by

Ini Jawaban Warga di Daerah Perda Syariah Ketika Ditanya Pancasila

Kabar Damai | Selasa, 13 April 2021

Yogyakarta | kabardamai.id | Masyarakat di daerah penerap perda syariah lebih banyak mendukung penggunaan Pancasila untuk mewujudkan Indonesia yang religius sesuai agama Islam dibanding warga di daerah tanpa perda agama itu. Namun mayoritas sepakat bahwa Pancasila menjadi ideologi identitas NKRI.

Hal ini sesuai temuan survei Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada (PSP UGM) bersama Indonesian Presidential Studies (IPS) yang dipaparkan secara daring dari kampus UGM, Yogyakarta, dan diikuti Gatra.com, Jumat (9/4).

“Warga yang tinggal di provinsi yang sedang atau pernah menerapkan perda syariah dan warga yang tinggal di luar provinsi tersebut mayoritas berpandangan Pancasila adalah ideologi NKRI yang dapat digunakan untuk menentukan identitas bangsa. Total pendukung pandangan tersebut relatif sama, sekitar 90 persen,” tutur Direktur Eksekutif IPS Nyarwi Ahmad.

Nyarwi Ahmad, dalam laporan Gatra (9/4), memaparkan, 63,5 persen masyarakat juga setuju dengan pandangan bahwa Pancasila merupakan ideologi untuk mewujudkan negara-bangsa Indonesia yang religius berdasarkan agama mayoritas atau Islam.

“Kendati demikian, jumlah masyarakat yang menolak atau tidak setuju dengan pandangan yang kedua ini juga cukup besar, yakni 26,8 persen,” katanya.

 

Baca Juga : Survei UGM: Masyarakat Setuju Pancasila Jadi Ideologi Wujudkan Indonesia Religius

 

Menurut Nyarwi, jumlah warga pendukung pandangan bahwa Pancasila ideologi untuk mewujudkan negara-bangsa religius sesuai agama mayoritas di sejumlah provinsi perda syariah lebih banyak di provinsi tanpa perda syariah.

“Jumlahnya jauh lebih besar, 71,1 persen dibandingkan mereka yang di tinggal di luar provinsi-provinsi tersebut, 54,1 persen,” terang dia.

Menurutnya, jumlah warga yang menolak pandangan bahwa Pancasila sebagai ideologi untuk mewujudkan negara-bangsa Indonesia yang religius sesuai Islam cukup besar.

“Namun, mereka yang tidak tinggal di provinsi perda syariah yang mendukung pandangan tersebut jumlahnya lebih besar yakni 34,1 persen dibandingkan dengan mereka yang tinggal di luar provinsi itu, dengan 20,5 persen,” ungkapnya.

Survei itu digelar di 34 provinsi, termasuk provinsi yang tengah atau pernah menerapkan perda syariah, seperti Aceh, Sumsel, Sumbar, Riau, Bengkulu, Gorontalo, Sulsel, NTB, Banten, Jabar, Jatim, dan Kalsel.

Survei digelar medio Maret 2021 dengana 1200 responden. Mereka ditanya dua pertanyaan soal setuju-tidaknya Pancasila sebagai ideologi NKRI untuk identitas bangsa dan sebagai ideologi negara religius Islam. Melalui metode multi stage random sampling, survei ini punya margin kesalahan plus minus 2,9 persen.

Ketua Pusat Studi Pancasila UGM Agus Wahyudi mengatakan riset ini berkonsentrasi melihat konteks spirit reformasi dan demokratisasi. Di tengah bermacam perspektif ini, pemerintah memegang peran kunci dalam memberi interpretasi nilai-nilai Pancasila.

“Apakah narasi dan perkembangan Pancasila di ruang publik sekarang kondusif untuk mengarah atau memperkuat misalnya konsolidasi demokrasi kita. Atau sebenarnya demokrasi justru mengalami kemunduran,” ujarnya.

Pembumian Pancasila di Kalangan Orang Muda

Sebelumnya, UGM pernah menggelar Kongres Pancasila di Balai Senat UGM, 23-24 Agustus 2018 dengan tema “Pancasila, Ideologi Pemersatu Bangsa dan Dunia”.

Helat  tersebut, diwartakan Kompas.com (24/8/2018),  diisi dengan beragam diskusi panel dan mengundang pembicara di antaranya; Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Mahfud MD, beberapa duta besar dan rekanan universitas luar negeri.

Salah satu sub tema yang diangkat adalah “Pancasila dan Generasi Muda” yang menghadirkan beberapa tokoh muda untuk berbagi pandangan mereka tentang Pancasila.

“Membumikan Pancasila bisa dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana, seperti memakai pakaian adat, alat musik hingga makanan,” ujar sutradara muda Hollywood dari Indonesia, Livi Zheng, saat menjadi salah satu pembicara dalam Kongres Pancasila X di balai Senat UGM, Jumat (24/8/2018).

Menurut Livi keberagaman Indonesia dalam etnis dan budaya tersebut merupakan contoh nyata Pancasila yang ada di tengah masyarakat. Kekuatan Indonesia ada pada keberagaman tersebut, kata Livi yang pada 18 Agustus 2018 lalu turut ambil bagian membawa obor Asian Games.

Livi mengatakan dengan kemajuan teknologi saat ini maka akan mudah untuk mengangkat dan mempromosikan keberagaman Indonesia di tingkat dunia.

“Misalnya dalam film Bali Beats of Paradise, saya memperkenalkan gamelan di sana,” ujar wanita kelahiran Blitar itu, seperti dikutip Kompas.com.

Banyak film Livi yang mengangkat sisi kemanusiaan, keberagaman, dan keindahan Indonesia. Termasuk film “Amazing Blitar” yang diluncurkan di Los Angeles Mei lalu mengangkat keberagaman agama, etnis dan budaya di Indonesia.

Film Amazing Blitar juga ditayangkan di kampus-kampus di Amerika Serikat seperti Yale University dan University of California Los Angeles (UCLA).

Wakil Ketua Forum Rektor Indonesia, Prof. Dr. Sutarto Hadi, menilai generasi muda saat ini minim pemahamannya terhadap nilai-nailai Pancasila. Akibatnya, mereka mudah terseret menjadi figur individualis dan tidak punya pegangan dalam arus informasi yang kian terbuka.

Untuk itu, penting mengomunikasikan gagasan tentang Pancasila, khususnya melalui perguruan tinggi, dengan desain dan metode yang mudah ‘dicerna’ generasi milenial.

“Instrumennya sudah ada, lembaga dan landasan hukum sehingga tidak perlu menambah lembaga baru,” tutur Sutarto.

Rekomendasi Kongres Pancasila

Rekomendasi Kongres Pancasila yang berlangsung dua hari itu  memunculkan beberapa rumusan rekomendasi.

Rekomendasi tersebut diantaranya:

  1. Sosialisasi sistematis Pancasila secara kelembagaan mengingat posisi Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.
  2. Pelajaran sejarah, geografi dan budaya perlu diajarkan sejak pendidikan dasar hingga tinggi secara intensif, sistematis dan terstruktur.
  3. Penguatan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
  4. Mempromosikan lebih intensif Indonesia dan Pancasila di kancah dunia serta.
  5. Memfasilitasi generasi muda dalam memperkuat posisi Pancasila.

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed