Internasionalisasi “Moderasi Islam” Indonesia? (Bagian III)

Opini100 Views

Oleh: Muhamad Ali

Ketika menawarkan dan mempromosikan visi moderasi Islam, tokoh dan aktifis Muslim NU dan Muhammadiyah harus lebih spefisik: moderat dalam arti apa saja? Perlukah menggunakan istilah konservatif, fundamentalis, liberal, sekuler, sebagai lawan dari moderasi itu, dan dalam arti apa? Lalu apa batasan ekstrimisme dan radikalisme itu?  Bukankah kata ummatan washatan lahir jauh sebelum kategori-kategori fundamentalis, konservatif, sekuler, liberal, dan moderat itu?

Pertanyaan lain bagi NU dan Muhammadiyah: bagaimana menolak gerakan-gerakan trans-nasional Islam seperti Hizbut Tahrir dan Salafi Wahhabisme di Indonesia tapi pada saat yang sama mempromosikan gerakan trans-nasionalisasi NU dan Muhammadiyah di berbagai negara di luar Indonesia?

Tampaknya bukan dimensi trans-nasionalisme-nya yang ditolak, tapi ideologi trans-nasionalisme yang mengancam ideologi Negara-bangsa dan kesepakatan bersama di tempat itu.  Karenanya, harus diperjelas aspek-aspek yang ditolak dan nilai-nilai apa yang diperjuangkan, bukan hanya relevan di Indonesia, dan tapi juga relevan di negara-negara lain di dunia.

 

Menjawab Tantangan Besar

Maka, para sarjana dan aktifis Muhammadiyah dan NU di negara-negara di luar Indonesia harus mengamati dan memahami dua hal sekaligus: konteks dan visi misi Muhammadiyah dan NU di Indonesia dan konteks dan visi misi Islam di konteks negara-negara mereka tinggal.

Lebih luas lagi, mereka perlu mencari jalan-jalan yang luas dan lapang, bagaimana kedua konteks dan visi ini bisa dipahami para warga negara non-Indonesia, baik Muslim maupun non-Muslim, baik beragama maupun tidak beragama.

Lebih jauh lagi, sejauh mana visi dan misi Islam rahmat bagi dunia, dapat menarik orang-orang di luar Indoensia, bahkan dihargai dan dirasakan dampaknya di berbagai bidang kehidupan.

Perlu juga digali karakteristik NU dan Muhammadiyah yang bisa diwujudkan di berbagai konteks luar negeri. Misalnya, NU menggabungkan warisan teologi, mazhab, dan intelektual yang relevan bagi konteks budaya lokal: pembaharuan dan tradisi. Muhammadiyah menggabungkan teks Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang menjawab tantangan zaman dan tempat tapi sekaligus relevan bagi penguatan nilai ketuhanan dan ilmu pengetahuan, agama dan sains, wahyu dan akal manusia. Kedua ormas ini menekankan pentingnya ilmu meskipun berbeda penekanan ilmu yang mana dan metodologinya.

Keduanya juga menggabungkan keselarasan agama dan kebangsaan. Artinya: menjadi Muslim dan menjadi Indonesia, tanpa harus meninggalkan keindonesian. Di Amerika misalnya, menjadi Muslim dan menjadi Amerika, tanpa harus meninggalkan keamerikaan. Banyak jalan menjadi Muslim, dan banyak jalan menjadi Amerika, tapi kedua identitas ini bisa saling menguatkan. Dan begitu seterusnya, dalam konteks masing-masing.

Baca Juga: Internasionalisasi “Moderasi Islam” Indonesia? (Bagian II)

Kedua ormas ini juga menekankan nilai-nilai kemanusiaan universal seperti yang mereka gali dari Al-Quran dan petunjuk Nabi dan ulama. Pertanyaannya: nilai-nilai kemanusiaan yang mana: Keadilan, kesehatan, keselamatan, kesejahteraan?  Tuntunan Al-Qur’an Fastabiqul Khairat, berkompetisi dalam mengejar dan menjalankan kebaikan. Khairat itu berbentu jamak, banyak. Banyak jenis dan bentuk kebajikan. Juga Amar Ma’ruf: Perintah kepada Ma’ruf, dan Nahyu ‘an Al-Munkar, larangan kepada Munkar. Apa makna ma’ruf di Amerika? Apa saja yang dianggap “baik” di Amerika, di Iran, di Mesir?

Sama nilainya: kebaikan, lawan keburukan, tapi tidak persis sama bentuk dan wujudnya.  Bagi para pendakwah, bagaimana mengajak kepada Islam sebagai sikap berserah diri kepada Tuhan Pencipta (iman), Hari Akhir, dan menjalankan kebaikan atau amal sholih dalam konteks agama dan keyakinan yang sangat majemuk, seperti diinspirasi Al-Quran 2:62 itu? Hal ini perlu terus digali dan penafsiran ulang harus dikembangkan.

Generasi baru NU dan Muhammadiyah makin banyak, dan makin terorganisir di diaspora di luar negeri. Kapasitas keilmuan keagamaan dan bidang-bidang sains dan ilmu moderen makin membesar. Komunikasi global makin mudah.  Dua tantangan besar bagi para generasi penerus NU dan Muhammadiyah di Indonesia dan di luar negeri:

Pertama, menjadikan Indonesia bukan hanya pasar dan pemakai gagasan dan gerakan Islam dari luar, tapi juga penghasil gagasan dan kerja kemanusiaan yang dilihat dan dirasakan umat Muslim dan non-Muslim, dan bangsa-bangsa di dunia.

Kedua, tantangan keorganisasian dan jaringan, bagaimana orang-orang di luar Indonesia tertarik dan menjadi bagian penting pimpinan dan anggota gerakan Islam Indonesia ini. Kedua tantangan ini di luar tantangan besar yang terus dihadapi NU dan Muhammadiyah di  Indonesia.

Dengan potensi, peluang dan kapasitas NU dan Muhammadiyah, visi dan misi internasionalisasi, dengan tantangannya yang tidak kecil, melalui gerakan Islam berkebangsaan dan pencerahan asal Indonesia, bukanlah sebuah mimpi di siang bolong jika nanti citra Islam di dunia akan lebih baik, dan kontribusi islam dan umat Islam makin proaktif dan konstruktif bagi kemaslahatan dan peradaban bangsa-bangsa di dunia.

Demikian sekilas butir-butir renungan akhir tahun ini. Bagaimana pandangan Anda?

 

Prof. Muhamad Ali, Ph.D. Associate Professor & Director, Middle East & Islamic Studies; University of California, Riverside

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *