by

Hindari Propaganda, Facebook, Twitter dan YouTube Blokir Konten Taliban

Kabar Damai I Kamis, 19 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I Atas kemenangan Taliban di tanah Afganistan Facebook menyatakan telah melarang semua konten terkait Taliban dan yang mendukung dari platform ini karena menganggap kelompok itu sebagai organisasi teroris.

Selama bertahun-tahun, Taliban telah menggunakan media sosial untuk menyebarkan pesannya.

Pengambilalihannya kekuasaan yang cepat di Afghanistan menimbulkan tantangan baru bagi Facebook dalam menangani konten yang terkait dengan kelompok ini.

“Taliban dikenai sanksi sebagai organisasi teroris di bawah hukum AS dan kami telah melarang mereka dari layanan kami sebagai Organisasi Berbahaya dari kebijakan kami. Ini berarti kami menghapus akun yang dikelola oleh atau atas nama Taliban dan melarang pujian, dukungan, dan perwakilan dari mereka, “kata seorang juru bicara Facebook kepada BBC dikutip Selasa, 17 Agustus 2021.

Facebook mengatakan memiliki tim ahli Afghanistan yang berdedikasi untuk memantau dan menghapus konten yang terkait dengan kelompok tersebut.

“Kami juga memiliki tim ahli Afghanistan yang berdedikasi, yang merupakan penutur asli dari Pashto dan memiliki pengetahuan tentang konteks lokal, membantu mengidentifikasi dan mengingatkan kami tentang masalah yang muncul di platform,” tambah mereka.

Facebook menyoroti bahwa kebijakan tersebut berlaku untuk semua platformnya termasuk jaringan media sosial andalannya, Instagram dan WhatsApp. Pasalnya, ada laporan bahwa Taliban menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi.

Facebook mengatakan kepada BBC bahwa mereka akan mengambil tindakan jika menemukan akun kelompok Taliban di aplikasi WhatsApp.

Melansir CNBC, selain Facebook, sorotan juga mengarah pada platform media sosial lain seperti Twitter, utamanya atas cara mereka menangani konten terkait Taliban.

Sikap Twitter dan YouTube Terhadap Taliban

Menanggapi pertanyaan BBC tentang penggunaan Twitter oleh Taliban, juru bicara perusahaan menyoroti kebijakan terhadap organisasi kekerasan dan perilaku kebencian.

Menurut aturannya, Twitter tidak mengizinkan kelompok yang mempromosikan terorisme atau kekerasan terhadap warga sipil.

Namun, sejauh ini informasi terkait Taliban diketahui masih banyak beredar di lini masa Twitter, kembali mengutip dari The Verge.

Bahkan dilaporkan bahwa salah satu juru bicara Taliban sempat memakai akun Twitter resmi Pemerintah Afghanistan.

Dikatakan kalau Taliban secara resmi mengklaim diri atas keberhasilannya menduduki Ibu Kota Kabul dengan menyatakan kalau kondisi terkendali.

Alasan mengapa Twitter masih mengizinkan konten tersebut diunggah dijelaskan kalau perusahaan tidak memiliki kebijakan menyeluruh tentang aktivitas Taliban.

“Situasi di Afghanistan berkembang pesat. Kami juga menyaksikan orang-orang di negara ini (Afghanistan) menggunakan Twitter untuk mencari bantuan dan bantuan” ucapnya.

Informasi yang dihimpun dari The Verge mencatat bahwa YouTube menegaskan sikapnya terhadap isu Taliban di Afghanistan.

Baca Juga: PBB: Ekspansi Taliban Mengancam Keamanan di Afganistan

Platform berbagi video itu mengaku telah menghentikan semua akun yang terkait Taliban berdasarkan interpretasinya terhadap Undang-Undang Sanksi Amerika Serikat.

Seorang perwakilan YouTube mengatakan, “YouTube mematuhi semua sanksi dan undang-undang kepatuhan perdagangan yang berlaku, termasuk sanksi AS yang relevan.”

“Jika kami menemukan akun yang diyakini dimiliki dan dioperasikan oleh Taliban Afghanistan, kami akan menghentikannya,” pungkasnya.

Dilema WhatsApp

Kendati demikian, WhatsApp memiliki dilema tersendiri. Sebab, aplikasi perpesanan itu menggunakan sistem keamanan enkripsi dari ujung ke ujung (end-to-end encryption), di mana isi pesan hanya bisa dilihat oleh penerima dan pengirim.

Pihak ketiga, termasuk Facebook tidak bisa membaca isi pesan yang dikirim di WhatsApp.

“Sebagai platform perpesanan pribadi, kami tidak bisa mengakses konten percakapan pribadi pengguna bagaimanapun caranya, apabila kamu mengetahui bahwa seseorang atau organisasi yang terkena sanksi menggunakan WhatsApp, kami akan mengambil tindakan,” jelas juru bicara Facebook dihimpun dari CNBC.

Beberapa laporan menyebut bahwa anggota Taliban masih menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi. Untuk membantu meminimalisir konten terkait Taliban, WhatsApp akan menggunakan software AI untuk meninjau informasi yang tidak terenkripsi, seperti nama pengguna, foto profil, dan deskripsi grup.

WhatsApp juga disebut telah menutup kontak aduan yang dibuat oleh Taliban setelah mengambil alih Kabul. Informasi kontak aduan itu diumumkan pada hari Minggu dan pernah digunakan saat Taliban mengambil alih kota Kunduz di tahun 2016 lalu.

Kontak aduan itu sejatinya digunakan warga sipil untuk melaporkan tindakan kekerasan, penjarahan, dan kejadian lain.

Tidak hanya Facebook, TikTok pun menyatakan sikap yang sama. Media sosial berbasis video ini juga mengatakan pada CNBC bahwa mereka menetapkan Taliban sebagai organisasi teroris.

Meski pihak TikTok tidak mengeluarkan pernyataan yang rinci, perusahaan mengatakan akan menghapus konten yang mendukung, memuji, atau mengagungkan terkait Taliban.

Bagaimana dengan Google?

Platform jejarng sosial lain agaknya masih mengamati situasi. Alphabet, selaku induk perusahaan Google dan YouTube mengatakan bahwa pedoman komunitas mereka berlaku sama bagi semua orang.

Meskipun begitu, mereka tetap akan menerapkan kebijakan terhadap konten dan konteks penyajian. Alphabet tetap akan mengizinkan penyediaan konten dan konteks pendidikan, dokumenter, ilmiah, dan artistik. [ ]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed