by

Hukum Memakai Behel dalam Islam

Kabar Damai I Minggu, 25 Juli 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Tren mempercantik diri sejak dulu selalu berkembang. Banyak yang dilakukan oleh masyarakat guna mendapatkan penampilan yang maksimal bagi dirinya, misalnya operasi dan lain sebagainya.

Kini, menggunakan behel gigi juga banyak digunakan. Tujuannya beragam, mulai karena sebab tuntutan medis atau guna mempercantik diri. Lantas, bagaimana Islam memandang behel atau kawat gigi ini?

Ning Imaz Fatimatuz Zahra dalam kanal youtube NU Online menjelaskan hukum behel dalam Islam. Diawal pemaparannya, ia menyatakan bahwa menggunakan behel diperbolehkan asal memiliki tujuan yang benar.

“Dari yang saya pelajari, diperbolehkan selama dia ini menggunakannya memiliki gharadlun shahih (tujuan yang benar-red) yaitu dengan tujuan medis bukan hanya untuk tujuan yang hanya mempercantik diri saja,”.

“Misalnya tujuannya untuk meratakan gigi yang mana giginya ini sangat tidak beraturan sehingga sangat mudah sekali sisa-sisa makanan tersangkut dan mudah berlubang sehingga perlu diratakan dengan mengunjungi dokter gigi yang kompeten dalam bidang kawat gigi kemudian memang direkomendasikan oleh dokter bahwa ini sebaiknya menggunakan kawat. Maka itu diperbolehkan,” ungkapnya.

Walaupun demikian, mazhab Maliki menurutnya memperbolehkan. Hal ini berkaitan karena perempuan memang punya kecenderungan untuk mempercantik diri.

“Namun jika hanya untuk tujuan bergaya atau mengikuti tren, kemudian hanya untuk mempercantik saja tanpa ada nilai medisnya itu tidak diperbolehkan. Namun menurut konsep lain, dalam mazhab Maliki itu diperbolehkan menggunakan behel kalau hanya dengan tujuan mempercantik,”.

“Misalnya kita ingin menghilangkan aib didalam diri kita seperti gigi tumbuh ataupun gigi yang tidak beraturan dan ingin diratakan meskipun dalam tujuan tersebut kita ini memiliki tujuan mempercantik diri itu tidak apa. Karena kecenderungan perempuan untuk mempercantik diri itu diperbolehkan seperti menghilangkan bulu ditubuh misalnya diperbolehkan,” jelasnya panjang lebar.

Islam melarang umatnya mengubah bentuk atas diri yang ia miliki, namun dalam konteks behel gigi ini masih diperbolehkan karena bukan bersifat permanen.

Baca Juga: Hukum Kurban Seekor Kambing Untuk Satu Keluarga

“Mengubah bentuk yang dilarang itu bersifat permanen mungkin bisa dikategorikan seperti operasi plastik kemudian seperti mengubah yang sebenarnya baik-baik saja namun diperbaiki, ditambahi ataupun dikurangi itu baru disebut permanen sedangkan behel disini seperti memperbaiki aib,” tuturnya.

Menurut Ning Imaz, contoh yang diperbolehkan sehingga seseorang menggunakan behel seperti misalnya giginya tidak rata, tonggos ataupun ada yang mengganggu sehingga sulit untuk mengunyah makanan ini seperti halnya aib dalam diri seseorang yang mana ketika diperbaiki bukan berarti ia mengubah yang seharusnya tidak perlu diubah, karena memang ada yang perlu diperbaiki.

Mengubah bentuk tubuh dalam Islam memang dilarang, namun ada pula yang diperbolehkan.

“Perubahan dalam Islam itu memang tidak perbolehkan tapi tidak semua perubahan ini juga dilarang. Seperti halnya memotong kuku yang memang disyariatkan itu perubahan, memotong rambut tapi tidak dilarang,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed