Indahnya Keberagaman dan Pentingnya Toleransi di Indonesia (Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara)

Oleh Junior Franata Ananda Tarigan

“Sebaiknya kita tidak melihat keberagaman itu sebagai hal yang buruk, melainkan kita melihat bahwa keberagaman itu sebagai hal positif yang dapat membuat kita menjadi Negara yang lebih maju dan besar”

Sejarah Suku Karo

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami dataran tinggi Karo, Provinsi Sumatera Utara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama Kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami yaitu dataran tinggi Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo dan memiliki salam khas yaitu Mejuah-Juah. Sementara pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.

Suku ini awal mulunya ada karena di bawa oleh bangsa India Selatan yang berbatasan dengan Mianmar. Menurut cerita dari orang Karo asli yaitu Sempa Sitepu bahwa pada awalnya seorang Maharaja yang sangat kaya, sakti dan berwibawa yang tinggal di sebuah negeri bersama permaisuri dan putrinya, yang terletak sangat jauh di seberang lautan. Raja tersebut juga mempunyai seorang panglima sakti dan berwibawa bernama Karo. Ia adalah orang asli bangsa India.

Pada suatu ketika Maharaja ingin pergi dari negerinya dan mencari tempat tinggal baru serta ingin mendirikan kerajaan yang baru. Ia mengumpulkan semua pasukannya dan menganjurkan mereka semua untuk bersiap-siap berangkat ke negeri seberang. Maharaja juga mengajak putrinya Miansari, sang putri sangat senang karena pada saat itu dia sedang jatuh cinta dengan panglima ayahnya tersebut yaitu Karo. Lalu Maharaja memutuskan untuk
memecah kelompok tersebut menjadi 2 kelompok. Kemudian ia menyuruh putrinya Miansari untuk bergabung dengan panglima perang yaitu Karo. Kelompok Karo bersama putri Maharaja. Miansari membawa 2 dayang dan 3 pengawal kerajaan ikut serta dengan mereka. Akhirnya mereka mulai berlayar menyeberangi lautan dengan rakit kecil yang mereka buat sendiri.

Demikianlah mereka mulai berlayar mengarungi lautan. Namun sangat disayangkan dalam perjalan mereka mengarungi lautan kelompok Karo justru mengalami musibah yang sangat dasyat. Angin ribut dan ombak yang sangat besar menerjang mereka mengakibatkan kelompok Karo justru terdampar di suatu pulau yang mereka tidak kenal.

Mereka pun terpisah dari kelompok Maharaja. Setelah beberapa bulan kelompok Karo dan Maharaja terpisah akhirnya Karo dan putri Miansari memutuskan untuk menikah.

Pernikahan mereka disaksikan langsung oleh 2 dayang dan 3 pengawal yang ikut dengan mereka.

Setelah beberapa bulan tinggal di pulau tersebut mereka pun memutuskan kembali untuk mencari tempat yang lebih baik dari tempat itu. Mereka memasuki sebuah pulau yang tidak begitu jauh dari tempat mereka yakni pulau Perca (atau yang sekarang kita sebut sebagai pulau Sumatera) dan tempat itu sekarang bernama Belawan. Dari tempat itu mereka kembali melanjutkan perjalan menelusuri air sungai menuju pedalaman. Lalu tibalah mereka di suatu tempat yang sekarang disebut Durin Tani. Di sana terdapat sebuah gua yang disebut Gua Umang.

Di dalam gua itu lah mereka beristirahat untuk beberapa hari sebelum mencari tempat yang lebih aman. Kemudian mereka kembali menelusuri hutan dan mengikuti aliran sungai menuju daerah pegunungan. Setelah beberapa hari lamanya dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di kaki Gunung. Mereka tinggal di kaki Gunung itu selama beberapa bulan, hingga kemudian Karo melihat masih ada tempat yang jauh lebih luas dan subur. Lalu Karo menyuruh anjing peliharaanya untuk menyemberangi sungai tersebut. Beberapa hari kemudian Anjing peliharaannya tersebut kembali dengan selamat. Sungai tersebut sekarang disebut “Lau Biang” oleh masyarakat setempat. Akhirnya Karo dan kelompoknya memutuskan untuk menyebrangi sungai (Lau Biang) itu.

Beberapa hari kemudian tibalah mereka di suatu tempat yang mereka inginkan. Daerah itu diberi nama Mulawari yang berseberangan dengan si Capah yang sekarang disebut “Desa Seberaya”.

Dengan demikian Karo dan kelompoknya adalah pendiri kampung pertama di Tanah Karo dan mereka memutuskan untuk tinggal selamanya di daerah tersebut.

Bulan demi bulan, tahun demi tahun akhirnya Karo dan Miansari dianugrahi 7 keturunan. Anak pertama sampai anak keenam semuanya adalah perempuan. Anak ketujuh mereka adalah laki-laki yang diberi nama Meherga yang berarti berharga atau mehaga (penting) sebagai penerus suku Karo.

Dari sanalah akhirnya lahir “Merga” bagi orang Karo yang berasal dari Ayah (penerus Merga orang Karo) sedangkan bagi anak perempuan disebut “Beru”. Merga akhirnya menikah dengan anak Tarlon yang merupakan saudara bungsu dari Miansari. Dari Merga dan Cimata kemudian lahir lima orang anak laki-laki yang namanya merupakan 5 induk merga etnis suku Karo, yaitu:
1. Karo. Diberi nama karo tujuannya bila nanti nenek moyang suku Karo telah tiada Karo lah sebagai ingatan. Sehingga nama leluhurnya tidak akan pernah hilang.
2. Ginting adalah anak ke-2.
3. Sembiring diberi nama Sembiring karena dia terlahir berwarna kulit hitam.
4. Perangin-angin diberina nama Perangin-angin karena ketika ia lahir angin berhembus dengan kencang.
5. Tarigan yang merupakan anak bungsu

Mayoritas dan penduduk asli dari Kabupaten Karo adalah suku Karo, dan tersebar di semua Kabupaten Karo Karo. Selain itu, ada sebagian lagi suku terdekat Karo yakni suku Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Pakpak. Ada pula sebagian kecil suku pendatang lainnya seperti Nias dan jawa yang umumnya banyak terdapat di kecamatan Kabanjahe dan Berastagi.

Agama dam Tantangan Keberagaman di Kabupaten Karo

Penduduk di kabupaten Karo umumnya adalah suku Karo dan mayoritas menganut agama Kristen. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Karo 2021, penduduk yang beragama Kristen sebanyak 74,31%, dimana Kristen Protestan 58,22% dan Katolik 16,09%. Selain itu agama Islam juga banyak dianut penduduk Kabupaten Karo, yakni mencapai 25,90% dan selebihnya menganut agama Buddha yakni 0,41%, Konghucu 0,35% dan Hindu 0,03%, dan umumnya berada di Kabanjahe dan Berastagi.

Tantangan keberagaman yang kerap terjadi di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara ialah masalah kepentingan suku dan agama masing-masing. Seperti yang dapat kita lihat pada tulisan di atas bahwasanya suku dan agama yang mendominiasi di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara ialah suku Karo dan agama Kristen. Jauhnya perbedaan, banyaknya jumlah suku dan agama di daerah ini membuat masyarakat kerap merasa suku dan agamanya lah yang paling benar dan yang paling penting, ini tentu membuat kurangnya rasa menghargai perbedaan di tengah masyarakat Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera.

Baca Juga : Pentingnya Komunitas Toleransi Bagi Generasi Millenial

Nah lalu bagaimana sih peran dari masyarakat setempat dan pemerintah ??

Peran Masyarakat

Peran masyarakat Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara dalam menghargai keberagaman, masyarakat suku Karo sudah mulai mau menghargai kebudayaan dan agama lain diluar dari suku dan agama mereka. Contohnya ketika teman-teman Muslim berpuasa masyarakat suku Karo khususnya yang beragama Kristen tidak makan sembarangan di depan mereka. Begitu juga sebaliknya ketika teman-teman agama Kristen merayakan hari
besarnya seperti hari raya Natal, teman-teman agama Islam tak jarang mengucapkan selamat hari Natal kepada teman-teman agama Kristen.

Peran Pemerintah Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara

Peran pemerintah dalam menjaga keberagaman di Kabupaten Karo menyelenggarakan ajang festival budaya setiap tahun yaitu pesta bunga dan buah yang berlokasi di Kota Berastagi (Open Steak Taman Mejuah-Juah). Dimana dalam ajang festival budaya ini masyarakat dipertunjukkan tentang budaya-budaya yang dimiliki masyarakat setempat.

Jadi dengan begitu masyarakat pun sadar bahwasanya keberagaman itu bukanlah hal yang buruk dan perlu di waspadai, tetapi keberagaman itu membuat masyarakat Kabupaten Karo semakin lebih maju dan berkembang.

Lalu Apa Dampaknya Jika Kita Tidak Bisa Menghargai Keberagaman??

Kurang memahami keragaman dalam masyarakat Indonesia dapat menimbulkan beberapa dampak negatif, antara lain:

a. Terjadinya konflik dalam masyarakat, seperti konflik ras, konflik antarsuku, maupun konflik antaragama.
b. Disintegrasi atau perpecahan bangsa. Konflik sosial karena perbedaan ekonomi, status sosial, ras, suku, agama, hasil kebudayaan, dan yang lainnya, bisa memicu perpecahan bangsa.
c. Munculnya sikap memandang kebudayaan sendiri lebih baik dari kebudayaan orang lain dan merendahkan kebudayaan masyarakat lain. Sikap ini bisa memicu konflik antarkelompok masyarakat.
d. Munculnya sikap nasionalisme berlebihan hingga menganggap bangsa lain lebih rendah.
e. Kurangnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan membuat pemerintah sulit menetapkan kebijakan serta pemerataan pembangunan.

Jadi begitulah indahnya keberagaman dan pentingnya toleransi di Indonesia (Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara). Maka dari itu kita sebaiknya dapat menyontoh sikap teladan masyarakat dan pemerintah di Kabupaten Karo, dalam menjaga keberagaman di daerahnya (Indonesia). Sebaiknya kita tidak melihat keberagaman itu sebagai hal yang buruk, melainkan kita melihat bahwa keberagaman itu sebagai hal positif yang dapat membuat kita menjadi Negara yang lebih maju dan besar.

Saya selaku penulis sangat berharap kepada kita semua agar terus mampu menjaga keberagaman di tengah-tengah kita (bangsa Indonesia). Saya mengucapkan terimakasih kepada para pembaca dan saya berharap tulisan ini dapat menambah manfaat bagi kita semua. Akhir kata saya ucapkan terimakasih.

Indonesia ada karena keberagaman, kalau tidak ada keberagaman
maka tidak perlu ada Indonesia…
– K.H. Abdurrahman Wahid

 

Penulis: Junior Franata Ananda Tarigan, Peserta SKPLA Angkatan 1 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *