by

Hidayat Nur Wahid: Pancasila Mengandung Terminologi Alquran, Sunah dan Bahasa Arab

Kabar Damai I Minggu, 31 Oktober 2021

Jambi I kabardamai.id I Wakil Ketua MPR RI Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid MA, menegaskan kontribusi  tokoh-tokoh agama Islam dalam penyusunan dasar dan ideologi Negera tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka mampu bekerjasama, bertukar pikir serta bermufakat  dengan tokoh agama lain dan kelompok nasionalis, dan  berhasil merumuskan serta menyepakati Pancasila.

Salah satu bukti keterlibatan tokoh-tokoh agama Islam dalam penyusunan dasar dan ideologi Pancasila, itu adalah digunakannya terminologi   Alquran, hadis serta bahasa Arab untuk menyusun sila-sila dalam Pancasila. Seperti Ketuhanan yang Maha Esa yang berarti ajaran Tauhid. Kata adil dan beradab pada sila kedua diambil dari terminologi Alquran dan As-sunah. Juga kerakyatan dan perwakilan pada sila keempat serta kelima yang merupakan istilah dalam bahasa Arab.

“Penggunaan kata-kata tersebut, tidak mungkin dilakukan oleh orang awam. Bahkan,  istilah itu memperlihatkan bahwa pengusulnya memiliki pengetahuan dan wawasan yang sangat kuat terhadap Al-Qur’an, Hadis dan bahasa Arab. Dan itu hanya mungkin dilakukan oleh para ulama dan tokoh agama Islam,” kata Hidayat Nur Wahid.

Hal itu, dia sampaikan itu secara daring dalam kegiatan sosialisasi Empat Pilar di hadapan pengurus dan simpatisan PKS Provinsi Jambi, di aula kantor DPW PKS Provinsi Jambi, Sabtu (30/10/2021).

Indonesia kata Hidayat bukanlah  negara yang berdasar Agama. Tetapi Indonesia juga bukan negara yang mendasarkan dirinya pada komunis maupun ateis. Ini ditegaskan pada sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila pertama Pancasila ini diterjemahkan oleh Ki Bagus Hadikusumo sebagai ketauhidan, atau pengakuan terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Esa.MHD

 

Kontribusi Tokoh Agama Islam

Kontribusi tokoh-tokoh Agama Islam dalam penyusunan dasar dan ideologi negara tidak bisa dipandang sebelah mata.

Mereka mampu bekerja sama, bertukar pikiran, serta bermufakat dengan tokoh agama lain juga dengan kelompok nasionalis, sehingga berhasil merumuskan serta menyepakati Pancasila.

Salah satu bukti keterlibatan tokoh-tokoh Agama Islam dalam penyusunan dasar dan ideologi Pancasila antara lain pengunaan terminologi Alquran, hadist, serta bahasa Arab.

Melihat rentetan fakta sejarah, sumbangsih para ulama baik di BPUPK, Panitai Sembilan maupun PPKI terhadap bangsa dan negara Indonesia,   menurut Hidayat sudah semestinya umat Islam berada di garda terdepan dalam upaya-upaya mempertahankan dan melaksanakan Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945. Bukan malah mengkafirkan atau membid’ahkan Pancasila dan UUD NRI 1945. Karena tidak semua yang tidak ada di zaman Nabi bisa dikategorikan bid’ah.

“Ini adalah urusan  muamalah, bukan aqidah maupun ibadah. Jadi tidak bisa dikatakan bid’ah. Apalagi sesuatu yang belum ada dizaman Nabi, tidak serta Merta masuk kategori bid’ah. Televisi dan internet misalnya, tidak ada dizaman Nabi, bahkan diciptakan oleh orang barat, itupun tidak bisa dibid’ahkan,” kata Hidayat lagi.

Baca Juga: Menjadikan Ideologi Pancasila Sebagai Filter Perkembangan Zaman dalam Mencegah Konflik

Ketuhanan yang Maha Esa adalah ajaran Tauhid. Kata adil dan beradab pada sila kedua diambil dari terminologi Alquran dan As-sunah.

Juga kerakyatan dan perwakilan pada sila keempat serta kelima yang merupakan istilah dalam bahasa Arab.

“Bukan malah mengafirkan atau membidahkan Pancasila dan UUD NRI 1945. Karena, tidak semua yang tidak ada di zaman Nabi bisa dikategorikan bidah,” ujarnya.

“Ini adalah urusan muamalah, bukan aqidah mau pun ibadah. Jadi, tidak bisa dikatakan bidah. Apalagi sesuatu yang belum ada di zaman Nabi, tidak serta merta masuk kategori bidah. Televisi dan internet misalnya, tidak ada di zaman Nabi, diciptakan orang barat, itupun tidak bisa dibidahkan,” ujarnya.

Indonesia, menurut Hidayat, bukan negara yang berdasar Agama. Tapi, Indonesia juga bukan negara yang mendasarkan dirinya pada komunis maupun ateis.

Hal itu, dia tegaskan, sebagimana termuat di Sila Pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sila pertama Pancasila itu diterjemahkan oleh Ki Bagus Hadikusumo sebagai ketauhidan, atau pengakuan terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara itu, Ahmad Syaikhu Anggota MPR RI Fraksi PKS menegaskan, sosialisasi Empat pilar tetap penting dilaksanakan. Meskipun kadang ada pengulangan dalam pelaksanaannya.

Sebab, kata dia, untuk membangun peradaban dibutuhkan estafet. Empat pilar yang terdiri dari Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika diharapkan bisa jadi pemandu bagi penerus bangsa mencapai cita-citanya.

Ikut hadir di acara itu, Ahmad Syaikhu Anggota MPR RI Fraksi PKS , Ketua BPW Sumbagsel, Dr. Ir.H.Ahmad Junaidi Auli, MM, Ketua MPW PKS Jambi, H. Syafrudin Dwi Apriyanto, S.Pd, Ketua DSW PKS Jambi, H.Muh. Jayadi,S.Pt, Ketua DPW PKS Jambi, Heru Kustanto, Ketua DPD, DPC dan Dpra PKS se-Provinsi Jambi.

“Para pendiri bangsa butuh waktu lama dengan proses yang rumit untuk menghasilkan Pancasila. Setelah proses sulit itu selesai, ditandai dengan kesepahaman, itulah bukti kebesaran jiwa para pendiri bangsa. Kita sebagai generasi penerus wajib mempertahankan dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Ahmad. [suara.com/pakaronline]

 

Editor: Ai SIti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed