by

HMI dan GMKI Sumut Bersatu Bumikan Pancasila, Perkokoh NKRI

Kabar Damai I Senin, 12 Juli 2021

Medan I kabardamai.id I Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Sumatera Utara bersama Koordinator Wilayah Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (Korwil GMKI) Sumut-Aceh terus mendorong pembumian nilai-nilai Pancasila melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) di Medan, Sumatera Utara.

Dilansir dari laman BPIP, kegiatan tersebut digelar untuk menumbuhkan nasionalisme berbangsa dan bernegara dalam memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca Juga: PB HMI: Dalam Aksi terorisme yang Dikorbankan adalah Perdamaian dan Kemanusiaan

FGD bertajuk ‘Pemeliharaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Dengan Pengarusutamaan Moderasi Beragama Dalam Memperkokoh NKRI’ yang digelar Kamis (8/7) tersebut menghadirkan pembicara Ketua PW RMI NU Sumut Dr. Arifuddin Muda Harahap dan Ketua II PGIW Sumatera Utara, Pdt. Eben Siagian.

“Moderasi beragama sering mendapatkan penolakan karena kesalahan dalam memahami apa sebenarnya esensi Moderasi Beragama itu,” kata Dr. Arifuddin dalam pemaparannya, Kamis, 8 Juli 2021.

Menurutnya, moderasi beragama bukan memoderat-kan ajaran agama melainkan bagaimana perbedaan antar agama dapat berjalan harmonis tanpa mempertentangkan perbedaan itu.

“Dalam ajaran Islam, mewujudkannya persatuan adalah keharusan,” ujarnya.

Senada dengan Arifuddin, Pdt. Eben Siagian mengatakan umat Kristiani dalam ajarannya mengamanatkan agar umat saling mengasihi antar sesama sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri.

Pdt. Eben Siagian mengungkap jika semua umat bisa menerapkan ajaran tersebut maka tidak akan ada perselisihan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Bagi umat Kristen, ajaran itu sudah ada sebagaimana tertulis dalam Matius 22:37-39, disebutkan disana agar mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi serta mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri,” ungkapnya.

Persatuan dan Kesatuan Dimulai Sejak Dini

Ketua Badko HMI Sumut Alwi Hasbi Silalahi mengatakan persatuan dan kesatuan bangsa dapat dimulai sejak dini dari ruang-ruang berkehidupan. Salah satunya, kata alumni UIN Sumatera Utara itu, ada pada kelompok organisasi Cipayung.

“Jika ingin melihat persatuan dan kesatuan bangsa, lihatlah Kelompok Cipayung. Bagi kita persoalan kebangsaan sudah tuntas. Kita bersepakat bagaimana mewujudkan Indonesia yang dicita-citakan,” kata Hasbi.

Menurutnya, apa yang telah dicita-citakan para Founding Father negara dengan memproklamirkan Pancasila sebagai dasar negara, harus dijaga dan digaungkan di tengah masyarakat. Hal tersebut sebagai upaya memperkokoh NKRI.

Namun kenyataannya saat ini masyarakat masih terjebak dalam perselisihan yang disebabkan latar belakang suku, ras dan agama.

Semestinya perbedaan harus dimaknai sebagai satu kekuatan dan disyukuri sebagai nikmat dari Tuhan Yang Maha Esa untuk memperkokoh dalam berbangsa dan bernegara.

“Realitas hari ini di akar rumput masyarakat kita masih sering terjebak dalam perselisihan akibat adanya perbedaan suku, ras dan agama. Selaku generasi muda mahasiswa perlu melakukan dialog-dialog kebangsaan agar menjadi referensi bagi masyarakat kita bahwa pemuda kita bisa bersatu diatas perbedaan-perbedaan yang ada,” ujar Korwil GMKI Sumut-Aceh, Hendra Manurung.

Peran Mahasiswa dalam Berbangsa dan Bernegara

Sebagaimana kita ketahui bahwa mahasiswa merupakan kumpulan orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi. Mahasiswa menyandang peran penting dalam lingkungan masyarakat dan juga kehidupan berbangsa serta bernegara.

Setiap mahasiswa memiliki potensi dan kemampuan intelektualnya masing-masing. Dua hal inilah yang sangat diperlukan dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara. Apa sajakah peran mahasiswa dalam berbangsa dan bernegara?

Menurut Leila Mona dalam jurnal Mengembangkan ‘Personal Social Responsibility (PSR)’ dalam Membangun Karakter Mahasiswa, yang dikutip Kompas.com (27/4), mahasiswa memiliki lima peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni:

  1. Mahasiswa sebagai iron stock

Artinya mahasiswa dituntut untuk memiliki kepribadian yang baik dan menjadi manusia yang tangguh dengan akhlak mulia, untuk menggantikan generasi sebelumnya. Akhlak artinya memiliki kelakuan yang mulia dan mengutamakan orang lain di atas kepentingannya sendiri.

Mahasiswa dalam hal ini berperan sebagai aset dan harapan untuk memajukan bangsa di masa depan. Setiap mahasiswa tentunya memiliki kecerdasan intelektual, hal ini seharusnya diimbangi dengan akhlak atau kelakuan yang baik pula.

  1. Mahasiswa sebagai agent of change

Artinya mahasiswa diharapkan bisa mewujudkan dan memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara agar menjadi lebih sejahtera. Kata agent of change pada pernyataan tersebut memiliki makna bahwa pemuda Indonesia harus membawa perubahan ke arah yang lebih positif atau baik.

Mengutip dari buku Senandika: Mahasiswaku, Pelangi Kehidupanku (2021) karya Evie Kareviati, dalam membawa perubahan, mahasiswa bukan hanya sebagai penggagas, tetapi juga sebagai pelakunya. Mahasiswa sebagai agent of change harus senantiasa berpikir aktif dan kreatif.

  1. Mahasiswa sebagai guardian of value

Artinya mahasiswa diajarkan untuk bisa berpikir secara ilmiah dan mencari kebenaran atau fakta. Selain itu, mahasiswa juga berperan sebagai penjaga nilai di masyarakat untuk mengawasi dan menyuarakan pendapat jika ada penerapan nilai yang tidak sesuai.

Nilai di masyarakat tersebut di antaranya kejujuran, menjunjung tinggi keadilan, integritas, gotong royong, rasa empati dan nilai lainnya. Tidak hanya sebagai penjaga, mahasiswa sebagai guardian of value juga bisa menyebarkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

  1. Mahasiswa srbagai moral vorce

Artinya mahasiswa dijadikan sebagai acuan dasar untuk berperilaku. Mahasiswa diharapkan bisa mencerminkan nilai karakter yang baik sesuai dengan kemampuan intelektualnya.

Nilai karakter ini bisa ditunjukkan lewat moral yang beradab atau perilakunya yang sesuai dengan statusnya sebagai mahasiswa.

  1. Mahasiswa sebagai moral control

Artinya mahasiswa diharapkan bisa menjembatani hubungan masyarakat dengan pemerintah lewat penyampaian aspirasi, kemampuan mengkritik kebijakan pemerintah atau hal lainnya.

Dalam hal ini, mahasiswa juga berupaya untuk mengontrol kehidupan sosial masyarakat. Peran mengontrol ini secara khusus hadir dalam lingkup permasalahan sosial masyarakat dan kebangsaan. Ketika melihat adanya ketidakberesan dalam masyarakat, mahasiswa harus mampu menyampaikan kritik atau saran kepada pihak yang berwenang.[bpip/kompas.com]

Penyunting: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed