by

Indonesia, Rumah Nyaman Bagi Semua Golongan!

-Opini-8 views

Oleh: Rio Pratama

“Hasil Tertinggi dari Pendidikan Adalah Toleransi” – Hellen Keller

Indonesia merupakan negara kepulauan yang membentang luas dari Sabang hingga Merauke. Negara yang memiliki total keseluruhan luas 1.904.569 Km persegi ini  juga memiliki setidaknya 13.466 pulau. Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) merilis jumlah penduduk Indonesia sendiri diperkirakan lebih dari 267 juta jiwa sekaligus menempati urutan ke empat penduduk terbanyak di dunia yang kemudian semakin diperindah dengan berbagai kebudayaan dan tradisi yang ada.

Namun, Indonesia yang katanya toleran ini terus terusik seiring dengan berkembangnya zaman dan juga pemikiran sempit dari sebagian warganya. Beberapa peristiwa bernada sara dan menyebabkan kasus intoleransi terjadi yang kemudian terus meningkat kuantitasnya sehingga menyebabkan kekacauan pada  sebagian daerah.

Bentuknya juga beragam misalnya pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan seperti melarang aktivitas keagamaan, merusak rumah-rumah ibadah, intimidasi serta pemaksaan keyakinan dan lain sebagainya. Contoh konkretnya seperti perusakan rumah ibadah di Tanjung Balai, pengusiran  jamaah  Ahmadiyah diberbagai daerah dan masih banyak lagi.

Tidak cukup sampai disitu saja, tindakan deskriminasi terhadap golongan minoritas juga menjadi isu yang cukup hangat saat ini. Dikutip dari data  Komisi  Nasional  Hak Asasi Manusia (Komnas  HAM) yang disampaikan oleh Koordinator SUB Komisi Pemajuan, Beka Ulung Hapsara menjelaskan Isu HAM sepanjang tahun 2019 mencatat  bahwa  kelompok rentan dan minoritas, LGBT, kebebasan beribadah dan berkeyakinan serta  difabel di Indonesia  masuk dalam jajaran isu kedua setelah human right defender atau kriminalisasi aktivis.

Kasus-kasus  bernada intoleransi dapat terjadi dimana  saja, termasuk Kalimantan Barat. Sejarah mencatat, pada tahun 2016 lalu di Kabupaten Mempawah terjadi pengusiran paksa Gerakan Fajar Nusantara  (Gafatar)  dengan cara membakar  permukiman dan mengembalikan mereka ke daerah asal tanpa prosedur yang jelas tentang segala aset yang dimiliki. Celakanya, seperti dikutip dari BCC  Indonesia menyatakan bahwa 50% dari sedikitnya  1,124 anggota eks Gafatar tersebut adalah anak-anak sehingga sangat mungkin terjadi trauma psikis berkepanjangan.

Jauh sebelum kasus Gafatar , sejarah buruk konflik etnis di Kalimantan Barat sudah lebih dahulu terjadi. Sepanjang tahun 1970 hingga 1999 setidaknya terjadi tujuh kali senggolan sengit antara Suku Dayak dan Melayu terhadap Suku Madura di Sambas yang kemudian menyebabkan kekacauan serta kerugian harta benda. Konflik dan kebencian yang tertanam sejak dahulu agaknya juga masih terasa hingga sekarang yang menyebabkan tidak diperkenankannya Suku Madura untuk bermukim di Sambas hingga saat ini.

Baca Juga: Dirjen Pendidikan Islam: Pancasila adalah Titik Temu dari Kemajemukan Indonesia

Konflik suku di Kalimantan Barat lainnya yang juga jelas masih terngiang dalam ingatan misalnya Peristiwa Sanggoledo yang terjadi pada akhir tahun 1996 antara Suku Dayak dan Madura. Menurut cerita, latar belakang terjadinya peristiwa ini hanya disebabkan oleh senggolan saat menonton pertunjukkan dangdut dan berakhir dengan perkelahian yang menyebabkan korban jiwa.

Dampak besarnya ialah penyerangan dan pengusiran Suku Madura yang ada disana. Melihat masih adanya luka lama dari terjadinya peristiwa masa lalu, tidak menutup kemungkinan untuk kembali memunculkan konflik di Kalimantan Barat. Hal ini tentu menjadi keresahan bersama termasuk didalamnya ialah generasi muda.

Menjadi pribadi yang menjunjung tinggi rasa toleransi dan persatuan guna menciptakan kondisi yang damai tentu merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya bagi orang-orang tua namun juga tentunya generasi muda yang semestinya memiliki pemikiran terbuka akan hal tersebut. Bahkan, karena pentingnya perdamaian ini hingga ditetapkanlah tanggal 21 September sebagai Hari Perdamaian Internasional

Perdamaian tidak melalu ditandai dengan berakhirnya suatu peperangan yang terjadi, hal ini sesuai dengan definisi damai yang diungkapkan oleh Anand (2014) yang menuliskan bahwa damai adalah suatu proses dimana individu dapat mengubah suatu sikap dan perilakunya tentang konflik kekerasan, memperoleh nilai-nilai, pengetahuan dan mengembangkan keterampilan dan perilaku untuk hidup dalam harmoni dengan orang lain. Oleh karena itu, damai tidak hanya bersifat keluar namun juga dapat dilakukan secara dalam dengan cara berdamai dengan  diri sendiri terhadap suatu hal terlebih dahulu.

Berbagai konflik yang terjadi di Indonesia khususnya Kalimantan Barat sudah seharusnya menjadi refleksi bersama dalam menjaga perdamaian yang ada, jangan sampai luka sejarah yang telah lalu menjadi bahaya laten yang kemudian dapat kembali memuncak kepermukaan sehingga terjadi gesekan-gesekan dan kemudian mengganggu proses kehidupan yang plural ini.

Sebagai masyarakat Kalimantan Barat, kita boleh sedikit berbangga dengan ditetapkannya Kota Singkawang sebagai kota paling toleran oleh Setara Institute 2018 lalu, hal ini juga turut ditambah dengan dianugerahinya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalbar berupa Harmony Award Tahun 2018 pula yang kemudian semakin menambah citra baik Kalbar sebagai miniatur Indonesia yang plural dan damai. Namun, pencapaian dan rasa bangga ini tidak seharusnya membuat kita lupa jika konflik dapat berulang. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama terutama generasi muda untuk menjaganya.

Sadar akan pentingnya perdamaian Indonesia kini, berbagai tindakan preventif yang menjurus kepada perpecahan sudah semestinya kita laksanakan. Hormat menghormati serta menghargai satu sama lain baik itu suku, agama, ras, golongan dan juga aliran kepercayaan penting dilakukan guna menjadikan Indonesia sebagai rumah yang aman bagi semua golongan.

Mengutip makna Bhineka Tunggal Ika atau berbeda-beda tetapi tetap satu merupakan sebuah gambaran yang pas akan kondisi Indonesia. Walaupun terdiri dari berbagai perbedaan didalamnya, Indonesia tetap berdiri kokoh dan dijunjung tinggi atas dasar keberadaban, toleransi, serta ramah bagi semua rakyatnya.

Namun, Semoga!

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed