by

Indahnya Kerukunan Antar Umat Beragama: Pengabdian Romo Carolus

-Kabar Tokoh-169 views

Dalam Alkitab ada tertulis “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39). Kalimat tersebut menjadi prinsip hidup bagi seorang Romo Carolus. Mencintai sesama manusia seperti mencintai diri sendiri, dimana kita secara pribadi telah dikasihi oleh Tuhan. Tuhan yang telah mencintaimu, tanpa batas, tanpa syarat, dan tanpa memandang perbedaan.

Bagi Romo Carolus yang paling membahagiakan adalah mengasihi dan keberhasilan orang lain adalah kebahagian terbesar baginya.

“Yang membahagiakan adalah mengasihi, keberhasilan orang lain lebih membahagiakan kita dari keberhasilan kita sendiri” tuturnya.

Romo Carolus atau Charles Patrick Edward Burrows lahir di Serville, Irlandia, 8 April 1943 adalah seorang Pastor dari kongregasi Oblate Maria Immaculata. Pada tahun 1973, Romo Carolus ditugaskan oleh kongregasinya untuk berangkat ke Indonesia, dan Cilacap menjadi daerah pengabdian Romo Carolus.

Pada tahun 1976, Cilacap mengalami kesulitan pangan, beberapa desa mengalami gagal panen. Romo Carolus kemudian mendirikan Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS). Melalui yayasan tersebut Romo Carolus mencarikan bantuan makanan. Ia juga mulai membangun infrastruktur dan membantu warga memulai profesi barunya sebagai petani. Banyak warga beralih profesi dari nelayan menjadi petani akibat sedimentasi yang dibawa Sungai Cimeneg.

Romo Carolus datang bukan dengan program. Ia datang untuk mendengarkan dan bertanya pada masyarakat apa yang mereka mau dan butuhkan.

“Saya datang untuk mendengarkan, tidak pernah punya program. Kita selalu tanya masyarakat mau apa lalu kita berusaha,” jelasnya.

Selain pemberdayaan ekonomi, Romo Carolus juga fokus pada pendidikan dan kerukunan antar umat beragama. Pada tahun 1978, ia mulai membangun sekolah. Beberapa Lembaga Pendidikan yang ia bangun diperuntukan bagi siapa saja, tanpa memandang ia mampu atau tidak mampu, termasuk memandang agama, karena 90 persen siswa yang bersekolah di sana beragama Islam.

“Paling penting mendidik, supaya anak terdidik, punya semangat, dan bisa melawan serta memperjuangkan haknya. Tahun 1978 saya mulai bangun sekolah,” terang Romo Carolus.

Salah satu warga Ujung Gagak, Cilacap pun menyampaikan bahwa kedatangan Romo Carolus tidak pernah membawa embel-embel lain. Ia hadir dengan misi sosialnya, dan hal itulah yang membuat ia diterima oleh masyarakat Cilacap dimana mayoritas agama warga di sana adalah muslim.

“Dia hadir di sini misinya sosial, tidak pernah dia ada embel-embel lain, dan ternyata diterima oleh tokoh dan masyarakat yang ada di sini,” ungkap Dedi Kusnaedi, warga Ujung Gagak, Cilacap.

Banyak hal baik yang muncul ketika kerukunan antar umat beragama terjalin. Kerukunan tersebut telah dimulai dari Cilacap. Relasi seorang Romo Carolus yang pastinya beragama Katolik dan warga Cilacap yang mayoritas beragama Islam. Selanjutnya, mulailah di tempatmu dan rasakan indahnya kerukunan antar umat beragama. [ ]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed