by

Hentikan Pelecehan Seksual Berkedok Lelucon di Kelompok Pertemanan

-Kabar Puan-52 views

Kabar Damai  I Selasa, 10 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I Setelah meramaikan dunia maya lewat videonya dengan Zara Adhisty, musisi Niko Al Hakim alias Okin, kembali meresahkan. Pasalnya, ia dan temannya, Elnanda Utomo, membuat challenge tidak senonoh di Instagram live, (31/7) dan melakukan pelecehan seksual terhadap teman lainnya, Hassan Alaydrus.

Penilaian tersebut disampaikan Aurelia Gracia melalui tulisannya berjudul “Setop Pelecehan Seksual Berkedok Lelucon di Kelompok Pertemanan” yang dimuat di laman Magdalene.co, 4 Agustus 2021.

Aurelia menyeritakan, Okin menawarkan penonton perempuan bergabung di live tersebut, dengan syarat harus berkomentar tidak sopan tentang anggota tubuh Hassan. Tak hanya itu, saat bergabung, ia meminta penonton yang diundang untuk menggoda Hassan dengan menyasar ke alat kelaminnya dan diucapkan dengan suara menggemaskan. Meskipun temannya itu sudah menunjukkan gerak-gerik tak nyaman, Okin tetap asyik menikmati “hiburannya” dan mengundang beberapa perempuan di live-nya.

“Terlepas dari pelecehan seksual di balik kedok lelucon yang dilakukan, Okin dan Elnanda tidak menghargai Hassan ketika ia menolak challenge tersebut. Mereka justru meng-gaslight Hassan dengan menuduhnya enggak asyik,” tuturnya.

“Satu hal yang menempel di kepala saya, bagaimana jika 10 ribu penonton live itu menganggap challenge Okin menghibur, dan mempraktikannya ke orang lain di sekitarnya? Meskipun ada sebagian orang yang tak membenarkan perilaku mereka, thirsty comments (komentar yang mencari perhatian seksual. Red) tetap bermunculan, seolah penonton pun menikmati konten itu,” ujar Aurelia.

Baca Juga: Peran Lelaki dalam Upaya Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan

U.S. Equal Employment Opportunity Commision (EEOC) yang dikutip Aurelia, menyebutkan di laman Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), komentar seksual tak diinginkan, lelucon, dan sindiran termasuk dalam pelecehan seksual halus. Jika dibiarkan lebih lanjut, dapat menciptakan lingkungan tidak bersahabat bagi penerimanya.

“Perilaku demikian telah menanamkan “bibit-bibit” normalisasi pelecehan seksual, karena si pelaku bisa menyangkal perbuatannya sebagai bahan lelucon. Apalagi Okin adalah figur publik, seharusnya sadar tingkah lakunya dikonsumsi audiens, tidak lagi bersifat kesenangan pribadi,” terang perempuan yang mengaku mudah terlibat dalam parasocial relationship ini.

Hindari Kelompok Pertemanan Toksik

Menerima perilaku pelecehan seksual, lanjut Aurelia, apalagi dilakukan oleh teman, sepertinya membuat korban berada pada posisi terhimpit. Di satu sisi merasa komentar yang diucapkan menyinggung perasaannya, tapi mau melawan pun sulit karena pelakunya teman sendiri, bahkan terngiang jika pelecehan itu adalah saran yang dikemas dalam komentar seksis. Ujung-ujungnya hanya memaksakan reaksi tertawa.

“Namun, menurut komedian Sakdiyah Ma’ruf dalam Instagram live Magdalene “Bisik Kamis” (7/1), justru sebaiknya pelecehan seksual berbentuk lelucon tidak direspons dengan giggling atau emoji. Menurutnya, giggle merupakan persetujuan, artinya ikut senang dan menikmati sekaligus menunjukkan posisi inferior dan minder,” paparnya.

Menurut Aurelia, tak bisa dipungkiri, lelucon merupakan hal esensial di hidup kita. Mengutip World Economic Forum, lelucon menjadi salah satu kemampuan yang dibutuhkan setiap orang. Sayangnya, dalam keseharian banyak lelucon seksis yang masih diutarakan dan dianggap normal.

Aurelia menyebut, dalam kelompok pertemanan, perlawanan malah diperlukan untuk menegaskan perilaku tersebut tidak pantas dan sebuah bentuk pelecehan, karena jika mengabaikannya, secara tidak langsung kita ikut melanggengkan lelucon seksis dan membiarkan lingkup pertemanan toxic.

“Untuk menanggapinya, kita dapat mengajak pelaku berbicara baik-baik dan memberikan pemahaman terkait kesalahannya, bahwa perilakunya termasuk pelecehan seksual. Apabila komentarnya berkedok lelucon, tanyakan letak lucunya kalimat tersebut. Sementara jika berbentuk saran, kita bisa mengatakan agar mereka menyampaikannya secara privat dengan kalimat sopan,” jelasnya.

Harapannya, tandas Aurelia, lelucon seksis tidak lagi dilakukan, setidaknya mulai dari kelompok pertemanan. [magdalene.co]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed