by

Hidup Bahagia itu Indah

Oleh: Tim Buddha Wacana

Dhammapīti sukhaṃ seti, vippasannena cetasā. Ariyappavedite dhamme, sadā ramati paṇḍito. Ia yang mengenal Dhamma akan hidup berbahagia dengan pikiran yang tenang. Orang bijaksana selalu bergembira dalam ajaran yang dibabarkan oleh para Ariya. (Dhammapada, Syair 79)

“Pergilah, o para Bhikkhu, demi kebaikan banyak pihak, demi kebahagiaan banyak pihak, atas dasar kasih sayang kepada dunia, demi kebaikan, manfaat, dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Janganlah dua orang pergi dalam satu arah. Ajarkanlah, o para Bhikkhu; Dhamma, yang indah pada awal, indah pada pertengahan, indah pada akhirnya, baik yang tersirat maupun tersurat. Nyatakanlah Kehidupan Suci, yang sempurna dan murni,” demikian kata-kata Sang Buddha ketika untuk pertama kalinya mengutus enam puluh orang Arahat membabarkan Dhamma atas dasar kasih sayang kepada banyak lain.

Kalimat ini memiliki makna filosofi yang dalam. Bahwa, Dhamma ajaran Guru Agung Buddha adalah ajaran mulia yang indah pada awal, indah pada pertengahan, dan indah pada akhirnya. Dan, juga Dhamma dibabarkan Guru Agung Buddha atas dasar cinta kasih dan kasih sayang kepada dunia, demi kebaikan, manfaat, dan kebahagiaan para dewa dan manusia.

Dhamma adalah ajaran mulia yang berisikan pedoman moral dan filsafat yang menuntun kita menuju kebahagiaan. Dhamma merupakan hukum kebenaran universal yang mengajarkan bahwa sumber kebahagiaan dan penderitaan sebenarnya terletak dalam diri kita sendiri. Mustahil kita dapat memberikan kebahagiaan sejati dan abadi kepada orang lain, begitupun sebaliknya. Tidaklah mungkin orang lain dapat memberikan kita kebahagiaan sejati dan abadi sebagai hadiah.

Baca Juga: Moderasi Beragama Menurut Perspektif Agama Khonghucu

Dhamma mengajarkan bahwa untuk mencapai kebahagiaan kita harus bertanggungjawab atas diri sendiri. Kebahagiaan merupakan hasil usaha kemampuan diri sendiri. Dengan menyadari hal ini, kita tidak akan mudah menyalahkan kondisi atau pihak lain atas penderitaan yang sedang dialami. Namun, kita mampu menjadi orang yang bertanggung jawab dan mandiri atas setiap pikiran, ucapan dan perilaku yang kita lakukan agar kebahagiaan hidup dapat diraih.  Untuk dapat hidup bahagia, setiap orang hendaknya memiliki pengertian yang benar tentang fenomena kehidupan ini, memiliki pemahaman tentang apa yang dinamakan “diri” dan memiliki pengetahuan tentang jalan menuju pada Kebahagiaan Sejati (Nibbana).

Semua ajaran Guru Agung Buddha berintikan pada: tidak melakukan segala bentuk kejahatan, senantiasa mengembangkan kebajikan dan sucikan hati dan pikiran. Sehingga, sebagai umat Buddha kita hendaknya dapat melaksanakan tahapan Dhamma berupa: belajar teori dengan tekun (pariyatti dhamma), praktik dalam kehidupan sehari-hari (patipatti dhamma) dan hasil penembusan setelah belajar teori dan praktik dalam kehidupan sehari-hari (pativedha dhamma).

Dengan dapat melaksanakan tiga tahapan Dhamma secara tekun dan konsekuen, maka bukan hanya kebahagiaan duniawi yang akan dapat dicapai, tetapi pada akhirnya pula Kebahagiaan Sejati (Nibbana) akan dapat terealisasi.

Karenanya, nilai-nilai universal Dhamma hendaknya dipelajari, didalami, dimengerti, dipraktikkan serta direalisasikan oleh umat Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa adanya praktik Dhamma, kita hanya akan menjadi umat Buddha yang sekadar mengetahui keindahan Dhamma, namun tidak dapat merealisasikannya dalam kehidupan kita.

Mengenal Dhamma adalah berkah terbesar bagi umat Buddha. Sebagai langkah awal untuk mempelajari dan mempraktikkan nilai-nilai Dhamma dalam kehidupan guna meraih kebahagiaan. Dengan Dhamma, kebahagiaan hidup akan dapat dicapai dan hidup ini akan menjadi semakin indah. Kehidupan yang dijalanipun akan semakin berkualitas, bermanfaat dan menjadi berkah bagi orang lain dan lingkungan sekitar.

Semoga semua makhluk berbahagia.

Editor: Tim Buddha Wacana

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed