by

Homo Digitalis dan Kebutuhan Kita pada Filsafat

Oleh: Moh. Ainu Rizqi

Plato pernah mengatakan bahwa jiwa kita ini sesungguhnya “terpenjara” dalam tubuh, raga, yang sifatnya fana ini. Hal tersebut yang menjadikan Plato memiliki argumen yaitu realitas ini terdiri dari dualisme. Realitas sejati, kata Plato, terletak di alam idea. Alam nir-ragawi, sedangkan yang ada dan dapat dilihat dengan panca-indera ini merupakan realitas yang semu. Seperti alegori “goa”-nya Plato yang masyhur.

 

Saat ini, ketika Covid-19 membabak-belurkan semua aspek kehidupan, work from home menjadi andalan yang utama bagi seluruh manusia. Adanya demikian menimbulkan konsekuensi bahwa semua kegiatan, baik kerja, pembelajaran, perkuliahan, dll. “dipaksa” menggunakan media digital yang bisa membuat manusia berjejaring lintas daerah, lintas bahasa, lintas waktu, lintas keadaan, hingga lintas kesadaran(?) Lagi-lagi mengingatkan kita pada Plato, bahwa tubuh kita “terpenjara” di rumah, namun jejaring dan pikiran kita bisa mengembara ke mana-mana melalui dunia lain, yaitu dunia digital.

 

Manusia dalam Ruang Digital

 

Sebelum berkembangnya era digital, Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon logon echon, yakni makhluk pemakai bahasa. Saat itu penutur bahasa (seseorang) hadir dalam langsung secara ragawi. Sedangkan di era revolusi digital saat ini, manusia bisa berkomunikasi tanpa kehadiran ragawi secara dekat. Keduanya dapat berkomunikasi dalam lintas jarak dan waktu yang berbeda, namun dalam dunia yang sama: dunia digital.

Perlu kita ketahui, bahwa manusia menurut Christian Montag (2018) hanyalah sebuah komponen sistem media komunikasi. Karena dalam sebuah jejaring, komunikasi digital manusia hanya penyalur pesan dari internet of things. Ya, meskipun pada awalnya jejaring digital digunakan sebagai alat untuk menyalurkan pesan antar-manusia, namun tak dapat dipungkiri bahwa manusia kini diperalat oleh media digital.

Manusia yang pada awalnya merupakan homo sapiens (manusia bijak, manusia cerdas, manusia modern) kini beralih menjadi homo digitalis. F. Budi Hardiman (dalam buku Aku Klik, Maka Aku Ada, 2021) mengatakan bahwa homo digitalis merupakan makhluk yang dikendalikan media, berfungsi sebagai media, dan mengadaptasi iklim teknologi digital.

Homo digitalis ini tak cukup hanya menggunakan media, lebih jauh lagi, manusia kini bereksistensi menggunakan media. Kita saat ini bereksitensi dengan chatting, upload foto, upload status, dan beropini dengan gagahnya, melalui media—yang keseluruhannya telah berwajah digital dan klik-able bagi jari-jari semua manusia.

Dengan mengguritanya media digital, ditambah pula wabah Covid-19 yang masih saja gaib, baik berakhirnya maupun kebijakan-kebijakan terkaitnya, manusia kini semakin bersetubuh dengan media digital. Dengan begitu tentu menimbulkan konsekuensi bahwa segalanya dapat diakses melalui media digital. Dimanjakannya manusia dengan kemudahan mengakses segala hal, menjadikan sebuah fakta kian buram. Kebenaran terjerembab dalam keburaman yang paripurna.

Persoalan fakta dan kebenaran yang kian kabur tersebut membuat kehidupan manusia di dalam dunia digital serasa kacau, parahnya, kekacauan virtual tersebut merembet pada kekacauan korporeal. Kekacauan tersebut dapat berakar dari hoax, bocornya privasi personal di publik digital, hingga aib yang seakan-akan tak punya tempat berpijak lagi.

Kendati demikian, di era digital ini ragam literasi juga beralih rupa menjadi literasi digital—informasi, pengetahuan, dan wawasan baru—yang kini dengan mudahnya kita akses melalui media yang tersedia. Untuk memilih dan memilah mana yang sepatut-layaknya kita konsumsi di media digital, tentunya diperlukan kebijaksanaan dalam memanfaatkannya. Di sinilah filsafat akan relevan.

Filsafat dalam Pusaran Literasi Digital

Literasi digital dalam buku Peran Literasi Digital di Masa Pandemik (Suherdi, 2021) merupakan pengetahuan serta kecakapan manusia sebagai pengguna dalam memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi, jaringan internet, dan lain-lain. Kecakapan manusia dalam memanfaatkan media digital ini tak terlepas dari kemampuannya dalam mengerjakan, menemukan, mengevaluasi, menggunakan serta memanfaatkannya secara bijak dan cermat sesuai kegunaannya agar tidak zalim.

Baca Juga: Optimisme Sains dan Berhala Filsafa

Untuk menjadi bijak tersebut, kiranya filsafat hadir sebagai titik tolak dalam mengupayakan sikap bijaksana dan tepat dalam memilah-memilih sesuatu sesuai dengan kebutuhan. Di era saat ini, mendengar kata “filsafat” acapkali membuat dahi kita berkerut. Banyak orang yang berpendapat bahwa filsafat adalah sesuatu yang berada di menara gading. Rumit, abstrak, tinggi, mengawang-awang, terlalu banyak hal yang abstrak sehingga sulit untuk dipahami.

Padahal filsafat sebenarnya sangat menggoda dan seksi untuk kita pelajari. Franz Magnis Suseno (1992) menyatakan bahwa filsafat pada hakekatnya adalah ilmu kritis. Filsafat membawa manusia menjadi kritis akan semua hal, bahkan dirinya sendiri. Sikap kritis inilah yang menjadikan manusia bisa mempertanyakan, meragukan, dan menganggap sesuatu itu benar atau salah. Berangkat dari sikap kritis tersebut, filsafat pada akhirnya sangat dibutuhkan sebagai pakaian untuk mengunjungi rimba digital ini.

Berfilsafat berarti berpikir, namun tidak semua berpikir dapat dikatakan berfilsafat. Berfilsafat memiliki ciri khas dalam berpikir, yaitu:

  • Radikal: mencari sesuatu hingga ke akar-akarnya yang terdalam, sehingga tidak tergesa-gesa dalam menyimpulkan segala sesuatu.
  • Sistematik: runtut, mengerucut, dan bagian perbagian. Dari yang pokok lalu diuraikan menjadi detail-detail yang lebih rinci
  • Rasional: masuk akal, logis dalam menyusun kerangka berpikir.
  • Universal: berarti berpikir secara menyeluruh, tidak terpaku pada aspek tertentu saja.
  • Bebas dan tanggung jawab: berfilsafat berarti bisa berpikir apapun dan bebas dari pengaruh-pengaruh sosial, sejarah, budaya maupun agama. Namun tetap dalam disiplin yang sangat ketat—salah satu cabang filsafat yang membuat
    • kebebasan berpikir ini agar tetap dalam koridor adalah pembahasan logika. Karena dengan logika yang beres, maka kebenaran dapat diketahui secara sukses (meskipun setiap kebenaran masih bisa diperdebatkan). Oleh karena itu, kebebasan berpikir tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan pada diri sendiri maupun pada orang lain dengan kedisiplinan yang ketat.

    Kelima ciri berpikir filsafat yang dirangkum dari berbagai sumber tersebut sangat kita butuhkan dalam menjelajahi rimba digital. Pasalnya literasi digital tidak melulu memberikan dampak yang baik terhadap manusia. Dengan benar-benar mudahnya kini mengunggah sesuatu hingga opini, apalagi jika telah dibumbui dalil yang ditafsir sesuai kepentingannya sendiri dan golongan, maka kita dituntut benar-benar selektif agar tak terjatuh pada jurang kekacauan.

    Implementasi filsafat dalam rimba digital maupun ketika aktif dalam literasi digital sebenarnya sangat mudah dan tidak muluk-muluk. Seperti ujar Friedrich Nietszche: Menunggu, bersabar, itulah berpikir. Pada dasarnya kita hanya perlu menunggu dan bersabar. Tidak tergesa-gesa menentukan bahwa informasi yang didapat di media itu pasti benar; tidak tergesa-gesa menjustifikasi seseorang bahwa apa yang diunggahnya adalah fakta yang benar-benar terjadi.

    Dua Dunia dalam Satu Jari

    Berfilsafat dalam dunia digital kiranya dapat menjadi sebuah katarsis bagi kabur dan keruhnya informasi yang banjir bandang. Dengan menerapkan pola berpikir filsafat, kita tak akan mudah berprasangka dan—meminjam konsep dekonstruksi Derrida—menunda setiap klaim kebenaran dari otoritas. Sebab tanpa kita sadari, dunia digital sendiri pun memiliki otoritas yang berwujud influencer, yang validitas serta kapabilitasnya belum tentu, dan para buzzer yang menjadi representasi mental kerumunan.

    Hingga hari ini, masih banyak ditemui orang yang tampil gagah penuh performa di dunia digital, namun senyap dan pecundang di dunia korporeal. Padahal dua dunia tersebut saling berkesinambungan satu sama lain. Sebuah pesan yang disampaikan di dunia digital akan berdampak pada dunia korporeal. Satu contoh adalah ketika seseorang menjalin hubungan asmara virtual.

    Bagi sebagian sejoli yang terhalang oleh jarak, sarana digital menjadi senjata ampuh bagi mereka untuk menjalin kasih. Namun sering terjadi kerunyaman ketika pesan yang disampaikan tanpa kehadiran tersebut gagal dipahami oleh salah satu pihak, sehingga menjadikan pertengkaran dan menyebabkan kegalauan dalam waktu yang tak dapat ditentukan.

    Itulah pentingnya filsafat, setidaknya memberi jeda waktu untuk mengklasifikasi dan menjaga rasionalitas agar tak kalah oleh ego serta emosi kita yang cenderung irasionalitas. Keseimbangan antara ego dan rasio-lah yang sebenarnya kita butuhkan dalam menghadapi dua dunia tersebut: dunia digital dan dunia korporeal.

    Oleh karena itu, etika-etika yang biasanya kita terapkan di dunia korporeal—dunia nyata—perlu kita terapkan pula di dunia digital. Jika di dunia nyata kita ingin diperlakukan sesuai apa yang kita inginkan, maka kita harus memperlakukan orang lain serupa. Begitu pun di dunia digital, jika ingin diperlakukan dengan baik, maka perlakukanlah orang lain dengan baik, cukup mudah untuk menerapkannya: hanya menggerakkan jari dengan memantabkan pikiran.

    Beda lagi jika kita telah memperlakukan orang dengan baik namun ada segelintir orang yang memperlakukan kita dengan tidak baik. Lagi-lagi filsafat relevan di sini, yaitu kita bisa menerapkan ajaran-ajaran dari filsafat Stoisisme tentang dikotomi kendali. Dalam hidup ini ada sesuatu yang dapat kita kendalikan dan sesuatu yang tak dapat kita kendalikan, seperti omongan orang lain, penyakit, iklim, dan rezeki.

    Namun tak semuanya bisa menerapkan hal tersebut. Setidaknya dalam revolusi digital yang mengalihkan homo sapiens menjadi homo digitalis ini, kita sebagai manusia tetap bisa otentik dengan kemanusiaan kita. Tidak mudah hanyut terbawa arus banjir bandang informasi serta dapat menjadi pembendung hoax yang kerap datang secara brutal.

    Dengan cara berpikir filsafat, kita bisa berlaku lebih bijaksana. Sesuai dengan makna filsafat secara harfiahnya, yaitu philo sophia, cinta kebijaksanaan. Pada akhirnya, filsafat yang, katanya ruwet, abstrak, njlimet, abstrak dan mengawang-awang, akan selalu kita butuhkan untuk hari ini, esok, dan lusa nanti. Filsafat juga akan selalu relevan di dunia korporeal maupun dunia digital, agar kita tak menjadi homo “brutal”.

Tulisan ini adalah bahan diskusi NLS #4 pada Sabtu, 15 Januari 2022, dan telah dimuat oleh situs metafor.id

 

Moh. Ainu Rizqi, Alumni Ponpes Darul Ulum Jombang yang juga Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed