by

Ingin Disenangi Laki-Laki Bikin Kita Benci Sesama Perempuan

Oleh: Diyanah Nisa

Menjadi perempuan di Indonesia identik sekali dengan menjadi seorang yang penurut, lemah lembut, dan harus mengikuti kemauan lelaki. Kalau pembaca yang perempuan ga merasa seperti itu, berarti kalian beruntung dapat membebaskan diri dari ‘ajaran’ kolot tersebut. Seringkali kita melihat bagaimana perempuan berubah menjadi lebih submisif ketika berhadapan dengan lelaki, atau secara kasarnya menjadi seorang pick me girl.

Istilah ini lebih dikenal di Amerika yang disadur dari urbandictionary.com berarti perempuan yang mencari pengakuan dari lelaki dengan menunjukkan dirinya “tidak seperti perempuan pada umumnya” secara langsung maupun tidak langsung. Suatu bentuk merendahkan diri yang didasari oleh kebencian terhadap perempuan yang ada dalam dirinya (internalized misogyny).

Tak jarang perempuan-perempuan dengan rasa benci terhadap sesama akan merasa senang atau bahkan bahagia ketika ada lelaki yang mengatakan “rame ya kamu mah, ga kaya cewe yang lain.” Atau melakukan sesuatu untuk disenangi oleh lelaki. Mungkin sebagian dari kita juga pernah merasakannya, contohnya keinginan untuk berfoto dengan gitar, walaupun sama sekali tidak pernah bermain gitar.

Berfoto dengan gitar tersebut dengan harapan untuk mendapatkan perhatian dari lelaki dan menjadi tidak seperti perempuan lainnya. Atau mungkin kamu pernah merendahkan perempuan yang berdandan dan bilang “ah, dia mah menor banget, ga kaya aku, natural”. Terkait ini, Anaruda Exwaized dalam artikelnya di Breakthrough menyebutkan bahwa dunia mengkategorikan perempuan menjadi 2 karakter yaitu baik dan buruk yang karakterisasinya secara terus menerus ditekankan.

Baca Juga: Musdah Mulia: Menyentuh Rahim Perempuan Menjadikan Perempuan Aktor Perdamaian

Karakterisasi perempuan baik-baik seperti yang sudah dibahas diawal artikel ini, menurut Exwaized membuat banyak perempuan meliyankan perempuan lainnya untuk mendapatkan tanda ‘baik’ tersebut dengan merendahkan. Tak jarang, keinginan untuk mendapatkannya juga diwarnai dengan keinginan untuk menjauhi karakteristik umum perempuan yang kemudian akan ‘dihadiahi’ lelaki dengan, kamu tidak seperti perempuan lainnya.

Sebenarnya, mengapa hal tersebut harus dipermasalahkan?

Menjadi pick me girl menghancurkan perempuan

Pernah mendengar istilah women support women atau ungkapan-ungkapan serupa lainnya yang biasa orang-orang feminis gaungkan? Urgensi pick me girl yang secara tersirat menunjukkan kebencian terhadap sesama perempuan membuat hal tersebut sulit terjadi. Aastha Jani dari Feminism in India menyebutkan hal tersebut dapat menghancurkan pertemanan antar perempuan.

Narasi-narasi seperti perempuan mana yang lebih baik menggunakan pakaian tertentu, atau siapa yang lebih pantas berpasangan dengan artis tertentu membentuk budaya beracun dimana menjadikan perempuan saling bersaing. Hal tersebut kian digaungkan oleh media dan dunia permusikan karena persatuan perempuan tanpa butuh pengakuan lelaki mengganggu hegemoni patriarkis, lanjut Jani.

Menjadi pick me girl juga membuat perempuan enggan menjadi feminis. Karena lelaki tidak menyukai perempuan feminis dan atas asosiasi negatif “perempuan yang membenci lelaki” yang menyertai kata tersebut membuat beberapa perempuan enggan mencari tahu apa sebenarnya bentuk pergerakan feminisme dan alih-alih tidak mendukung perempuan lainnya yang feminis.

Seperti dibahas sebelumnya, keinginan beberapa perempuan untuk menjadi berbeda dari perempuan lainnya membuat perempuan terkadang kehilangan jati dirinya dan malah terjebak dalam peraturan tidak tertulis yang membatasi pergerakannya. Menjadi tidak terlalu feminin dengan tidak berpakaian pink, mendengarkan lagu rock walau memekakkan telinga untuk disukai lelaki dan lain sebagainya membuat pribadi perempuan menjadi kurang bisa menerima diri dan mudah dimanipulasi dan dieksploitasi.

Ga salah dengan ingin disenangi orang lain, asal dibarengi dengan berpikir kritis agar tidak mudah termakan presumsi umum terhadap perempuan yang dipenuhi dengan pemikiran misoginis lelaki. Perempuan bisa menjadi apapun, melakukan apapun, menggunakan apapun, tanpa pandangan buruk dari manusia lainnya. Saatnya perempuan saling memberdayakan perempuan lainnya dan tidak terjebak pada agenda patriarkis yang saling membenturkan diri perempuan.

Diyanah Nisa, Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed