

Sabar dalam maksiat (Ashobru ‘anil ma’shiah). Selalu mampu mengendalikan dirinya dan orang lain untuk tidak melakukan maksiat.

Sabar dalam Perjuangan (Ashobru fi Jihad) . Selalu menyadari bahwa tugas manusia hanya ikhtiar , hanya proses, sedangkan wilayah hasil adalah wilayah Allah. Tak pernah kecewa dalam kegagalan dan tak pernah larut dalam kegembiraan yang berlebihan bila mendapatkan keberhasilan.

Pikirannya selalu terkontrol dan dalam keadaan tenang dan tentram.

Kesadaran Yusuf mengajak kita agar selalu sabar dalam menghadapi cobaan jasmaniah baik sakit, cobaan harta kekayaan dan kemiskinan. Sabar juga dalam menghadapi cobaan aspek kejiwaan diantaranya;

Sabar dalam mengontrol hawa nafsu.

Menjaga dengan sabar untuk menentramkan jiwa. Sehingga jiwa2 yang sudah sampai pada kesadaran Yusuf tidak akan pernah gelisah, tidak pernah mengeluh, tidak pernah menyesal, tidak pernah mengumpat – ngumpat.

Ada 5 hal yang mengotori jiwa kita, sekaligus dapat menciptakan keterikatan kita padanya. Dalam Alquran Allah berfirman dalam ( QS Ali Imran 3 : 14 )

زين للناس حب الشهوات  من النساء  والبنين والقناطير   المقنطرة  من الذهب  والفضة و الخيل  المسومة  و الانعام والحرث  ذلك متا ع الحيو ت الدنيا  و الله عنده حسن الماب

” Dijadikan Indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa apa yang diingini yaitu , Wanita wanita, anak anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak , kuda pilihan , binatang binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali “.

  1. Memasuki kesadaran Idris berarti memasuki gerbang kesadaran ke empat yang mengapresiasi kedudukan seorang hamba yang menyembah (al-‘abid ) dan Tuhan yang disembah (al-ma’bud ) tidak pernah berpisah selalu bersama-sama. Idris berasal dari kata da – ra – sa, dari kata darasa inilah muncul kata-kata “mudaris” yang berarti guru.

Kesadaran Idris membawa kita kepada kesadaran bahwa kedudukan seorang guru ruhani (mursyid) yang dapat membimbing ke alam – alam langit keruhanian yang tinggi. Dalam Al-Quran surat Al Kahfi ayat 17 disebutkan “waliyam mursyida”, figure manusia suci, pemimpin rohani, manusia yang sangat taat beribadah kepada Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan kata “Mursyid” diartikan sebagai orang yang mendapatkan petunjuk nur Ilahi, cahaya Ilahi, atau energy Ilahi. Sehingga dengan kesadaran Idris mampu menyingkap tabir dibalik makna “al ilmu nuurun” (ilmu itu adalah cahaya yang menerangi) kegelapan

ketidaktahuan menuju cahaya – Nya.

  1. beranjak dari kesadaran Idris menuju kesadaran Harun. Kesadaran Harun mengajak kita untuk melakukan segala perbuatan atas dasar cinta kepada Tuhan. Do what you love and love what you do.

Mengabdi kepada Tuhan penuh kesadaran karena cintanya kepada Tuhan tidak mengharapkan pahala atau takut berdosa. Kesadaran Harun membawa seorang hamba tidak terjebak pada surga neraka dalam beribadah, namun semata-mata sebagai wujud kecintaannya semata karena Tuhan.

  1. Langit kesadaran Musa membawa seorang hamba pada suatu pemahaman bahwa segala sesuatu yang terjadi sebagai cara Tuhan berdialog dengan nya.

Etape terakhir memasuki gerbang Kesadaran Ibrahim membawa kepada makna bahwa Ibrahim adalah seorang manusia yang telah berhasil menyelesaikam seluruh etape kehidupannya dengan sukses di hadapan Tuhan ( terbebas dari api kesengsaraan, kegerahan, kegelisahan dalam hidup ) sehingga membawa kepada kesucian, ketentraman, kedamaian, kesejukan, dan ketenangan, sebagaimana firman Nya dalam ( QS. Al Anbiya : 69 ,

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

Memasuki relung esoterik Keberagamaan berarti memasuki dunia makna yang tak bertepi, maka yang kita rasakan adalah kedamaian yang tidak pernah berakhir, karena kita telah semakin dekat dengan Pusat Kedamaian yang sebenarnya dan tak terbatas.

Mi’raj adalah perjalanan ke dalam diri Sejati yang selalu memakai mata untuk memgurusi penglihatan yang sejati , pendengaran yang batini, kaki tangan yang ruhani serta eksistensi wujud izzati.  Mi’raj tidak hanya

memperingati peristiwa agung tanggal 27 bulan Rajab atau membersihkan dan membangun masjid dengan megah , namun peristiwa Isra Mi’raj juga menyadarkan untuk selalu membangkitkan hati dan kesadaran jiwa .

Manusia mi’raj selalu membangun kepribadiannya selain membangun rumah ibadah. Insan yang sudah ber mi’raj tidak takut kepada siapapun dan apapun karena ada Tuhan nya yang selalu membersamainya. Manusia yang sudah ber mi’raj adalah manusia ” buraq” yang mengangkut dirinya dari galaksi kesadaran ke galaksi kesadaran lainnya hanya beberapa saat, seketika , sekejap mata.

Manusia yang sudah bermi’raj tidak bergantung kepada taqdir Tuhan yang berbeda-beda atas orang yang tidak sama, melainkan bergantung kepada kesadaran dan semangat khilafahnya dalam mendayagunakan potensi-potensi yang dikaruniakan oleh Tuhan di dalam diri masing-masing untuk kemaslahatan makhluk Tuhan di muka bumi.

Manusia yang sudah ber mi’raj mengetahui darimana dia datang dan kemana akan pergi, sehingga ketika menghampiriNya selalu dengan segenap hatinya, segenap jiwanya, segenap pikirannya dan segenap akal budinya.

Tidak heran di dalam Al Quran disebutkan Tuhan pun berfirman  ( QS. 75 : 22-23 ) ” Wajah  yang berbahagia pada Hari Kiamat ( kebangkitan jiwa nya dari belenggu dunia materi yang fana) akan berbinar, bersuka cita dan gembira ria karena melihat Tuhannya.

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَة:

الي ربها ناظرة

Wajah – wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat.

Malam peristiwa Isra Mi’raj selalu mengajak menembus batas . Malam 27 Rajab pun selalu punya cerita akan Engkau Tuhan, yang sayang bila terlewatkan. Malam Isra Mi raj mengungkapkan misteri tentang Engkau yang bersembunyi di balik segala yang terang.

Mengenal dan mengalami malam Isra Mi’raj membuat manusia tahu untuk apa hadir di bumi dan menyadari arah untuk kembali.

Pantas Tuhan jadikan “malam“ sebagai pakaian ( QS 78:10) , dipakai untuk menemuiNya di tempat yang gelap di balik gemerlap cahaya (وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا)

Tuhan tidak katakan malam dijadikan untuk tidur, tidur juga, namun  menidurkan raga dan ego sehingga mampu membangkitkan jiwa dan ruh. Selamat berjalan menempuh perjalan ke dalam Diri Sejati bersama Ilahi di bulan mulia Rajab.

Bukankah bumi Allah itu luas, siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di dalam “bumi” ini tempat hijrah yang luas dan (rizki) yang banyak.

Luar biasa inspirasi ayat ini , bumi makro seperti hijrah Muhammad saw dari mekah – Madinah. Dari kota yang sdh tak kondusif untuk memajukan peradaban yang cemerlang menuju peradaban bermandikan cahaya (munawwarah) Ilmu dan cinta (ma’rifat dan mahabbah , love and knowledge).

Hijrah menuju bumi mikro masuk ke dalam diri untuk menyingkap rahasia diri (from darkness side of soul into the lightness of soul), sehingga keseluruhan bangkitnya Kembali Islam dan kaum Muslimin (tentu nya tidak hanya yang beragama Islam yang mampu menjadi seorang “Muslim”, kelak akan sangat ditentukan tidak terutama oleh gerakan gerakan politik, banyak nya pengajian – pengajian , diskusi – diskusi agama, melainkan oleh inovasi keilmuan (terutama yang menyangkut barq, kilat, nur, cahaya), baik itu dilakukan oleh ilmuwan Muslim atau non Muslim.

Abad Kebangkitan Islam tidak dicapai oleh “tegaknya bendera Islam, dalam arti politis” apalagi sekedar teriak teriak khilafah, melainkan ditemukannya “cahaya kebenaran Islam” sengaja atau tidak disengaja oleh kaum ilmuwan.

Dunia akan bersujud, kemanusiaan akan bersujud, meniru pepohonan dan bintang bintang yang sejak semula telah bersujud.

Selamat datang dalam persaudaraan keruhanian dalam kasih sayang Nya.

Allahu A’la wa Ahkam wa A’lam.

 

Surabaya, Maret 08, 2021

 

Romo Ustaz Yusuf Daud, Direktur Philosufi Center Surabaya

yusdaros@yahoo.com

0817198439

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed