by

Internasionalisasi Tempe dan Upaya Menjadikannya Warisan Budaya

Kabar Damai I Kamis, 24 Juni 2021

Tokyo I Kabardamai.id I Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Jepang, Heri Akhmadi, didampingi Konsulat Jenderal RI di Osaka, Diana E.S. Sutikno, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Yusli Wardiatno, Koordinator Fungsi Politik Andi Ardiansyah, serta beberapa pejabat dan staf KJRI Osaka mengunjungi lokasi industri tempe yang dikembangkan warga asal Indonesia, Rustono. Produksi tempe tersebut dikembangkan Rustono secara otodidak di Shiga yang merupakan lokasi yang cukup terpencil di Jepang.

Dubes Heri mengagumi kerja keras Rustono yang telah membuat tempe Indonesia mendunia. “Saya meminta agar kualitas dan kuantitas tempe dipertahankan. KBRI akan terus mendukung upaya-upaya promosi agar tempe menjadi makanan yang disukai masyarakat Jepang dan menjadi kebutuhan pangan sehari-hari,” jelas Dubes Heri.

Dubes Heri menambahkan bahwa Jepang sendiri memiliki produk semacam minuman sehat yang mengandung bakteri probiotik. “Di Indonesia, kita memiliki tempe yang bergizi tinggi. Jadi, promosi nilai dan manfaat tempe bagi kesehatan harus terus dilakukan agar menjadi makanan yang dicari dan dibutuhkan masyarakat Jepang,” tambah Dubes Heri.

Dijelaskan Rustono, walau Shiga terpencil, dirinya memilih lokasi ini karena ketersediaan air bersih yang kualitasnya mendukung proses produksi tempe. “Industri tempe yang saya kembangkan berbahan kedelai non-GMO atau Non-Genetically Modified Organism,” jelas Rustono.

Sebagai informasi, GMO adalah teknik modifikasi DNA organisme lewat rekayasa genetika. “Kapasitas produksi kami maksimal 10 ribu tempe per siklus,” tambah Rustono.

Rustono juga terus berupaya memperkuat jaringan dan meningkatkan pengetahuan dengan menjadi anggota Tempe Society of Japan. “Komunitas ini senantiasa mengadakan pertemuan ilmiah tahunan dan menghasilkan publikasi Journal of the Tempe Society of Japan,” jelas Rustono. Dirinya juga banyak mengenal anggota Forum Tempe Indonesia. Tidak hanya di Jepang, Rustono pun mengembangkan industri tempe di Mexico.

Baca Juga: PBB: Ekspansi Taliban Mengancam Keamanan di Afganistan

“Tempe yang dijual di Mexico, kami berikan kutipan ‘Hadiah Indonesia untuk Dunia’,” pungkas Rustono.

Pada kesempatan ini, Atdikbud Yusli Wardiatno mendorong promosi tempe sebagai pangan asal Indonesia ke kancah internasional. “Promosi tempe sebagai pangan asal Indonesia menjadi sangat strategis mengingat tempe merupakan warisan budaya nasional. Oleh Forum Tempe Indonesia (FTI), Pergizi Pangan Indonesia dan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) diusulkan menjadi warisan budaya dunia di UNESCO,” terang Yusli.

“Selain itu juga, bila Jepang sudah mereda pandemi Covid-19 dan sudah mulai di buka bebas, KBRI Tokyo bekerja sama dengan FTI akan menggelar acara budaya kuliner tempe dengan mengundang juru masak terbaik Jepang dan Indonesia,” bebernya.

Menjadikan Tempe Warisan Budaya

Melalui produksi tempe di Jepang , Atdikbud mendorong agar tempe sebagai pangan asal Indonesia menjadi Warisan Budaya Dunia.

Sebagai ajang promosi tempe di kancah Internasional, lanjut Yusli, KBRI akan menggelar budaya kuliner tempe bekerja sama dengan FTI. “Bila Jepang sudah mereda pandemi Covid-19 nya dan sudah mulai di buka bebas, KBRI Tokyo bekerja sama dengan FTI akan menggelar acara budaya kuliner tempe dengan mengundang juru masak terbaik Jepang dan Indonesia,” pungkas Yusli.

Dalam kesempatan yang sama, Dubes Heri mengapresiasi kerja keras Rustono yang telah membuat tempe Indonesia mendunia. “Saya meminta agar kualitas dan kuantitas tempe dipertahankan. KBRI akan terus mendukung upaya-upaya promosi agar tempe menjadi makanan yang disukai masyarakat Jepang dan menjadi kebutuhan pangan sehari-hari,” jelas Dubes Heri.

Rustono menyampaikan bahwa tempe yang dikembangkannya di Jepang dilakukan secara otodidak. Walaupun lokasi Shiga terpencil, dirinya memilih lokasi ini karena ketersediaan air bersih yang kualitasnya mendukung proses produksi tempe. Industri tempe yang dikembangkannya berbahan kedelai non-GMO atau Non-Genetically Modified Organism. Sebagai informasi, GMO adalah teknik modifikasi DNA organisme lewat rekayasa genetika. “Kapasitas produksi kami maksimal 10 ribu tempe per siklus,” tambah Rustono.

Sumber: Kemendikbud

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed