Islam Melawan Kekerasan Seksual

Kabar Utama292 Views

Kabar Damai I Jumat, 07 Januari 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Kalis Mardiasih, penulis dan aktivis perempuan dalam Kuliah Moderasi Beragama yang diunggah dalam kanal youtube Islamdotco menyatakan tentang bagaimana Islam sebagai sebuah agama sangat menentang kekerasan, terlebih jika kekerasan tersebut mengarah pada aspek seksualitas.

Ia mengatakan bahwa akhir-akhir ini sering dan semakin sering membaca tentang kekerasan seksual berseliweran dimedia. Kekerasan seksual menimpa anak-anak perempuan dan juga perempuan dewasa yang pelakunya adalah orang-orang terdekat korban seperti bapak kandung yang memperkosa anak perempuannya, paman yang memperkosa keponakan perempuannya, kakek yang memperkosa anak perempuan tetangganya dan memiliki dampak yang sangat buruk dan trauma yang sangat berlapis kepada korban.

Oleh karenanya, ia menyoroti bahwa terdapat empat nilai dari moderasi beragama yang terdiri dari nilai toleransi, kedua ketaatan kepada hukum, ketiga adalah nilai nirkekerasan dan yang keempat adalah nilai penghormatan kepada tradisi dimana semua saling terhubung dan memiliki dampak baik bagi masyarakat jika dilakukan dengan baik.

Berkaitan dengan nilai moderasi dan dihubungkan dengan kekerasan seksual menurutnya dapat dimulai dari nirkekerasan. Islam seharusnya adalah agama yang penuh kasih sayang, ketika berbicara tentang Islam yang penuh kasih sayang artinya kasih sayang itu adalah istilah yang lebih dulu lebih berlawanan dengan istilah kekerasan.

Kekerasan sering kali dilakukan oleh pelaku karena pelakunya merasa bahwa ia sebagai manusia lebih berkuasa, lebih merasa punya kontrol kepada manusia yang ia anggap lebih rendah dan tidak berdaya, pelaku selalu merasa bahwa dirinya berhak mendominasi manusia lainnya yang ia wujudkan dengan aktifitas ancaman, pemaksaan, kontrol dan juga serangan kepada mental dan fisik korban dan kepada martabat korban secara keseluruhan.

“Dampak dari kekerasan seksual ini tentu tidak main-main, fisik korban terluka, anak-anak perempuan mengalami kehamilan yang tidak diinginkan sebelum waktunya. Anak-anak SD yang diperkosa artinya ia tidak lagi menjalankan pendidikan sebagaimana mestinya, ia kehilangan akses ilmu pengetahuan dan akses sosial,” ungkapnya.

Baca Juga: Peran Kesultanan Islam Menjaga Tradisi Budaya

Menurutnya, korban kekerasan seksual juga mengalami trauma psikis yang membuat ia tidak bisa berfungsi layaknya manusia normal sebagaimana biasanya. Korban kekerasan seksual bisa saja ketakutan ketika mendengar pintu dibuka, ketika ada orang yang medekat pada dirinya, keramaian orang, ketika melihat makanan yang ada dihadapannya karena setiap barang dan setiap kejadian yang ia lewati selalu mengingatkan ia pada peristiwa naas dimana ia mengalami kekerasan seksual dengan pelaku.

“Islam adalah agama yang mengutuk kekerasan seksual dan nilai-nilai moderasi beragama harus kita hayati dan kita ketengahkan untuk membawa agama Islam agar mengejawantah sebagai agama yang melawan kekerasan seksual,” tambahnya.

Dampak yang serius yang menimpa korban baik secara psikis dan mental, fisik, sosial dan secara ekonomi itu juga bertentangan dengan tujuan dibentuknya produk Islam dibuat karena dalam produk hukum Islam dibuat untuk menjaga jiwa, diri, penjagaan terhadap keturunan, penjagaan terhadap kedirian manusia agar manusia tetap menjadi manusia yang punya potensi untuk berbuat kebaikan yang sebanyak-banyaknya.

Penyintas kekerasan seksual kehilangan segalanya, kehilangan diri dan tubuhnya, kehilangan jiwa dan keseluruhan martabat dirinya yang membuat ia tidak bisa lagi berfungsi dan melanjutkan hidupnya seperti manusia normal pada umumnya yang tentu saja itu bertentangan dengan Islam.

Hingga akhirnya, sampailah pada nilai moderasi selanjutnya yaitu ketaatan pada hukum. Indonesia sejak dulu sudah memiliki inisiatif untuk mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang sudah disahkan sejak tahun 2004. Didalam undang-undang tersebut, pemerkosaan dalam perkawinan adalah sesuatu yang dilarang, sesuatu yang dapat dikenakan tindak pidana. Artinya walaupun dalam relasi perkawinan tidak boleh ada kekerasan. Perkawinan yang dianggap menghalalkan aktivitas seksual ternyata tidak sepaket dengan menghalalkan aktivitas seksual yang penuh dengan kekerasan.

Indonesia sebagai negara sudah memperjuangkan nilai-nilai moderasi sejak dulu dan hingga hari ini kita juga masih berjuang mendukung pengesahan RUU Kekerasan Seksual yang kita harapkan dapat berbicara memberikan keadilan kepada lebih banyak lagi kasus-kasus kekerasan seksual yang hari ini belum memberikan keadilan kepada korbannya seperti eksploitasi seksual, perbudakan seksual, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan aborsi dan jenis-jenis pemaksaan kekerasan seksual lainnya.

Kini, perbudakan seksual masih terjadi. Bahkan Indonesia adalah menjadi negara yang paling tinggi kasusnya. Perdagangan anak-anak perempuan itu sangat mengiris hati kita semua, sebagai muslim di Indonesia dan sebagai warga negara bertanggungjawab dalam menyelamatkan jutaan anak-anak perempuan yang hingga hari ini masih menjadi korban kekerasan seksual.

Kalis diakhir pemaoarannya juga mengajak semua kalangan untuk bersama-sama memerangi kekerasan seksual.

“Mari kita dukung negara untuk mengesahkan RUU PKS, karena perjuangan kita mengesahkan RUU ini adalah perjuangan kita juga dalam menegakkan nilai-nilai moderasi beragama,”.

“Nilai Islam yang memiliki manfaat yang nyata tidak hanya kepada diri sendiri, kesalehan diri pribadi tetapi juga wujud kesalehan sosial untuk menjadi bagian dari negara yang berusaha untuk menghentikan rantai kekerasan kepada perempuan dan anak-anak,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *