by

Ikhtiar Mencegah Ideologi Transnasional

Oleh: Dwi Mardiansyah

Manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki ketergantungan terhadap orang lain, membutuhkan interaksi dengan lingkungan. Interaksi ini salah satunya melalui komunikasi. Seiring majunya teknologi, komunikasi antar-manusia semakin lama terus berkembang. Teknologi informasi menggambarkan perkembangan peradaban manusia yang diiringi melalui perkembangan cara penyampaian informasi. Dulunya manusia purba menyampaikan informasi melalui lukisan di dinding-dinding goa. Sekarang arus informasi sudah bisa diakses dengan mudah melalui internet. Dan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi yang kita nikmati saat ini merupakan hasil dari evolusi yang akan terus berlanjut ke masa depan.

Memasuki abad ke-20, tepatnya antara tahun 1910-1920, perkembangan TIK (teknologi informasi dan komunikasi) ditandai dengan sebuah transmisi suara tanpa kabel melalui siaran radio AM yang pertama. Komunikasi suara tanpa kabel ini pun segera berkembang pesat. Kemudian perkembangan televisi bermula dari penemuan Kinescope oleh Vladimir Kozma Zworkyn pada 1923.

Valdimir Kozma mampu menciptakan suatu sistem berbentuk penangkapan gambar, transmisi dan sistem receiving. Pada 1939, Vladimir Kozma dan Farnsworth melakukan komersialisasi telvisi dan bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Komputer elektronik, juga sebagai wujud perkembangan TIK, beroperasi prtama kali pada tahun 1943. Lalu diikuti oleh tahapan miniaturisasi komponen elektronik melalui penemuan transistor pada tahun 1947 dan rangkaian terpadu (integrated electronics) pada tahun 1957.

Perkembangan teknologi elektronika, yang merupakan cikal bakal TIK saat ini, mendapatkan momen emasnya pada era Perang Dingin. Persaingan IPTEK antara blok Barat (Amerika Serikat) dan blok Timur (dulu Uni Soviet) justru memacu perkembangan teknologi elektronika lewat upaya miniaturisasi rangkaian elektronik untuk pengendali pesawat ruang angkasa maupun mesin-mesin perang.

Sejarah internet dimulai ketika J.C Licklider ditunjuk sebagai kepala program ARPANET, yang bertujuan untuk menghubungkan komputer-komputer melalui jaringan. Dari program tersebut, konsep internet ditemukan dan dikembangkan lebih lanjut. Perkembangan internet terus maju, dan pada tahun 1990 Institut Teknologi Massachusetts (MIT) berhasil menemukan program World Wide Web Consortium dan Tim Berners Lee menemukan program browser yang berbasis jaringan. Pada masa kini internet bisa kita akses dengan menggunakan teknologi tanpa kabel (wireless). Bila revolusi industri menjadikan mesin-mesin sebagai pengganti ‘otot’ manusia, maka revolusi digital (karena konvergensi telekomunikasi – komputasi multimedia terjadi melalui implementasi teknologi digital) menciptakan mesin-mesin yang mengganti (atau setidaknya meningkatkan kemampuan) ‘otak’ manusia.

Baca Juga: Menjadikan Ideologi Pancasila Sebagai Filter Perkembangan Zaman dalam Mencegah Konflik

Pengamat politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedillah Badrun menjelaskan, ideologi transnasional merupakan ideologi yang menyebar dan dianut oleh warga di banyak negara. Biasanya, ideologi transnasional sangat terbuka untuk diperdebatkan, karena memiliki indikator dan metodologi yang jelas. Menurut dia, ideologi ini turut mempengaruhi sistem ekonomi dan sistem politik suatu negara. Ia menyebut, ideologi transnasional mencakup paham-paham seperti Liberalisme, Neoliberalisme, Komunisme, Neokomunisme, Zionisme, hingga Panislamisme/ekstrismisme agama.

Akhir-akhir ini ideologi Pancasila bangsa Indonesia mendapatkan tantangan yang luar biasa di tengah arus globalisasi dan semakin cepatnya perkembangan informasi dan komunikasi membuat adanya gerakan ideologi baru transnasional (ideologi individualisme, liberalisme, dan ekstrismisme agama). Ideologi Pancasila yang terbuka, komprehensif  dengan adanya berbagai aliran Ideologi yang masuk di Indonesia kini ideologi Pancasila  mendapatkan percobaan untuk menyelesaikan atas persoalan benturan peradaban antara ideologi Pancasila dan ideologi transnasional.

Ideologi Pancasila yang sudah final kini mulai digerus dengan masuknya ideologi baru yang dapat merusak norma sosial, kebudayaan, tradisi luhur dan norma agama, bahkan ideologi itu ingin dijadikan sebagai dasar negara.  Oleh karena itu, ketika Ideologi transnasional menyebar semakin berkembang akan menyebabkan kekhawatiran dan justru menciptakan distabilitas bangsa Indonesia terutama pertentangan dengan Ideologi Pancasila.

Untuk mencegah ideologi ini negara harus hadir , pemerintah harus hadir, bagaimana caranya, adalah melibatkan aparatur sipil negara (ASN) untuk mengedukasi ke masyarakat dan dalam dunia digital Pemerintah melalui KOMINFO harus lebih menyeleksi situs-situs dan web-web yang berisikan informasi mengenai ideologi yang menyimpang dan jika sudah masuk keranah menghasut untuk meninggalkan ideologi Pancasila situs itu perlu di block.

Menurut Guru Besar Bidang Ilmu Filsafat dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof M Mukhtasar Syamsuddin cepatnya informasi dan komunikasi yang berkembang sekarang menjadi cobaan bagi Negara untuk mencegah berkembangnya Ideologi transnasional. Hal yang perlu dilakukan Negara untuk mengedukasi ke masyarakat bahwa Ideologi transnasional sudah marak adanya adalah menjabarkan kembali temuan atau data dan informasi hasil penelitian tersebut ke dalam bentuk petunjuk operasional untuk menangkal ideologi transnasional. Untuk memastikan efektivitas upaya tersebut diperlukan sinergi dan koordinasi kelembagaan baik antarlembaga pemerintah maupun antarlembaga sosial masyarakat guna ikut menyebarkan petunjuk operasional tersebut, terutama di lembaga pemerintahan atau organisasi kemasyarakatan yang berkepentingan melaksanakan program penangkalan paham asing yang tidak sesuai dengan budaya bangsa.

Tentunya BNPT perlu bersinergi dengan lembaga pendidikan dalam memanfaatkan hasil digitalisasi dokumen agar nilai-nilai kearifan lokal dapat disertakan dalam materi pembelajaran di lembaga pendidikan dan perlunya visualisasi yang masif melalui media sosial yang digandrungi anak muda terkait nilai-nilai kearifan lokal sebagai hasil dari reproduksi dokumen yang memuat nilai kearifan lokal dari berbagai kebudayaan daerah. Demikian halnya dengan nilai-nilai kearifan lokal yang berbentuk perilaku, budaya, dan nilai-nilai masyarakat perlu divisualisasi secara masif melalui pementasan kebudayaan, perfilman, seni panggung, atau video yang dapat mengisi ruang-ruang media sosial,” tuturnya.

Dengan demikian untuk mencegah menyebarkan ideologi transnasional memerlukan terlibatnya banyak pihak dimulai dari negara,aparat pemerintahan, tokoh agama, tokoh masyarakat, para pendidik, kaum profesional, generasi muda Indonesia dan seluruh rakyat indonesia untuk terus bersatu dan bergerak aktif memperkokoh nilai-nilai Pancasila, serta pemerintah harus menyeleksi penyebaran informasi mengenai ideologi transnasional yang banyak di internet.

Karena dimasa sekarang penyebaran informasi dan komunikasi sangat pesat yang bisa mengakibatkan timbulnya distabilitas bangsa Indonesia. Masyarakat juga perlunya menanamkan sikap rela berkorban untuk bangsa dan negara yaitu bersedia mengorbankan Waktu, Tenaga, Pikiran, Jiwa dan Raga untuk kemajuan bangsa dan negara. Kedua cinta tanah air mengenali dan memahami serta mencintai wilayah nasional, menjaga tanah dan perkarangan serta seluruh wilayah ruang indonesia. Dan terakhir menjadikan pancasila sebagai ideologi negara yakni memahami dan melaksanakan nilai dalam pancasila serta menjadikan pancasila sebagai pemersatu bangsa dan negara.

Refleksi dari nilai-nilai Ideologi Pancasila yang dapat kita lakukan dalam sehari-hari adalah Pertama ketuhanan yang maha esa. Yang mana penerapannya ini artinya Bhineka Tunggal Ika berbeda-beda tetapi satu jua,maksudnya dari kata ini, yaitu kita harus toleransi misalnya menghargai orang  yang berbeda kepercayaan.

Kedua kemanusiaan yang adil dan beradab, artinya kita harus mengakui hak,kewajiban dan kedudukan semua orang sama dimata hukum, sosial dan agama dan lainnya.  Dan saling mengedepankan sikap toleransi atau tenggang rasa antar masyarakat dan menjalin pertemanan dengan siapa saja tanpa membedakan ras, suku dan agama dan lainnya.

Ketiga persatuan Indonesia, untuk penerapannya yaitu bangga menggunakan bahasa ibu atau bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan sehari-hari kemudian melestarikan budaya Indonesia seperti baju adat, tarian, alat musik, makanan khas Indonesia bahasa dan lain-lain dalam kehidupan sehari-hari.

Keempat yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan, penerapannya seperti musyawarah untuk memperoleh keputusan bersama, mengedepankan keadilan dan bermusyawarah untuk memakai mufakat. Kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, penerapannya mengedepankan sikap adil kepada sesama manusia melaksanakan kewajiban dan menghormati hak orang lain.  Serta kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Oleh: Dwi Mardiansyah, Siswa SMAN 1 Pontianak

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed