by

Romo Hariyanto: ICRP Berkomitmen Menjadi Mitra Forum Adat dan Agama di Papua

Kabar Damai | Jumat, 18 maret 2022

Jakarta | kabardamai.id | Romo Johannes Hariyanto SJ, Sekertaris Umum ICRP memastikan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) akan mendukung kesuksesan Analisis Papua Strategis (APS) dalam menggelar Konferensi I (Pertama) Analisis Papua Strategis  pada 28 sampai 30 April 2022 di Biak Papua.

ICRP sendiri didirikan oleh para pemuka agama dari berbagai agama dan kepercayaan di Indonesia. Diresmikan 12 Juli 2000 oleh Presiden Indonesia, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. ICRP menekankan pada upaya menegakkan keadilan dalam berbagai perspektif: gender, HAM, spiritualitas, ekonomi, sosial dan politik.

Dengan didirikan oleh Gus Dur, hal inilah yang menjadi latar belakang Laus Deo Calvin Rumayom, Ketua Analisis Papua Strategis dan Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Cenderawasih, Jayapura Papua menggandeng ICRP sebagai mitra strategis.

Pengembangan Masyarakat Adat

ICRP akan berkontribusi untuk memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan masyarakat adat dan agama di Papua.

Dalam Konferensi I Analisis Papua Strategis  ICRP akan berperan sebagai fasilitator  yang memberi dukungan semangat serta menjadi partner bicara bagi forum adat dan agama di Papua. Adapun ICRP ini tidak akan bergerak secara birokratis, dan sebelum dimulainya konferensi juga akan digelar sesi brainstorming secara informal.

Partner Bicara Forum Agama di Papua

 

 

 

 

“ICRP sebagai mitra hanya ingin menjadi fasilitator yang memberi semangat dan menjadi partner bicara bagi masyarakat adat dan forum agama di Papua,” terang Romo Hariyanto, Rabu (16/03/2022).

Keberagaman budaya di Papua sangat kaya dan kompleks, sehingga peran ICRP diharap bisa membantu menyediakan wadah bagi masyarakat melalui pendekatan kultural yang mengedapankan kemanusiaan, kesetaraan dan keadilan.

Romo menyarankan agar pertemuan seperti ini, jangan berhenti hanya di Konferensi I Analisis Papua Strategis, namun ia berharap agar pertemuan forum masyarakat adat dan agama di Papua bisa dilakukan beberapa kali dengan lokasi yang bergantian di seluruh wilayah Papua.

Menjangkau Seluruh Wilayah Papua

Lebih jauh, Romo menyebut setidaknya pertemuan bisa diagendakan  setiap tiga bulan sekali dan lokasinya pun berpindah-pindah. Menurutnya, perlu menjangkau lebih banyak lokasi yang berbeda- beda supaya situasi lokal bisa lebih terasa.

“Jika dilakukan tiga bulan sekali, maka akan memunculkan gambaran soft infrastruktur,” kata beliau.

Baca Juga:  Catatan Ketua Umum PGI Terhadap Konferensi I Analisis Papua Strategis

Meski demikian, Romo Hariyanto mengingatkan agar agenda konferensi yang akan digelar ini tidak ditunggangi kepentingan birokrasi.

Dengan berkolaborasi bersama ICRP, Laus Deo Calvin Rumayom, Ketua Analisis Papua Strategis dan Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Cenderawasih, Jayapura Papua berharap  Konferensi I Analisis Papua Strategis dapat berlangsung dengan sukses dan lancar.

“Dengan bermitra bersama ICRP, kami berharap dapat mendukung pengembangan Indigenous People (Masyarakat Adat) dan Agama di Papua dalam tujuh wilayah adat,” tandas Laus.

Deputy Direktur ICRP, Ahmad Nurcholish menambahkan pemerintah harus membangun kembali jalinan dialog yang sudah dibangun sejak lama dan diinisasi oleh Presiden RI ke-4 Gus Dur, yang salah satunya mengembalikan nama Papua dari Irian Jaya.

“Harus terus dirawat dan dijadikan bekal serta komitmen kebangsaan bersama menuju terciptanya masyarakat yang adil dan beradab. Dalam hal ini, bersama tokoh lintas agama harus utamakan dialog persuasi rasa kemanusiaan jangan dengan pendekatan keamanan dan kekerasan agar tidak menimbulkan masalah baru. Papua adalah kita dan kita adalah manusia-manusia yang memiliki harkat dan martabat,” ucapnya.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed