by

Indahnya Toleransi di Lereng Gunung Muria: Masjid-Gereja Berdampingan

Kabar Damai I Selasa, 29 Juni 2021

Jepara I kabardamai.id I Sebuah desa di lereng Gunung Muria Kabupaten Jepara, Jawa Tengah ternyata menyimpan kehidupan yang memiliki toleransi yang tinggi. Di sana terdapat tempat ibadah masjid dan gereja yang lokasinya berdampingan.

Dirangkum dari detikcom (2/4), desa itu adalah Desa Tempur Kecamatan Keling. Lokasinya berjarak 51 kilometer dari pusat Kota Jepara atau sekitar 1 jam 32 menit dengan berkendara sepeda motor.

Untuk sampai di sana melewati jalan yang berliku. Terutama dari Kecamatan Keling. Jalannya naik turun disertai pemandangan yang masih hijau.

Sesampai di lokasi, tepatnya Dukuh Pekoso Desa Tempur terdapat masjid dan gereja yang bersebelahan. Nama gereja itu Gereja Injil Tanah Jawa dan Masjid Nurul Hikmah.

Menariknya mereka dapat hidup rukun dan nyaman meski berbeda keyakinan dan agama. Bahkan di beberapa kegiatan hingga saat perayaan hari besar mereka hidup berbaur menjadi satu.

“Di situ ada monumen ciri khas. Yakni satu masjid, dan satu gereja itu berdampingan. Itu sebagai bukti, hidup berdampingan tidak ada perbedaan,” kata Kades Tempur, Mariyono kepada detikcom, Jumat, 1 April 2021.

Baca Juga: Berperan: Potret Baik Gerakan Anak Muda Beri Manfaat Bagi Sesama

Mariyono menuturkan Desa Tempur termasuk desa yang memiliki rasa toleransi tinggi. Di desa tersebut mayoritas beragama Islam. Meskipun perbedaan keyakinan namun bisa hidup secara berdampingan.

“Tempur termasuk desa toleransi sangat tinggi, karena di wilayah presentasi 98 persen adalah Islam. Sisanya (beragama) Kristen,” ujar dia.

Dia pun mencontohkan saat perayaan hari besar mereka pun saling menghormati. Selain itu sehari-hari pun warga yang memiliki perbedaan agama tetap membaur bersama-sama.

“Tolong menolong di sisi sosial saling melengkapi kami tidak membeda-bedakan dari sisi agama, lebih mengedepankan kebersamaan warga. Warga non muslim saat raya Idul Fitri juga ikut berkunjung ke tempat rumah-rumah keluarga muslim yang merayakan. Misalkan natal kita juga teman muslim bergotong royong pelaksanaan, terutama Banser ikut merayakan perayaan. Ini menunjukkan toleransi, perbedaan tidak menjadi masalah,” terang Mariyono.

Tak Ada Konflik, Rasa Toleransi Tinggi

Menurutnya di Desa Tempur terdapat 3.575 jiwa dan ada enam dukuh. Masyarakat secara administrasi beragama Islam dan Kristen. Menurutnya selama ini tidak ada konflik di lingkungan masyarakat.

“Secara administrasi di kependudukan hanya dua, islam dan Kristen. Di tempur ada enam dukuh. Jumlah jiwa saat ini 3.575 jiwa. Untuk sampai saat ini itu konflik tidak ada dengan latar belakang agama. Itu terbukti kami hidup berdampingan,” ujar Mariyono.

Dia pun berharap agar ke depan bisa menjadi contoh bentuk toleransi antar beragama di Indonesia. Dia meminta meski berbeda namun tetap satu yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Walaupun kami hidup di pelosok terpencil di sini, ini menjadi terbuka teman kita di luar sana, bahwa perbedaan itu indah, menjadi rahmat, kita dipersatukan negara Indonesia. Jangan dijadikan perbedaan mencerai beraikan memisahkan satu dengan lainnya,” harapnya.

Terpisah Pendeta Gereja Injil Tanah Jawa, Suwadi mengatakan masyarakat di Desa Tempur memiliki rasa toleransi yang tinggi. Ini terbukti dengan adanya bangunan gereja dan masjid yang letaknya bersebelahan.

“Toleransi di Desa Tempur sangat bagus sekali, sampai sekarang. Kalau ada bangunan (kerja bakti) di gereja, (yang) muslim ikut adil. Bukan hanya tenaga, material juga ikut juga andil, tenaga juga adil. Kalau ada (kerja bakti) masjid juga ikut andil sebaliknya,” terang Suwadi ditemui di lokasi.

“Aktivitas sehari-hari saling membantu dan menghargai. Secara alamiah sejak dulu sampai sekarang,” lanjut dia.

Menurutnya gereja dan masjid sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Gereja dibangun sekitar tahun 1988 dan masjid baru tahun 2003. Menurutnya masjid yang menjadi penasihat pengurus adalah kakaknya.

“Ya dulunya itu kan memang gereja sendiri ya. Gereja dulu sekitar tahun 1988. Selang sekitar 12 tahun baru ada masjid. Kakak yang di masjid, yang gereja ini saya,” jelasnya.

Pengurus Masjid Nurul Hikmah, Abu Abdillah menambahkan selama ini masyarakat di Desa Tempur hidup secara berdampingan. Meski terdapat perbedaan keyakinan. Mereka hidup saling menghargai dan damai.

“Rukun-rukun saja antar dua agama, tidak saling berpendapat lain. Kalau ada kerja bakti. Misalkan masjid membangun, orang kristiani membantu, tapi sebaliknya ada gereja umat islam kita juga membantu. Saling sesama lah. Artinya rukun damai tidak ada masalah apa-apa,” tambah Abu.

Toleransi di Desa Bondo Jepara

Masih di Kabupaten Jepara, juga terdapat potret toleransi. Tepatnya di desa Bondo. Desa Bondo merupakan salah satu daerah pesisir yang berada di Kabupaten Jepara. Mayoritas penduduk di Desa Bondo bekerja sebagai petani, karyawan PLTU dan nelayan.

Desa Bondo dikenal dengan tempat wisata pantainya yang dijuluki ombak mati. Dengan pasir putihnya membuat banyak wisatawan betah untuk berandam selama ber jam-jam di pantai tersebut.

Melansir ulasan akurat.co, tak hanya wisata baharinya yang menarik. Tingkat toleransi antar umat beragama di Desa Bondo juga sangat kental dirasakan. Desa Bondo hanya ada dua agama, yaitu penduduk Islam sebesar 5.227 dan Kristen 5.210 dari total keseluruhan populasi penduduk Desa Bondo berjumlah 10.437 jiwa.

Meski tak banyak yang tau soal kerukunan umat beragama di Desa Bondo, Pelaksana Tugas Kepala Desa Bondo Ahmad Yusron mengakui jika kerukunan umat beragama di Desa Bondo terbentuk secara alami.

“Kita semua kan satu kakek buyut. Walau agamanya berbeda-beda kita tak ada masalah. Karena sejak dulu memang kita berbeda. Kita tak mempermasalahkannya. Justru kita saling melengkapi sehingga dapat aku sampai sekarang,” ujar Yusron.

Menurut sejarawan Jepara Hadi Priyanto, Desa Bondo sejak awal dibangun dengan rasa toleransi cukup baik. Bagaimana tidak, beberapa tokoh yang ikut membangun Desa Bondo mempunyai latar agama yang berbeda-beda.

Cerita itu bermula ketika Gunuwongso bermimpi merasa ditemui seorang laki-laki tua. Laki-laki tua itu memberi pesan kepada Gunowongso untuk berjalan ke arah utara menuju hutan Bondo.

Setelah Gunowongso mendapatkan mimpi itu ia menyeritakan mimpi itu kepada Kalisah (istri Gunowongso). Awalnya Kalisah tak percaya dengan mimpi Gunowongso.

Namun Gunowongso yakin bahwa apa yang dimimpikannya itu nyata dan menganggap mimpi itu sebagai lamat (wangsit) yang memaksa Kalisah untuk mempercayainya.

“Pasalnya istri Gunowongso, itu beraga Islam. Hal itu terbukti Desa Guyangan, Kecamatan Bangsri, Jepara sampai saat ini tak ada pemeluk agama selain agama Islam,” kata sejarawan Kota Jepara yang juga menulis buku Ensiklopedi Topomini Kabupaten Jepara.

Esok harinya, Gunowongso dan istrinya ke hutan bondo dengan membawa bekal seadanya. Selama perjalanan bertahun-tahun, akhirnya mereka tiba di hutan Bondo sekitsar 15 September 1860 akhirnya Gunowongso dan Kalisah memutuskan untuk babad hutan Bondo 15 September 1865.

Kerukunan Antarwarga yang Terus Terjaga

Ketika babad hutan Bondo Gunowongso dan istrinya juga dibantu Ibrahim Tunggul Wulung bersama istrinya Endang Sampurnowati sahabatnya yang beragama Islam dari Kota Kediri.

Sejak saat itu, mereka mempunyai banyak keturunan yang menetap di Desa Bondo. Hingga saat ini kerukunan antar agama yang diwariskan leluhurnya masih terjaga dengan baik.

Menurut Hadi, itulah sebab kenapa sampai saat ini di Desa Bondo tak ada gesekan agama yang bearti. Toleransi di Desa Bondo sudah mengakar jauh saat pertama kali Desa Bondo dibuat.

Tak perlu jauh-jauh, Hadi sendiri terlahir dari keluarga yang taat beragama Kristen. Terbukti pada tahun 1990 ia menjadi pimpinan disalah satu gereja yang berdekatan dengan rumahnya. Namun, Ada juga beberapa saudaranya yang saat ini memeluk Islam.

“Tidak ada paksaan dalam beragama. Kalau di dalam Islam ada istilah bagimu agamamu bagiku agamaku. Kita mempunyai pilihan sendiri-sendiri dan orang tua kita tak ada masalah. Malah bisa saling mengisi,” kata dia sembari memperlihatkan nama-nama kerabatnya yang memeluk Islam.

Masalah agama sudah selesai di Desa Bondo, tinggal bagaimana merawatnya.

“Sampai saat ini seperti itu. Saat ini yang menjadi Kepala Desa merupakan Pak Puwanto yang bertalar belakang agama Islam, sebelumnya Bambang dari agama Kristen, sebelumnya lagi Rusmanto Islam, Sudaryanti Kristen, Rohim Islam. Jadi seperti ganti-gantian gitu dan itu memang terbentuk secara alamiah,” kata sembari mengingat-ingat pergantian kepala Desa Bondo dari beberapa periode sebelumnya.

Selain karena terbentuk secara alamiah, tokoh agama yang ada di Desa Bondo juga turut menjaga silaturahmi dengan baik sehingga kerukunan antar warga dapat dibina dengan baik.

“Setiap bulan Oktober juga ada acara gulungan. Acara tersebut merupakan rasa syukur kepada tuhan yang memberikan alam kepada warga Bondo, sehingga warga Bondo mampu memberi sandang pangan kepada keluarga. Pada acara tersebut semua tokoh agama ikut dan mendoakan secara bergantian dengan cara agama masing-masing,” ucap pria paruh baya itu.

Tokoh Islam Desa Bondo, Anwar mempercayai bahwa kerukunan di Desa Bondo merupakan keniscayaan bagi warga Desa Bondo. Ia meyakini toleransi adalah ajaran agama Islam.

“Kerukunan antar agama di Desa Bondo sangat baik. Ketika orang Islam mengadakan kegiatan tahlilan orang Kristen ya datang kalau orang Kristen mengadakan saut syukur ya orang islam pada datang,” jelas pria yang juga aktif di Nadlatul Ulama itu.

Anwar mencontohkan. Ketika kegiatan pawai idul fitri atau malam takbiran juga banyak warga Kristen Desa Bondo yang mengikuti perayaan untuk menyambut hari raya Idul Fitri.

“Anak-anak muda Kristen Bondo juga ikut. Mereka ikut membantu menjaga lalu lintas, dan juga ikut menghiasi kostum pawai yang diwakili setiap masjid di Desa Bondo,” kata dia.

Kuncinya adalah Kemanusiaan

Menurut Anwar yang membuat warga Desa Bondo rukun adaah kemanusiaan. Menurutnya Umat Kristen maupun Umat Islam sama-sama masyarak Indonesia yang mempunyai hak untuk hidup di tanah ini dengan cara saling menghormati.

“itulah sifat rohimnya Allah,” jelasnya sembari mengutip beberapa ayat yang ada di Quran.

Sebagai salah satu tokoh Islam di Desa Bondo, saat bulan puasa Anwar melarang membaca quran menggunakan pengeras suara melebihi jam 09:00 WIB.

“Kegiatan agama di bulan ramadhan harus selesai jam 09:00 WIB agar tak mengganggu umat beragama yang lain. Itu merupakan gambaran sikap saling menjaga dan saling menghormati yang ada di Desa Bondo,” ungkap dia.

Bahkan, kata dia, ketika hari raya Idul Fitri umat Kristen Desa Bondo juga ikut berputar mengikuti tradisi umat islam sebagai simbol saling memaafkan antar warga Desa Bondo .

“Kemarin saat idul fitri pak pendeta dari sini. Saya pun juga seperti itu walapun terkadang mengucapkan natal melalui pesan Whatsapp. Menurutnya, apa yang dilakukan murni karena rasa kemanusiaan,” tandasnya.

Menurutnya kerukunan sudah membudaya sejak dahulu. Seperti tradisi ruwahan, slametan yang biasa dilakukan orang Islam juga dihadiri warga Kristen.

“Mereka juga ikut bantu-bantu dan hadir dalam tradisi ruwahan maupun slametan walaupun hanya diam. Begitupula sebaliknya, ketika saya diundang umat Kristen juga hadir walau hanya diam dan mendengarkan,” terang Anwar.

Ketika warga Kristen ada yang meninggal, warga Islam juga ikut mendoakan, membantu menyiapkan pemakaman hingga ikut ke pemakamannya.

“Ketika pemilihan kepala daerah  tidak ada gesekan antar agama. Semua dibebaskan, ada orang Islam dukung orang Kristen dan ada juga orang Kristen yang mendukung orang Islam,” imbuhnya.

Selain itu, Gereja Injil Tanah Jawa  Bondo dan Masjid Baitul Mamur yang saling berdekatan tak sedikitpun terjadi gesekan. Justru ketika membangun masjid dibantu umat Kristen. Begitupula bangunan gereja yang ada di sebelahnya. Gereja tersebut juga dibangun dengan hasil gotong royong umat Islam dan Kristen di Desa Bondo.

“Ketika membangun masjid ini beberapa pekerjanya malah yang bayar orang Kristen, hal-hal seperti ini murni dari hati nurani kita bersama,” kata dia sembari memperlihatkan bangunan masjid dan gereja yang saling berdekatan.

Satu Rumah Tak Satu Agama

Bahkan, karena sejak kecil semangat toleransinya begitu tinggi banyak keluarga yang mempunyai latar belakang agama yang berbeda-beda. Ia menyebutkan, dalam satu rumah belum tentu satu agama. Beberapa keluarga ada yang suaminya beragama Islam dan yang istrinya beragama Kristen.

“Terkadang, lanjutnya, bapak atau ibunya Kristen namun anaknya memeluk Islam ya juga banyak begitupun sebaliknya. Bahkan yang suami istri mempunyai agama yang berbeda juga ada. Kalau hal-hal seperti itu kita tak bisa mencegah. Itu sudah urusannya dia sama Tuhan dan hidayah Tuhan itu memang berbeda-beda,” beberya.

Menurutnya untuk hidup di Desa Bondo yang terpenting adalah hidup rukun, tidak boleh saling menyindir yang menciptakan perpecahan.

“Jadi kita membangun kebijaksanaan agar semangat pluralisme yang dibawa orang tua kita tetap terjaga hingga masa yang akan datang,” jelasnya.

Pendeta Desa Bondo Triyanto menyayangkan terjadinya beberapa konflik agama secara horizontal maupun vertikal di republik ini. menurutnya, persoalan agama adalah urusan masing-masing.

Ia mencontohkan selama hidup di Desa Bondo, Triyanto malah bersahabat dengan orang Islam. Bahkan, beberapa kerabatnya juga ada yang memeluk Islam. Menurutnya, dengan perbedaan ini malah dapat saling melengkapi dan belajar antara satu dengan yang lainnya.

“Apalagi Kristen merupakan agama kasih sayang. Jadi ini memang jalan kasih sayang kita semua melalui toleransi dan bersahabat dengan semuanya,” ujar Priyanto. [detikcom/akurat.co]

 

Penyunting: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed