by

Ihktiar Marawat Lingkungan Melalui Nobar dan Diskusi “Kinipan”

Kabar Damai | Senin, 26 April 2021

Pontianak I Kabardamai.id I Aksi Kamisan Pontianak bersama Walhi menyelenggarakan nonton bareng dan diskusi film Kinipan. Turut hadir sebagai pemantik diskusi Norman Jiwan dari TUK Indonesia serta Yeni Mada, peneliti di Balai Bahasa Kaliamantan Barat.

Tidak hanya nobar dan diskusi, acara ini juga sekaligus menjadi sarana bersolidaritas melalui donasi untuk NTT. Diselenggarakan di Bioskop BPNB, Pontianak. Sabtu, (24/4/2021)

Nobar dan diskusi ini menjadi sarana bertemunya anak muda dan akademisis serta praktisi dalam membahas permasalahan-permasalahan lingkungan yang ada di Indonesia, khususnya yang ada di Kinipan sebagai pemantiknya.

Norwan Jiwan mengapresiasi film ini karena disajikan dalam part-part sehingga lebih mudah dipahami oleh penonton. Selain itu, menunjukkan masalah yang tidak hanya di Kinipan namun juga yang ada diberbagai wilayah dengan data pendukung yang baik.

Menghubungkan film ini dengan musibah di Timur Indonesia, menurut Norwan mengungkapkan bahwa saat ini krisis iklim yang dahsyat sudah dapat kita rasakan hingga terjadinya bencana-bencana yang ada.

Baca Juga : Nur Hidayat: Tak Ada Bencana Yang Alami

“Dengan adanya diskusi ini menunjukkan kita sudah berada pada krisis yang dahyat, multi dimensi dan menunjukkan kerusakan iklim sudah terjadi di depan mata, walaupun tidak disadari. Krisis iklim seperti yang terjadi di NTT dan NTB adalah bentuknya,” ujarnya

Kerusakan dan eksplitasi menjadi realitas yang justru dibuat oleh pemerintah lewat proyek-proyek raksasa. Selain dampak kerusakan, masyarakat juga mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan lewat kriminalisasi.

“Realitas seperti dalam Kinipan, tidak hanya ada dimasyarakat adat Dayak namun juga rakyat yang menjaga hutan juga kemudian di kriminalisasi dan di penjara,” tambahnya

Ia juga menyoroti besarnya porsi pengusaha dalam parlemen yang kemudian menghasilkan omnibuslaw. Salah satu peraturan yang akan semakin menghancurkan lingkungan dimasa depan.

“Refleki setelah melihat Kinipan, menghentikan uang saja tidak cukup untuk menghentikan kejahaan-kejahatan lingkungan karena sudah sangat parah. Lebih dari 65 persen yang duduk dikursi parlemen saja pengusaha termasuk presiden dan banyak menterinya sehingga wajar jika produknya adalah omnibuslaw,” bebernya.

Tidak bisa dielakkan bahwa keserakahan oligarki adalah yang membuat lingkungan akan hancur, bukan perlahan namun sudah berjalan.

“Yang ingin saya tekankan bahwa realitas kritis badai di NTT dan NTB adalah hasil keserekahan oligarki yang berdampak bagi masyarakat kecil, ketika ini terus dibiarkan kita akan kehilangan generasi kedepan. Film ini mengajarkan kita untuk bersolidaritas bersama,” ungkapya.

Melawan Opligarki

Senada dengan Norwan, Yeni Mada mengungkapkan bahwa ordelah yang menjadi sumber kerusakan lingkungan saat ini.

“Banyak masalah yang disebabakan oleh orde yang menyebabkan permasalah baru. Misal tentang kerusakan. Begitu pula tentang kota, dari banyak wilayah yang disebutkan dalam film akan dibentuk food estate untuk lumbung pangan itu untuk kebutuhan kita di kota. Kemudian berdampak kepada matinya satwa dan melanggengkan glorifikasi di kota. Itu menjadi refleksi mendasar yang menyebabkan menjadi saya lebih emosional dalam menyaksikan film ini,” kata Yeni

Yeni menambahkan, melawan oligarki tidaklah menjadi hal yang salah. Namun harus dilakukan dengan sehormat-hormatnya.

“Jika kita sekarang sadar, sedang dimakan oleh kapital dan akan melawan. Setidaknya kita tahu untuk melawan dengan sehormat-hormatnya,” tandasnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed