by

“Islam Alternatif”  dan “Islam Aktual”: Memberikan Pemikiran Alternatif yang Sangat Aktual

Oleh Budhy Munawar Rachman

 

Review Buku: Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif (Cetakan baru 2021), Islam Aktual (Cetakan baru 2021)

 

Di Indonesia ada fenomena kultural pada dekade 1980an, yaitu berupa pesatnya penerbitan buku-buku agama dengan kecenderungan buku-buku keislaman yang bercorak intelektual dan berbasis pemikiran, serta cenderung mendorong perubahan tata sosial, ekonomi dan politik. Fenomena ini telah banyak mempengaruhi perkembangan dan masa depan Islam pada dekade 1990an serta kehidupan bangsa sampai masa kini.

Baca Juga : Panduan Moral Kerukunan Antarumat Beragama di Indonesia

Gerakan Islam sebagai gerakan kebudayaan ini terumuskan dalam tiga sub gerakan, yakni gerakan intelektual, gerakan etik, dan gerakan estetik, termasuk di dalamnya penerbitan buku. Bila format baru gerakan Islam saat itu dikaitkan dalam konteks perubahan sosial yang bersifat global, akan tampak beberapa faktor yang menjadi determinan tumbuhnya “wajah baru” umat Islam saat itu. Yaitu perubahan global yang mempengaruhi umat Islam dan perubahan struktural dan kultural di dalam kehidupan sosio-ekonomi dan politik Indonesia.

Hingga awal 1990-an, Indonesia mampu melahirkan para sarjana dan pemikir Muslim yang mumpuni dan brilian, yang memengaruhi dinamika pemikiran Islam waktu itu. Pada periode itu, muncul sejumlah pemikir Islam yang gagasan-gagasan mereka sangat cemerlang dan genial, sehingga menjadi bahan diskusi yang menggairahkan di lingkungan dunia akademik dan masyarakat publik Muslim Indonesia secara umum.

Di antara sejumlah pemikir dan sarjana Muslim yang menonjol dan menjadi ikon para akademisi, aktivis, dan mahasiswa periode itu, antara lain, Nurcholish Madjid (Cak Nur), Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Amien Rais, dan beberapa lagi yang lain, di antaranya, Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal). Gus Dur, Cak Nur, Kang Jalal, tiga tokoh yang paliong berpengaruh, dan mengarahkan arus diskursus keislaman di Indonesia.

Ketiga tokoh ini punya jasa besar dalam membangun pemahaman Islam untuk mencintai bangsa dan negaranya. Meski titik berangkatnya berbeda. Gus Dur berangkat dari kekayaan khazanah klasik kitab kuning yang hidup di kalangan Nahdliyyin. Cak Nur berangkat dari pemikiran Ibnu Taymiyah yang dipahaminya dengan caranya sendiri yang progresif. Kang Jalal berangkat dari kekayaan khazanah sufisme, filsafat Islam, dan pemikiran revolusioner Syiah.

Kedua buku ini, Islam Alternatif, dan Islam Aktual yang diterbitkan Kembali edisi barunya (2021), yang diterbitklan ulang untuk mengenang pemikiran Jalaluddin Rakhmat, adalah buku-buku yang mencerahkan publik pada zamannya.

 

Holistik Melihat Islam

Jasa-jasa Kang Jalal—sebagaimana para pemikir lainnya—dalam menghidupkan percakapan intelektual Islam di Indonesia sejak dekade 80an hingga saat ini, tak akan pernah dilupakan. Gagasan dan pemikirannya diakui oleh banyak pengamat sebagai ikut serta dalam mewarnai wacana pemikiran Islam kontemporer di Indonesia sejak dekade 1980-an.

Walaupun banyak pula yang menganggap pemikiran Kang Jalal cukup kontroversial. Banyaknya yang menentang gagasan Kang Jalal. Salah satu penyebabnya adalah kecenderungannya pada mazhab Syi’ah. Warna-warna tulisan Kang Jalal di tahun-tahun itu memang baru bagi khazanah yang kita miliki. Ia mencoba menyatukan pikiran Syiah dengan Sunni. Kang Jalal adalah seorang yang holistik dalam melihat Islam. Tidak melulu Syiah, tidak Sunny, atau lebih tepat Syiah yang Sunny sekaligus

Buku Islam Alternatif, dan Islam Aktual ini sangat familier di tahun 90-an. Buku-buku ini adalah kumpulan tulisan yang singkat dan tentu saja padat dengan makna pesan keislaman, yang memberi pemikiran alternatif dan sangat aktual. Kang Jalal mampu menyampaikan pesan-pesan keislaman yang ilmiah di hadapan para sesama cendekiawan. Tetapi juga sangat piawai menyampaikan pesan-pesan keislaman di kalangan awam dengan baik. Kalau kita mencermati kedua buku Kang Jalal tersebut, maka kita dengan mudah mencerna pesan-pesan keislamannya. Salah satu ciri khas dari beliau adalah banyak mengangkat kisah pada masa Nabi dan para sahabat, kemudian mencoba mengangkat dalam konteks kekinian.

Bahasa buku-buku ini sangat sederhana dan komunikatif, sehingga siapapun yang membacanya, akan sangat mudah memahaminya. Tidak banyak cendekiawan Muslim Indonesia yang mampu mengkomunikasikan pesan-pesan yang rumit, yang diramu dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, dan kemudian meninggalkan pesan, seperti yang disampaikan Jalaluddin Rakhmat ini. Kang Jalal, begitu panggilan akrabnya, juga bisa naik ke menara gading berbicara tentang keislaman bersama-sama para cendekiawan Muslim sekelas Harun Nasution, Nurcholish Madjid, Quraish Shihab, Abdurrahman Wahid. Di samping itu, Kang Jalal juga sbisa memberikan pencerahan ke masyarakat awam dengan bahasa-bahasa yang mudah dipahami. Pemikirannya juga sangat diminati oleh para mahasiswa.

Kang Jalal piawai dalam mengkomunikasikan pemikiran-pemikiran keislaman, baik dalam bentuk bahasa lisan atau tulisan. Ia selalu bijak dan tidak emosional dalam menanggapi berbagai kritikan mauppun cacian. Suatu karakter yang langka dan jarang orang memilikinya. Ketenangan dan kesabaran saat menerima kritik dan caci maki dijawab dengan pendekatan keilmuan yang argumentatif. Kang Jalal cerdas secara intelektual dan emosional. Sangat jarang kita dapati seseorang yang cerdas secara intelektual di satu sisi diikuti dengan kecerdasan emosional atau kesabaran di sisi yang lain.

Salah satu kelebihan Kang Jalal adalah mampu untuk menggabungkan kedua kecerdasan tersebut. Banyak orang yang punya kecerdasan yang cukup, tapi ketika menerima kritikan atau cacian, mereka kehilangan rasionalitas keilmuan dan membalas kritikan dengan nada emosional yang tidak mencerminkan nilai-nilai etika keilmuan. Itulah yang coba diaktualkan dalam berbagai buku dan tulisannya yang sangat penuh hikmah dengan kisah-kisah yang menyentuh disertai dalil-dalil argumentatif.

 

Menemukan Tuhan dalam Pengkhidmatan kepada Sesama

Lewat bukunya Islam Alternatif dan Islam Aktual yang sangat kental dengan Islam yang berdimensi muamalah, dengan keperpihakan kepada kaum mustadh’afin atau golongan-golongan yang terpinggirkan. Banyak orang yang tidak mengetahui kiprahnya dalam memperjuangkan mustadh’afin (kaum terpinggirkan). “Kita dapat menemukan Tuhan dalam pengkhidmatan kepada sesama,” begitu pesan yang kerap diulang-ulang lewat kedua karyanya ini. Bukan sekadar retorika, visi itu selalu ia pegang sejak awal membangun Yayasan Muthahhari. Kekayaan pengalaman dan literatur ini membuat tulisan-tulisan kang Jalal tidak hanya segar dan baru, tapi juga dalam dan tajam.

Buku Islam Alternatif, dan Islam Aktual merupakan salah satu buku yang ikut mengawali pembentukan matra-baru pemikiran Islam di Indonesia yang pernah dipetakan oleh buku Fachry Ali dan Bachtiar Effendy, dalam bukunya, Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru (Mizan, 1986). Perkembangan Islam Indonesia yang paling penting, yang mulai tampak jelas sejak awal 1987—Islam Alternatif terbit pertama kali pada 1986. Buku-buku ini adalah salah satu penerbitan awal serial pemikir Islam di Indonesia

Buku Islam Aktual dan Islam Alternatif, patut menjadi renungan bersama dalam memahami esensi agama dan kemanusiaan.

Dalam buku ini, Kang Jalal, menjelaskan, ada dua pandangan tentang peranan agama bagi manusia, yakni: aliran idealisme dan materialisme. Kedua aliran ini berkembang sesuai dengan sudut pandang pemeluk agama terhadap agama yang dianutnya. Menurut Kang Jalal, “Agama bisa berperan dan tidak berperan, tergantung pada Anda; bergantung pada peranan yang Anda berikan bagi agama; bergantung pada bagaimana Anda memandang agama.” Kang Jalal berpendapat: Agama akan bisa berperan bila agama itu melahirkan dimensi ideologi yang mendorong perubahan sosial, dan bila dimensi sosial agama menancap cukup kuat dalam kehidupan sehari-hari.

 

Islam adalah Agama yang Hendaki Perubahan

Menurut Kang Jalal, butir-butir yang sangat prinsipal dan mencerminkan pandangan Islam tentang peranan agama, adalah: Pertama, Islam memandang bahwa kehadiran agama di dunia ini dimaksudkan untuk mengubah masyarakat dari berbagai kegelapan kepada cahaya; dari zhulumat kepada al-nur.

Islam adalah agama yang menghendaki perubahan. Ia datang bukan untuk membenarkan status quo. Ia datang untuk memperbaiki status quo. Zhulumat adalah bentuk jamak zhulm: ketidaktahuan tentang syariat, pelanggaran atas syariat Allah, dan penindasan. Islam datang untuk membebaskan manusia dari hidup yang berdasarkan kemaksiatan menuju ketaatan, dari kebodohan tentang syariat menuju pengertian tentang halal dan haram, dari kehidupan yang penuh beban dan belenggu ke arah kebebasan.

Inilah misi Islam; Inilah misi para Nabi serta pelanjut Nabi. “Orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Alquran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (Q. 7: 157).

Kedua, Istilah Islam untuk pembangunan ialah tashyir. Prinsip tahyir ditegaskan dalam firman Allah: “…Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan suatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…(Q.13: 11). Islam memandang perubahan sosial harus dimulai dari perubahan individual. Secara berangsur-angsur, perubahan individual ini harus disusul dengan perubahan institusional. Setelah mengerjakan kewajiban Muslim terhadap sesamanya, Islam menetapkan institusi zakat. Setelah menganjurkan persaudaraan.

Ketiga, Islam memandang bahwa perubahan individual harus bermula dari peningkatan dimensi intelektual (pengenalan akan syariat Islam), kemudian dimensi ideologi (berpegang pada kalimat tauhid). Dimensi ritual harus tercermin pada dimensi sosial. Dalam Islam, salat selalu dihubungkan dengan kehidupan bermasyarakat; salat harus mencegah fahsya dan munkar (Q. Al-Ankabut: 45); salat selalu dikaitkan dengan zakat dalam banyak ayat Alquran; salat diperintahkan bersamaan dengan perintah-perintah dalam kehidupan sosial (Q. Al-Ma’arij: 22-28; Al-Ma’un; Al-Baqarah: 83; dan sebagainya).

Menurut Kang Jalal, dalam beberapa Hadis disebutkan, bahwa ibadah yang tidak disertakan dengan amal saleh dalam kehidupan sosial, tidak diterima Allah. Mereka yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan, mereka yang salat malam dan puasa, tetapi menyakiti tetangganya, mereka yang beribadah tetapi merampas hak orang lain dan sebagainya, dinyatakan tidak melaksanakan agamanya. Kekurangan dalam ibadah ditebus dengan menunjukkan amal saleh, seperti memberi makan orang miskin, tetapi, cacat dalam kehidupan sosial tidak dapat ditebus dengan ibadah ritual. Dimensi sosial ajaran Islam menurut Kang Jalal, memeroleh proporsi yang jauh lebih besar daripada dimensi ritual atau mistikal.

Keempat, Islam memandang bahwa kemunduran umat Islam bukan hanya terletak pada kejahilan tentang syariat Islam, tetapi juga pada ketimpangan struktur ekonomi dan sosial. Ini dilukiskan oleh Alquran ketika menjelaskan kemiskinan sebagai disebabkan oleh tidak adanya usaha bersama untuk membantu kelompok lemah, adanya kelompok yang memakan kekayaan alam dengan rakus dan mencintai kekayaan dengan kecintaan yang berlebihan (Q. Al-Fajr: 18-22). Karena itu, Islam menghendaki agar kekayaan tidak berputar pada kalangan orang kaya saja (Q. Al-Hasyr: 7).

 

Aktualisasikan Agama dalam Kehidupan Sosial dan Kemanusiaan

Uraian di atas, menurut Kang Jalal, memberikan pemahaman, bahwa nilai-nilai dogma dan doktrin agama (Islam) membangkitkan semangat dan mendorong penganut agama terhadap ajaran agama yang dianutnya. Selain itu, keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tumbuh dengan pesat dalam hati penganut agama karena semangat untuk mengaktualisasikan agama dalam kehidupan sosial dan kemanusiaan. Inilah misi Islam; inilah misi para Nabi dan Rasul-Nya. Inilah peran teologi dalam kemanusiaan.

Sebagai seorang ulama Syiah, Kang Jalal menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai patron atau teladannya. Ia menyebut Ali sebagai seorang penegak Islam mazhab ukhuwah. Ali adalah sosok yang cinta pada perdamaian dan sangat benci pada pertikaian. Karenanya, Kang Jalal tidak menyebut semua kalangan Syiah sebagai pengikut mazhab Ali. Dalam buku Islam Aktual, Kang Jalal menulis:

“Banyak orang menyebut Syi’ah sebagai pengikut Ali. Apakah semua Syiah itu bermazhab Ali? Tidak. Orang Syiah yang merasa diri paling benar tetapi berakhlak rendah, yang memperbesar perbedaan pendapat tetapi lupa meningkatkan kualitas pribadinya, yang memuji-muji Ali tapi tidak menirunya, bukanlah pengikut Ali.”

“Orang Syiah yang ekslusif”, lanjutnya, “memisahkan diri dari jamaah kaum muslim, meremehkan Ahlus-Sunnah, juga bukan pengikut Ali.” Sebaliknya kata Kang Jalal, “Ahlus-Sunnah menjadi pengikut Ali ketika ia berlomba-lomba melakukan kebaikan, menyucikan dirinya dari kemaksiatan, menghindari kecaman terhadap golongan yang tidak satu paham, dan hanya mengukur baik atau buruknya orang dari akhlaknya.”

Menurut Kang Jalal, menghadirkan sosok seperti Ali bin Abi Thalib adalah hal yang penting di era saat ini. Di mana umat Islam mudah bertengkar hanya karena perbedaan pendapat. Kita perlu belajar pada Ali tentang cara menghargai orang lain dan cara memuliakan saudara-saudara sesama Muslim. Apa yang dilakukan dan dicontohkan Kang Jalal selama hidupnya adalah upaya yang juga menuju ke arah itu. Kang Jalal resah dengan keadaan umat Islam yang mudah terpecah-belah. Kang Jalal gelisah dengan umat Islam yang sangat mudah terprovokasi oleh isu-isu murahan. Kang Jalal merindukan masa di mana umat Islam dapat hidup harmoni dan saling berdampingan.

“Alangkah indahnya peristiwa ketika kaum Muslim berkumpul di Muktamar Islam di Masjidil Aqsha, Palestina. Mereka salat berjamaah diimami oleh seorang tokoh mujtahid Syi’ah Imamiah Al-Ustadz Al-Syaikh Muhammad Al-Husain Ali Kasyif Al-Ghitha. Tidak terdapat perbedaan antara yang mengaku Sunni dengan yang mengaku Syiah. Semua menjalin saf-saf yang kokoh di belakang seorang imam. Mereka berdoa kepada Tuhan yang satu, menghadap kiblat yang satu”, tulis Kang Jalal.

Salah satu harapan terbesar Kang Jalal, khususnya di Indonesia, adalah dapat melihat umat Islam Sunni dan Syiah hidup damai, tentram dan penuh kasih. Karenanya dia merasa sangat miris dan menyayangkan ketika mendengar ada sebagian dari umat Islam yang menyerang umat Islam Syiah. Baginya Sunni dan Syiah adalah saudara. Oleh karenanya perbedaan tidak perlu dipertentangkan. Dalam tulisannya, Kang Jalal sangat menaruh harap pada anak-anak muda Islam. Sebagai seorang terdidik dan terpelajar, Kang Jalal berharap agar anak-anak muda tidak lagi larut dan hanyut dalam konflik masa lalu. Sebab ada tantangan yang lebih besar yang mesti dihadapi oleh umat Islam selain daripada perbedaan Sunni dan Syiah.

 

“Jangan Ambil Alih Tuhan untuk Selesaikan Perbedaan”

Dalam menanggapi perpecahan, Kang Jalal berulang kali mengingatkan kepada umat Islam bahwa pertengkaran itu tidak baik. Kang Jalal meminta agar umat Islam mampu belajar pada tradisi sahabat Nabi, Ibnu Mas’ud. Sebab Ibnu Mas’ud adalah orang yang benar-benar kecewa ketika mendengar Utsman bin Affan salat Zuhur dan Ashar sebanyak masing-masing empat rakaat di Mina. Ia menganggap Utsman telah keluar dari garis yang ditentukan oleh Rasulullah. Namun ketika Ibnu Mas’ud salat berjamaah di Mina tepat di bekalang Utsman, ia salat sebagaimana salatnya Utsman. Ketika orang bertanya mengapa ia melakukan itu, Ibnu Mas’ud menjawab, “Bertengkar itu jelek!” (HR. Abu Dawud)

Selama hidupnya, Kang Jalal tak pernah absen untuk mengajak semua untuk tidak berpolemik tanpa ilmu, memperbesar’soal-soal identitas dan lahiriyah keagamaan dan melupakan dimensi agama yang fundamental: akhlak. Menurutnya, biarlah perbedaan teologis dan cara syariah itu Allah yang menjadi hakimnya di akhirat nanti. “Kita tidak boleh mengambil alih Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan agama dengan cara apa pun, termasuk dengan fatwa”, tulisnya.

Lewat buku Islam Alternatif dan Islam Aktual ini, Kang Jalal ingin menunjukkan Islam sebagai agama rahmat dan agama keadilan. Dengan paradigma tersebut, Islam hendak ditawarkan sebagai altenatif solusi—di antara sistem-sistem yang dominan—bagi krisis kemanusiaan global dewasa ini. Buku Islam Alternatif merupakan kumpulan dari ceramah-ceramahnya di ITB, yang kemudian diedit dan disarikan kembali oleh Haidar Baqir. Sampai saat ini buku tersebut sudah 8 kali cetak ulang. Buku ini berisi 5 bagian yang masing-masing bagian terdiri dari beberapa pokok bahasan.

Bagian pertama, berbicara Islam sebagai rahmat bagi alam. Bagian kedua, Islam pembebas mustad’afîn. Bagian ketiga, Islam dan pembinaan masyarakat. Bagian keempat Islam dan ilmu pengetahuan, dan bagian kelima, Islam Madzhab Syiah. Sementara buku Islam Aktual merupakan kumpulan dari artikel yang telah dimuat oleh beberapa media massa, mulai dari Tempo, Gala, Kompas, Pikiran Rakyat, Panji Masyarakat, Jawa Pos dan Berita Buana.

Sebagai ilmuwan Jalal menjadi anggota berbagai organisasi profesional. Sebagai mubaligh, ia sibuk mengisi berbagai pengajian, dan sebagai aktivis, ia menjadi ketua dewan syura untuk IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia). Harapannya sebagai mubaligh adalah agar dapat menjaga ajaran Rasulullah saw, dengan anggapan bahwa bila para sahabat Nabi mengulang kembali pesan nabi supaya didengar oleh orang-orang yang berdekatan secara geografis. Maka Kang Jalal, turut menyampaikan pesan Nabi saw untuk orang-orang yang berdekatan dengannya dalam ruang dan waktu (masa kini).

 

IJABI sebagai Syiah Nusantara

Berdasarkan pengalaman hidup dan pergulatan pemikiran yang dinamis dan panjang, Kang Jalal membawa IJABI sebagai Syiah Nusantara, Syiah yang mengedepankan taqrib al-madzhahib, mendekatkan madzhab Syiah dengan madzhab Sunni, tidak mempertajam perbedaan, dan melarang melakukan umpatan kepada seluruh sahabat Nabi dan Aisyah istri Nabi. Istri Nabi dan seluruh sahabat Nabi harus dihormati.

Selain itu, Kang Jalal juga aktif berdakwah dan membina jamaah di masjid-masjid dan di tempat-tempat kumuh dan gelandangan. Sebagai bentuk kepeduliannya kepada masyarakat miskin maka ia mendirikan sekolah gratis yaitu SMP Plus Muthahhari di Cicalengka Bandung yang dikhususkan untuk siswa miskin. Obsesi Kang Jalal yang lain adalah ingin melihat SMP Muthahhari berdiri di seluruh pelosok tanah air sehingga anak-anak miskin tidak terputus aksesnya dari pendidikan. Mereka tidak bayar apapun, namun semua fasilitas disediakan dan mutu pendidikan yang diperolehnya tetap bermutu.

Kang Jalal adalah intelektual yang berproses. Sang pencari, salik, dan seorang pejalan yang tak kunjung selesai. Kehidupan pemikiran dan keyakinannya begitu dinamis. Ia pernah menjadi seorang Muslim tradisional, lalu pernah menjadi pemikir yang sangat rasional, lalu menjadi pemikir Islam yang bebas tanpa terikat pada ormas keagamaan tertentu, lalu menjadi seorang Muhammadiyah, lalu ICMI, dan terakhir berlabuh pada Syiah.

Terbitnya kedua buku ini, memberi memori kerja-kerja intelektual Kang Jalal yang telah ikut mengharumkan dimensi perdamaian dan kemanusiaan dalam agama Islam di Indonesia. [BMR]

 

Budhy Munawar Rachman, Dosen STF Driyarkara Jakarta

Sumber: Esoterika – Forum Spiritualitas

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed