by

Hindari Fanatisme Beragama yang Berlebihan, Semua Agama Benar di Mata Tuhan

Kabar Damai | Kamis, 16 September 2021

Jakarta | kabardamai.id | Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letjen TNI Dudung Abdurachman mengingatkan jajarannya untuk tak bersikap fanatik terhadap agama. Menurutnya, semua agama sama di mata Tuhan Yang Maha Esa.

“Bijaklah dalam bermain media sosial sesuai dengan aturan yang berlaku bagi prajurit. Hindari fanatik yang berlebihan terhadap suatu agama. Karena semua agama itu benar di mata Tuhan,” kata Dudung, dikutip dari keterangan pers Penerangan Kostrad, Selasa, 14 September 2021.

Hal itu disampaikan Dudung saat bersama Ketua Persit KCK Gabungan Kostrad Rahma Dudung Abdurachman dan rombongan di Batalyon Zipur 9 Kostrad, Ujungberung, Bandung, Jawa Barat. Senin (13/9).

Dudung juga mengingatkan prajuritnya untuk selalu bersyukur atas segala kondisi, terkhusus dalam situasi pandemi COVID-19. Dudung pun meminta prajurit bersyukur soal pasangan.

“Sebagai prajurit, kita harus bersyukur dengan kondisi keluarga saat ini masih diberikan kesehatan, bersyukurlah mempunyai istri apa pun bentuknya, karena itu semua adalah pilihan kita,” ucap Dudung.

Baca Juga: Fanatisme Beragama dan Ancaman Persaudaraan Insani

Dia lalu menekankan soal profesional dan proporsional, baik dalam latihan maupun menerapkan tradisi pembinaan terhadap prajurit baru. Dudung meminta perilaku yang bersifat kekerasan dihindari oleh prajuritnya.

“Laksanakanlah pembinaan tradisi kepada prajurit yang baru masuk secara keras sesuai aturan, tetapi bukan kasar. Karena tujuan dari tradisi satuan adalah untuk membangun kebanggaan dan jiwa korsa tanpa kekerasan maupun tindakan-tindakan yang dapat merugikan diri sendiri dan satuan,” tegas mantan Pangdam Jaya ini.

Terakhir, Dudung menyampaikan pesan kepada seluruh prajurit Batalyon Zipur 9 Kostrad untuk selalu menjadikan tugas sebagai tujuan utama. Di samping itu, dia meminta prajurit menjaga kehormatan di mana pun bertugas dan berada.

 

Menag: Semua yang Berlebihan Tidak Baik

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mendukung pernyataan Pangkostrad Letjen Dudung Abdurachman agar menghindari sikap fanatik yang berlebihan terhadap suatu agama. Yaqut menilai segala sesuatu yang berlebihan memang tak baik.

“Semua yang berlebihan kan tidak baik,” kata Yaqut kepada CNNIndonesia.com, Selasa (14/9).

Yaqut menilai sikap fanatik terhadap agama seharusnya untuk diri sendiri. Ia percaya seseorang akan tetap teguh memegang keyakinannya dan lembut terhadap orang lain.

“Lemah lembut kepada orang lain, bahkan yang berbeda keyakinan. Jangan dibalik. Fanatik apalagi yang berlebihan diberlakukan untuk orang lain, sementara untuk diri sendiri malah lunak,” ujarnya.

Tak hanya itu, Yaqut juga sependapat dengan pernyataan Dudung bahwa semua agama benar di mata Tuhan. Menurutnya, para pemeluk suatu agama pasti menganggap agamanya benar di hadapan Tuhan.

“Bagi pemeluknya, tentu agamanya paling benar di mata Tuhan kan? Bukan berarti tidak boleh kritis terhadap keyakinan yang dipeluk orang lain yang berbeda. Tetap boleh kritis dalam mencari kebenaran absolut, dengan mengedepankan dialog,” kata Yaqut.

 

Pentingnya Moderasi Beragama

Oleh sebab itu, Kementerian Agama sejak era Lukman Hakim Saefuddin te;ahmenggalakkan penguatan moderasi beragama untuk menghindari fanatisme yang berlebihan.

Dikutip dari laman Kemenag, Menag periode 2014-2019 Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, setidaknya ada tiga kecenderungan yang menyebabkan pentingnya moderasi beragama.

Pertama, praktik beragama yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Menurut pria yang akrqb disapa LHS ini, belakangan mudah dijumpai kecenderungan seperti ini. Padahal, agama hadir untuk memanusiakan manusia.

“Nilai-nilai agama harusnya mendorong orang untuk menjadi inklusif, bukan eksklusif,” paparnya saat berbicara pada acara Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Diniyah Takmiliyah di Jakarta, Jumat (30-4-2021).

Acara ini diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Kemenag. Dalam kesempatan itu, LHS juga menjelaskan rantai keberagaman yang eksklusif- segregatif- intoleran, hingga menjadi destruktif.

Faktor kedua, lanjut LHS, munculnya tafsir agama yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara pengetahuan. Akibatnya, muncul sikap dan tindakan yang seolah-olah dan diklaim paling benar, padahal salah dan berpotensi menyesatkan.

“Dalam hal ini, sanad pengetahuan itu penting sebagai jaminan sumber hakiki dan kualitas pengetahuan agama itu sendiri,” ujarnya.

Ketiga, mulai terlihat cara beragama yang merusak ikatan kebangsaan dengan tekanan yang mewujud pada pilihan sikap untuk mempolitisasi agama dan sikap majoritarianism.

“Majoritarianism, saya katakan sebagai sikap kepongahan pihak mayoritas yang menganggap diri bisa dan berhak semena-mena terhadap pihak minoritas,” tandasnya.

LHS berharap pendidikan Islam terus menjadi garda terdepan dalam menyuarakan dan mempraktikkan Moderasi Beragama. Hal itu harus diawali dari jajaran Kementerian Agama, sebagai instansi pembina.

“Saya percaya, jajaran Kementerian Agama, terlebih warga Pendidikan Islam, senantiasa mengedepankan Moderasi Beragama sebagai pedoman penting dal am konteks berkebijakan,” tegasnya.

LHS menambahkan, Indonesia memiliki modal sosial yang penting dalam penguatan moderasi beragama, yaitu: keberagaman (heterogenitas) dan keberagamaan (religiusitas). Jumlah suku bangsa yang demikian banyak dengan kewilayahan maritim yang demikian luas, menjadi kekayaan keberagaman Indonesia.

Sementara itu, keberagamaan bangsa Indonesia juga demikian kuat. Semua agama pada dasarnya menyuarakan sikap di tengah (moderat). Semua agama menyuarakan nilai kebaikan dan perdamaian. “Oleh karenanya, mereka yang dikenal dengan sikap mengedepankan ekstremitas (ghuluw) selalu berada di pojokan (tatharruf),” jelasnya.

“Dengan keberadaan modal penting demikian, bangsa Indonesia harus mengedepankan sikap keberagamaan yang mengutamakan konsep Moderasi Beragama, apapun agamanya. Yang dimoderasi adalah  cara beragamanya, bukan agamanya,” pngkasnya. [detik/cnn/kemenag]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed