by

Internasionalisasi “Moderasi Islam” Indonesia?

-Opini-31 views

Oleh: Muhamad Ali

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 telah selesai digelar di Lampung, namun ada agenda yang perlu dikaji serius: internasionalisasi NU (dan Islam Indonesia) di kancah global. Terpilihnya Kiyai Haji Yahya Cholil Staquf menjadi Ketua Umum PBNU menyegarkan kembali visi internasionalisasi ini.

Selain perjalanannya ke luar negeri, Gus Yahya pernah mengatakan, “moderat bukan menolak gaya beragama, namun bagaimana membangkitkan kesadaran untuk membangun konsensus global seluruh umat manusia menuju peradaban baru yang adil dan harmonis yang didasarkan pada penghormatan hak dan derajat antarsesama umat manusia.”

Pada saat yang sama, Ketua Umum Muhammadiyah Professor Haedar Nashir, sering menyuarakan dukungan terhadap kepemimpinan Indonesia di tingkat global, yaitu program internasionalisasi Muhammadiyah dan penguatan SDM Indonesia yang unggul dan berkarakter.

Visi Gus Yahya dan Buya Haedar Nashir di atas, sejalan dengan tri-persaudaraan: persaudaraan Islam, sebangsa, dan umat manusia, seperti juga dicanangkan Kiyai Achmad Shiddiq tahun 1989, dan dipopulerkan Kiyai Abdurrahman Wahid, dan diamini semua tokoh dan aktif kedua ormas besar ini.

Kita tahu, kedua organisasi massa ini lahir dari konteks global Islam dan lokal Jawa di awal abad ke-20. Muhammadiyah berdiri di Yogyakarta tahun 1912. NU bermula di Surabaya tahun 1926. Kedua ormas ini berkembang di Jawa, seluruh daerah Indonesia, dan kini merambah mancanegara.

Baca Juga: Moderasi Beragama Menuju Indonesia Indonesia Bermartabat

Namun mengapa dunia tampaknya lebih mengenal gerakan-gerakan transnasional seperti Al-Qaidah, ISIS, Jama’ah Islamiyah, dan Hizbut Tahrir?  Sebagian besar gerakan Islam yang dikenal ekstrim. Ada gerakan-gerakan yang dianggap moderat seperti Gerakan Gulen dari Turki, yang kini memiliki sekolah dan universitas di lebih dari 170 negara di dunia.

Meskipun ada kebanggaan asal kebangsaan Turki, Gerakan Gulen tidak terbatas orang-orang Turki, sementara dua ormas terbesar Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, para anggotanya warga Muslim asal Indonesia dan internasionalisasinya baru mulai merambah.

Sepuluh tahun lalu, tahun 2011, Indonesianis Martin van Bruinessen pernah menyentil: Islam Indonesia masih kurang percaya diri dan masih fokus melihat ke dalam dirinya. Perhatian dan kiprahnya masih lokal dan nasional, keanggotaannya belum ke luar ke bangsa-bangsa lain. Sepuluh tahun sejak kritik itu, adakah yang berubah? Apa saja potensi, peluang, dan tantangannya jika visi internasionalisasi Islam Indonesia hendak dikembangkan?

 

Potensi Jumlah dan Gagasan

Ada cukup banyak potensi. Diakui, proses penyebaran dan pribumisasi Islam berjalan damai dan berangsur-angsur melalui pedagang, Sufi, dan penganjur agama dari Arab, India, Persia, Cina, dan dilanjutkan penduduk lokal dari berbagai suku bangsa di wilayah pesisir dan kemudian pedalaman.

Indonesia berpenduduk Muslim terbesar di dunia, bahkan dibanding negara-negara Arab. NU dan Muhammadiyah dua organisasi massa yang beranggotakan seratus juta lebih di negara berpenduduk terbesar setelah Cina, India, dan Amerika Serikat.

NU adalah organisasi terbesar dengan puluhan ribu pesantren. NU melahirkan banyak pemikir neo-tradisionalis dan aktifis progresif, dan mulai mendirikan universitas-universitas dan lembaga-lembaga baru. NU dikaji banyak peneliti luar negeri. Muhammadiyah, seperti disebut Indonesianis Robert Hefner, adalah organisasi moderen Islam terbesar, dengan ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, puluhan rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai amal usaha di Indonesia.

Kaum perempuan seperti Aisyiyah dan Muslimat NU terus dan makin aktif memperjuangkan kesetaraan pendidikan dan keadilan jender. Berkompetisi dan bekerja sama dengan kaum pria, mereka juga aktif memperjuangkan hak-hak minoritas agama dan mereka yang berkebutuhan khusus, selain kerja-kerja humanitarian akibat konflik, bencana, dan wabah, serta terlibat dalam upaya pencegahan terorisme, kekerasan rumah tangga, dan isu-isu lainnya.

Kini ada sekitar 31 Pengurus Cabang Istimewa NU di berbagai negara dan Muhammadiyah memiliki Pimpinan Cabang Istimewa di 23 negara. Tapi keanggotaan memang masih Muslim asal Indonesia, belum meluas kepada warga negara diluar Indonesia.

Di Indonesia, NU menjadi tuan rumah konferensi ulama internasional tahun 2004, 2006, dan 2008, dan pertemuan tarekat internasional tahun 2011. Kini NU terlibat mendirikan masjid-masjid di Belgia dan negara-negara lain. NU bekerja sama dengan berbagai lembaga dunia, Turki, Uni Eropa, dan jaringan seperti Aliansi Evangelis Dunia yang memiliki jutaan penganut Protestan di dunia.

Tokoh-tokoh Muhammadiyah terlibat di kegiatan Perserikatan Bangsa-Bangsa, di berbagai aliansi seperti Rusia, Cina, Vatikan Roma, dan dialog antarperadaban di Jepang, Amerika, Eropa, Australia, dan Timur Tengah. Tapi hal ini masih individual, sporadis, dan belum konsisten menjadi gerakan organisasi dan jaringan.

Di tanah air, NU menggagas Islam Nusantara, Muhammadiyah Islam Berkemajuan. Keduanya mengembangkan visi “moderasi agama” dan pembaharuan berbasis tradisi dan kemajuan. Indonesia memiliki budaya, termasuk naskah-naskah keislaman dan kebudayaan yang kaya.  Mereka menekankan nilai-nilai universal ilmu pengetahuan, keadilan, dan kemanusiaan tanpa meninggalkan sejarah dan budaya lokal.

Kementerian Agama juga melakukan formulasi empat indikator moderasi agama: komitmen kepada bangsa, toleransi, tanpa kekerasan dan sikap akomodatif terhadap budaya setempat. Gagasan-gagasan ini sangatlah menarik, tapi masih dibingkai dari dan untuk konteks bangsa Indonesia.

Di Indonesia, Islam dan demokrasi sejalan, dalam negara Pancasila yang meramu nilai-nilai agamis, humanis, nasionalis, demokratis, dan sosialis. NU menyebut Indonesia sebagai darussalam, negara damai. Bagi Muhammadiyah, Indonesia disebut darul ‘ahdi wasy-syahadah, negara kesepakatan dan persaksian.

Ada juga harapan dunia luar. Di tahun 1985 Fazlur Rahman pernah berharap Turki dan Indonesia sebagai model peradaban Islam. Di Indonesia, ia mengagumi Pancasila dan demokrasi. Juga ada gagasan-gagasan besar: Islam rasional Harun Nasution, pribumisasi Islam Abdurrahman Wahid, inklusifisme agama Nurcholish Madjid, pluralisme agama Kautsar Azhari Noer dan banyak tokoh muda lainnya, reaktualisasi Islam Munawir Sjadzali, humanisme Islam Ahmad Syafi’i Maarif, wasatiyyah atau moderasi Islam Azyumardi Azra, dan feminisme Islam ulama dan aktifis perempuan yang makin mengarusutama di Indonesia. Kementerian Agama, juga para guru besar dan dosen pun kini genjar mengadakan program-program moderasi agama. Namun apakah gagasan-gagasan sintesis dan kreatif ini terus digali dan dikembangkan, dan mulai mewarnai dunia keislaman dan kemanusiaan global?

 

Menyadari Peluang-Peluang

Ada cukup banyak peluang. Tokoh-tokoh Muslim Indonesia menjadi anggota bahkan posisi pimpinan di organisasi-organisasi internasional seperti G-20, PBB, Organisasi Kerjasama Islam (OKI), dan lembaga swadaya masyarakat internasional di berbagai bidang. Namun partisipasi mereka belum cukup mewarnai dan menentukan kebijakan di banyak masalah internasional seperti konflik di Timur Tengah dan Asia, terorisme, Islamofobia, perubahan iklim, dan masalah-masalah regional dan global lain.

Memang ada pengajaran bahasa dan budaya Indonesia, termasuk Islam Indonesia, di luar negeri, tapi belum cukup banyak dan konsisten programnya. Banyak tokoh dan warga NU dan Muhammadiyah bisa berbahasa Inggris dan Arab, tapi kebanyakan masih belum dan kurang percaya diri. Gagasan-gagasan Islam dalam buku dan juga situs resminya makin kreatif, tapi harusnya juga dalam bahasa Arab dan Inggris.

Dibanding Timur Tengah, mahasiswa Indonesia yang belajar dan dosen dan peneliti yang mengajar dan menerbitkan karya-karya di luar negeri sangatlah kecil. Pemikiran Islam Indonesia sudah mulai masuk, tapi belum cukup dihargai sarjana, peneliti dan jurnalis di luar negeri di konferensi, jurnal, majalah, dan surat-surat kabar internasional.

Ada kesempatan besar bagi NU dan Muhammadiyah: kedua ormas besar ini bisa mendirikan masjid-masjid baru, lembaga-lembaga pemikiran dan pendidikan, kesehatan, panti asuhan, dan sebagainya, di luar negeri.  Sekolah-sekolah dan kampus-kampus bervisi Islam Indonesia perlu digagas dan bahkan didirikan di luar negeri, bukan hanya di dalam negeri, seperti Universitas Islam Internasional Indonesia.  Harus pula ada visi dan komitmen kuat kearah itu, selain dukungan dana dari berbagai pihak.

Dukungan berbagai pihak itu dapat dicari melalui komunikasi yang lebih intens ke luar selain warga Muslim Indonesia. Ada banyak organisasi dan jaringan keislaman di luar negeri dan organisasi-organisasi keagamaan lainnya, juga lembaga-lembaga non-agama yang bergerak di berbagai bidang pendidikan, sains, dan teknologi.

 

(Bersambung)

Prof. Muhamad Ali, Ph.D. Associate Professor & Director, Middle East & Islamic Studies; University of California, Riverside

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed