Inklusifitas di Opening Gereja Mawar Sharon Rooftop

Kabar Utama142 Views

Oleh: Sabrina Laura Median Sumbayak

Inklusifitas dalam pendidikan mempunyai usaha untuk menjangkau semua orang tanpa terkecuali atau tanpa pandang bulu, karena semua orang mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan manfaat yang maksimal dari pendidikan. Walaupun dari latar belakang yang berbeda, karakter yang berbeda, hak dan kesempatan tersebut tidak dibedakan. Pendidikan inklusif sendiri merupakan sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah dan kelas yang biasa bersama teman-teman seusianya. Semangat penyelenggaraan pendidikan inklusif adalah memberikan kesempatan atau akses yang seluas-luasnya kepada semua anak untuk memperoleh pendidikan yang bermutu dan sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik tanpa diskriminasi.

Pada hari Minggu 2 Juli 2023, Gereja Mawar Sharon (GMS) mengadakan acara Grand Opening GMS Rooftop di Surabaya Barat. Dalam pertunjukan choir/paduan suara untuk mengiringi Praise and Worship atau pujian sebelum khotbah, beberapa anggotanya merupakan orang-orang yang berasal dari suku dan budaya yang berbeda dan beberapa dari mereka merupakan seorang disabilitas. Pada saat Praise and Worship dimulai, seluruh choir tampil dan yang menarik adalah pada saat tampil mereka merupakan seorang disabilitas, seperti pada ibadah streaming ke 2 & 3 beberapa orang yang melayani adalah seorang perempuan yang menggunakan kursi roda, remaja perempuan yang mengalami pertumbuhan tidak sempurna, dan seorang anak beranjak remaja yang mengalami autisme. Begitu pula pada ibadah streaming ke-4, yang melayani choir beberapa diantara nya adalah seorang anak laki-laki yang menggunakan kursi roda dan seorang remaja yang mengalami autisme, mereka tampak bersemangat seperti teman-teman mereka yang lain saat bernyanyi dan menari.

Baca Juga: Gender Equality Camp, Upaya Rekonstruksi Pemahaman Gender yang Inklusif

Prinsip di Gereja Mawar Sharon (GMS) ketika seseorang ingin melayani, tidak memandang latar belakang orang itu, mau dia berasal dari daerah mana, berkulit hitam atau putih, selama memiliki kerinduan untuk melayani, mau tertanam dan dimuridkan di Gereja, orang itu dapat melayani sesuai dengan talenta yang ia miliki untuk melayani di bidang yang menjadi kerinduannya. Setiap orang yang ingin melayani diberi kesempatan dan ruang untuk dapat menyalurkan dan mengembangkan talenta yang ia miliki. Syarat untuk dapat melayani di GMS  harus tertanam dan dimuridkan di dalam Gereja dengan mengikuti Connect Group (CG) yang menjadi dasar dari gereja, kemudian mengikuti pelatihan kepemimpinan bernama My Spiritual Journey (MSJ) lalu dapat melayani.

Orang-orang yang datang beribadah ke acara Grand Opening ini juga beragam, mulai dari orang-orang dari Sumatera, Jawa, Timur, orang yang berkulit putih, sawo matang, berkulit hitam, dsb duduk bersama di hall maupun overflow tanpa perbedaan tempat berdasarkan kategori. Tempat duduk untuk penyandang disabilitas pun disediakan di ruang ibadah baik di mainhall maupun overflow dan tetap digabungkan dengan jemaat normal lainnya agar tidak ada perbedaan.

Hal seperti ini sebenarnya membuat orang-orang yang memiliki perbedaan baik dari warna kulit fisik maupun memiliki kekurangan pada diri, merasa bahwa ia memiliki hak dan kesempatan yang sama dengan orang yang lainnya. Seseorang yang memiliki kekurangan pun merasa penerimaan ketika berada dalam Gereja karena diperlakukan seperti orang-orang lainnya dan pada akhirnya ia dapat bertumbuh dan mendapat pelayanan maupun pengarjaran secara memadai di Gereja.

Maka dengan adanya kegiatan Grand Opening di Gereja Mawar Sharon ini dapat menumbuhkan inklusifitas para masyarakat dan gereja lain yang masih tertutup dengan perbedaan yang ada. Hal ini juga berdampak pada pribadi seseorang yang awalnya merasa tertolak karena perbedaan dan kekurangan yang ia miliki, menjadi sebuah penerimaan.

 

Penulis: Sabrina Laura Median Sumbayak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *