by

Ikhtiar Rawat Kebinekaan dan Jaga Perdamaian Harus Terus Dilakukan

Kabar Damai | Kamis, 15 April 2021

 Jakarta I Kabardamai.id I Full Gospel Business Men Fellowship International (FGBMFI),  perkumpulan para pengusaha profesonal. Rabu, (14/4/2021) malam menyelenggarakan diskusi dengan teman Ikhtiar Merawat Kebinekaan, Menjaga Perdamaian.

Sebagai pembicara Ahmad Nurcholish, deputi direktur ICRP yang juga Pemimpin Redaksi Kabar Damai. Kegiatan dilaksanakan via zoom meeting dan diikuti oleh anggota chapter FGBMFI tersebut.

Dibuka dengan saling berkenalan, acara dilanjutkan dengan doa Kristen dan pemutaran profil lembaga oleh Moderator Vincent Jaya Saputra. Selanjutnya, diberikan waktu kepada peserta untuk bercerita tentang penyertaan Tuhan dalam hidupnya.

Erwan Gunawan salah seorang peserta menceritakan tentang rencananya mendirikan warung kopi diawal pandemi, ketika mendapatkan lokasi yang strategis ia berencana untuk membeli lokasi namun sulit untuk menghubungi pemiliki rumah lokasi tempat warung kopi tersebut akan dibuka, namun tak lama muncul pandemi. Ia bersyukur, berkat penyertaan Tuhan akhirnya tidak jadi merugi.

Sementara Albert Hananto, peserta lain mengungkapkan keprihatinannya melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini yang tidak ada empati dan rasa cinta akan bangsanya. Bahkan menurutnya, ia juga menemui bahwa terdapat anak muda yang baru tahu jika Indonesia itu beragam.

Pluralisme dan Tantangan Indonesia

Dalam materinya, Ahmad Nurcholish menuturkan bahwa sebagai negara yang besar, Indonesia adalah negara yang juga plural karena terdiri dari berbagai suku dan agama serta golongan yang beragam.

“Indonesia termasuk bangsa yang sangat plural, dibanding negara-negara manapun. Dari 34 provinsi ada 17.491 ribu pulau dan 1.340 suku bangsa, 718 bahasa ibu dan 9 Agama lebih serta 187 kelompok penghayat kepercayaan,” terangnya

 

Baca Juga : Anak Muda Tionghoa dalam Isu Kebhinekaan

Menurut penulis buku Merajut Damai dalam Kebinekaan ini, selain karena kemajemukannya. Pancasila sebagai dasar negara juga menjadi pengikat sehingga melahirkan persatuan dan perdamaian.

“Dari sejumlah keberagaman itu, ada pengikat atau pemersatu yang membuat kita damai. Tidak ada perang, walaupun ada di sebagian wilayah namun tidak masif. Itu karena ada Pancasila. , Pancasila dalam hal ini tidak semata sebagai dasar ideilogi bangsa tetapi juga merupakan warisan terbesar dari para pendiri bangsa ini,” tandasnya.

Nurcholish memberikan analogy  kekuatan dan keberagaman di Indonesia melalui konstruksi gedung dan taman bunga nan indah.

“Mengapa gedung-gedung pencangkar langit itu dapat berdiri kokoh menjulang tinggi hingga puluhan bahkan ratusan lantai, karena dibangun dari beragam material yang berbeda. Pun dengan taman yang indah itu. Ia indah dan menyenangkan karena ditanami dengan beragam jenis tanaman dan bunga yang beragam,” bebernya.

“Keberagaman itu sunatullah, jika ada orang atau kelompok yang  ingin membuat menjadi seragam maka ia tidak menghargai sunatullah atau rahmat dari Tuhan itu sendiri,” jelasnya.

Walaupun keberagaman dapat dijadikan sebagai sumber kekuatan, namun menurut Ahmad Nurcholish,  Indonesia masih punya tantangan dalam penyelenggaraan kehidupan. Hal ini karena terus menjamurnya paham intoleransi yang terus berkembang menjadi  ektrimisme atau radikalisme, bahkan terorusme.

“Walaupun demikian kita masih punya tantangan, yakni masih suburnya praktir intoleransi yang mengarah kepada sikap atau tindakan ekstrimisme atau radikalisme, yang kelak bias berkembang menjadi tindakan terror,” paparnya.

Survei SETARA dan IPS

Survei Setara Instute yang dirilis awal April 2021 lalu tentang kondisi kebebasan beragama menunjukkan adanya intoleransi di masa pandemi menyatakan bahwa 24 rumah ibadah mengalami gangguan yang mana terdiri dari 14 masjid, 7 gereja, 1 pura, 1 wihara dan 1 klenteng.

Selanjutnya, dari 180 peristiwa pelanggaran KBB terdapat 422 tindakan yang 238nya dilakukan oleh aktor negara seperti pemerintah daerah dan kepolisian. Sedangkan 184 lainnya dilakukan oleh aktor non-negara.

Selain itu, diperkuat dengan hasil riset dari Indonesian Prudential Studies tentang pandangan publik terhadap Pancasila sebagai ideologi NKRI serta perwujudan negara berbasis Islam yang hasilnya perlu perhatian khusus bagi masyarakat dan negara.

Survei di atas sejatinya menjadi warning dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat.

Lantas apa yang mesti kita lakukan?

“Menurut saya pertama ialah kembali pada esensi agama yang mengajarkan cinta kasih dan kemanusiaan, memperbanyak ruang perjumpaan, hidupkan dan kembangkan kembali dialog antar umat beragama dan selanjutnya melakukan kerjasama antar umat beragama,” terang Nurcholish.

 

Kabar Damai

Seiring dengan terus berkembangya zaman dan kemudahan mengakses informasi, aksi ektrimis tidak hanya dapat ditularkan melalui pertemuan langsung, melainkan juga akses media sosial yang dapat dilakukan oleh semua orang.

Oleh karenanya, Nurcholish menyatakan perlu adanya media  informasi yang dapat menyaring atau menjadi kontra narasi dari pemberitaan atau informasi yang buruk di luaran.

“Internet dan media media sosial punya pengaruh dalam menentukan pemikiran dan perilaku seseorang. Seperti misalnya yang ada di Makassar atau perempuan yang menembak polisi di Mabes Polri, itu semua pahamnya didapatkan dari media social dan situs daring yang kian marak. Oleh karena itu, sebagai ikhtiar kami dalam menyajikan isu-isu kebhinekaan, kini telah ada Kabar Damai. Kabar Damai menyajikan informasi yang baik sebagai ruang yang menyajikan narasi-narasi positif penuh toleransi,” jelasnya.

Sesi diskusi memantik sejumlah peserta melontarkan pengalaman dan pertanyaan.  Satu diantaranya Albert Hananto. Sebagai seorang pendidik, ia kerap menemukan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang radikal sehingga ia bertanya apakah ada layanan khusus tempat aduan atas kasus seperti itu.

“Hingga saat ini saya belu tahu apakah ada kanal aduan untuk itu. Tapi loginya, untuk sementara dapat diadukan ke atasannnya. Misalnya jika itu dilakukan oleh ASN yang mengabdi di kecamatan, maka kita dapat adukan ke camatnya,” jawab Nurcholish sembari mengapesiasi pimpinan PELNI yang membatalkan sejumlah narasumber atau penceramah di kantornya yang ditengarai memiliki pemahaman radikal.

Pertanyaan lain datang dari Markus yang bertanya perihal saling berkolaborasinya umat beragama dalam menjaga rumah ibadah serta aksi bersih-bersih ibadah yang apakah masih ada dan relevan unuk dilakukan.

Menjawab pertanyaan tersebut, Nurcholish menuturkan bahwa hal serupa masih kerap ditemukan hingga saat ini.

“Menjaga rumah ibadah masih dilakukan, apalagi oleh teman-teman Banser dan Ansor. Namun yang menjadi catatan  dan pembelajaran supaya tidak hanya fokus pada pengamanan Natal namun juga Paskah. Kedua perihal bersih-bersih rumah ibadah, tradisi ini sudah dilakukan melalui komunitas Peace Train Indoneaia. Sebelum berdiskusi dengan tokoh agama di rumah ibadah yang kita kunjungi, kita bersih-bersih terlebih dahulu,” terangnya.

 

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed