by

In Memoriam Farid Husain: Sosok Kunci Perdamai RI – GAM

-Opini-136 views

Kabar Damai I Kamis, 25 Maret 2021

 

Oleh: Gomar Gultom

 

Saya baru saja mau rebahan di kamar hotel ketika menerima kabar dari Loli J Simanjuntak: Farid Husein meninggal dunia sejam lalu di RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Ah, saya baru saja tiba di Rantepao setelah seharian perjalanan panjang Makassar – Tanah Toraja.

Sayang sekali saya tak mungkin melayat, walau sedang berada di Sulsel.

Sudah lama juga tak mendengar kabar beliau.

Semula, selama bertahun-tahun saya hanya mengenalnya sebagai atasannya Loli, dan tak pernah berintetaksi dengannya. Maklum dia pejabat tinggi: Dirjen Yankes di Kemenkes. Tapi karena beliau juga Sekretaris CCM Global Fund untuk ATM, sedikit banyak saya mengikuti juga sepak terjangnya. Apalagi pada tahun-tahun ketika saya dan Loli banyak menggeluti masalah AIDS.

Interaksi saya yang intens dengan beliau justru terjadi sesudah beliau pensiun. Di sekitar 2007 beliau ditunjuk oleh SBY (Susilo Bambang Yudoyono) sebagai special envoy untuk masalah Papua. Dan oleh karena tugas saya sebagai Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia di PGI, berkali-kali kami jumpa dan diskusi tentang masalah Papua.

Komunikasi kami menjadi sangat kuat ketika beliau mengetahui saya suami Loli. Sebelumnya mereka banyak kerjasama dalam kapasitas Loli sebagai Ketua Komite AIDS HKBP yang berbasis di Balige.

Saya sangat mengapresiasi kerja keras dan komitmennya sebagai special envoy tersebut. Betapa tidak, dalam usia yang sudah relatif lanjut, beliau menjelajahi pedalaman Papua.  Naik turun gunung, untuk menjumpai berbagai pihak yang bersengketa di Papua, termasuk para petinggi OPM. Mendengar kisah-kisah beliau menjumpai tokoh-tokoh tersebut berikut lika-likunya sangat menarik dan menegangkan.

Awalnya beliau sangat antusias. Dari beberapa kali pertemuan dengannya saya menangkap kesan bahwa dialog Papua dan Jakarta akan segera terwujud. Hingga pada suatu hari beliau berkata, “sepertinya usaha kita akan sia-sia”. Apa pasal?

Menurutnya SBY menyambut baik upaya yang beliau rintis, dan bersedia meneruskan langkah-langkah yang beliau rekomendasikan dalam rangka menuju dialog penyelesaian menyeluruh masalah Papua. “Ada kekuatan-kekuatan di sekitar istana yang tak suka apa yang saya kerjakan”.

Baca juga: Mengenang Nawal El Saadawi, Feminis Mesir yang Gigih dalam Berkarya

Dan tak lama kemudian, akhirnya memang Farid Husein berhenti. Saya tidak tahu apakah beliau mundur atau penugasannya diakhiri oleh SBY. Pokoknya berhenti begitu saja, sesuatu yang saya sangat sesalkan. Sejak itu saya tak pernah bertemu beliau lagi, hingga mendengar berita malam ini.

Ketika di kemudian hari, 2011, SBY membentuk UP4B dan dikomandoi oleh Letjen Bambang Darmono, dan sobat saya Amiruddin Al Rahab mempertemukan saya dengan Pak Bambang, saya sempat menyampaikan kepada Pak Bambang agar meneruskan apa yang sudah dirintis oleh Farid Husein. Tapi nampaknya hal itu tak bersambut.

Strategi Farid Husein dalam mengatasi konflik adalah melakukan langkah-langkah pendahuluan berupa pendekatan personal yang cair, sebelum menghadirkan dua pihak di ruang pertemuan yang serba formal dan kaku.

Sesungguhnya penugasan sebagai special envoy untuk masalah Papua kepadanya tidaklah mengejutkan. Farid telah membuktikan diri sebagai sosok pemersiap perdamaian. Banyak penulis yang mengakui itu.

Walau namanya tidak secemerlang Jusuf Kala dan Hamid Awaludin dalam perdamaian Helsinki, Farid Husein adalah sosok kunci di balik perdamaian antara RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Publik memang hanya mengetahui Jusuf Kalla yang ketika itu menjabat Wakil Presiden atau Hamid Awaludin selaku Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia ketika itu. Padahal sesungguhnya, Farid Huseinlah yang mempersiapkan semua itu sehingga penandatanganan perdamaian itu bisa terjadi.

Atas jasanya dalam perdamaian itu, beliau memperoleh Bintang Jasa Utama dari Pemerintah RI pada 2010. Selain itu, beliau juga memperoleh Gelar Pahlawan Masa Kini, bidang Perdamaian dari Modernisiator Indonesia dan Majalah TEMPO (Tahun 2008). Pemerintah Aceh sendiri menganugerahinya dengan Gelar Bungong Jaroe Perdamaian dari Pemerintah Aceh pada 2006.

Kini Sang Perintis Perdamaian yang murah senyum itu telah tiada. Namun karyanya untuk perdamaian akan terus dikenang dunia, khususnya masyarakat Aceh.

 

Pdt. Gomar Gultom, Ketua Umum PGI

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed