by

Hati Lapang Membawa Sehat

 

Mimbar Khonghucu pekan ini mengangkat tema tentang Hati Lapang Membawa Sehat. Tema ini terdiri atas empat kata, Hati, Lapang, Membawa dan Sehat.

Jika dilihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hati adalah sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian (perasaan dan sebagainya); apa yang terasa dalam batin. Istilah lapang bermakna merasa senang; merasa lega, atau sabar. Kata membawa berarti mendatangkan; mengakibatkan; menyebabkan. Adapun kata sehat menunjuk pada kondisi baik seluruh badan serta bagian-bagiannya (bebas dari sakit); waras.

Dalam Kitab Shi Su, tepatnya pada Ajaran Besar Bab VI ayat 4, dijelaskan bahwa “Harta benda dapat menghias rumah, laku bajik menghias diri; hati yang lapang akan membawa tubuh kita sehat. Maka seorang Kuncu senantiasa mengimankan tekadnya” (Bc. VIIA:21.4).

Dari sini jelas bahwa umat Khonghucu senantiasa dituntun untuk menjadi seorang Kuncu. Caranya, selalu diingatkan bahwa harta dan benda tidak terlalu diutamakan oleh seorang Kuncu, tapi laku bajiklah atau hanya kebajikanlah yang lebih diutamakan. Sebab, semua bersumber kepada Firman Tian Tuhan YME.

Meskipun secara umum harta benda itu yang mendukung semua keberhasilan seseorang secara lahiriah, namun secara rohaniah tetaplah kebajikan yang diutamakan oleh seorang Kuncu.

Ajaran senada bisa dilihat juga dalam Kitab Shi Su, Ajaran Besar Bab X : 7-8. Pada ayat 7 disebutkan, “Kebajikan itulah yang pokok dan kekayaan adalah yang ujung”. Sementara ayat 8, “Bila mengabaikan yang pokok dan mengutamakan yang ujung, inilah meneladani rakyat untuk berebut”.

Baca Juga: Mengaplikasikan Ajaran Catur Guru Saat Pandemi

Pada ayat 7 jelas dikatakan, utamakanlah dahulu Kebajikan, baru kemudian kekayaan. Lalu pada ayat 8 jelas pula dikatakan, jika mengabaikan yang pokok dan mengutamakan yang ujung, inilah meneladani rakyat untuk berebut. Kata rakyat dalam hal ini dapat diartikan sebagai umat Khonghucu pada saat ini. Jadi di dalam Kitab Shi Su telah di gambarkan ribuan tahun lalu, bahwa umat Khonghucu agar senantiasa dituntut untuk berbuat Kebajikan atau kebaikan di dalam kehidupannya sehari-hari.

Mengapa demikian, karena pada umumnya sifat manusia adalah lupa diri. Banyak di zaman sekarang ini orang yang berpendidikan tinggi dan punya kedudukan, tapi justru lupa diri. Mereka hanya mengabdikan diri untuk memupuk harta benda, sehingga melupakan Kebajikan. Akibatnya, mereka melakukan tindak pidana korupsi. Ini terjadi karena sikap terlalu mengabdikan diri dengan memupuk harta, sehingga menjadikan mereka lupa diri dan lupa akan kebajikan. Setelah lupa akan Kebajikan, niscaya tidak ada rasa takut lagi di dalam diri mereka dan bahkan mereka berani mengambil bukan haknya.

Agar tidak lupa akan Kebajikan, maka semua harus berpangkal pada hati nurani dan pikiran. Di dalam Kitab Bingcu VI A Ayat 15 anak ayat 2 disebutkan, “Semuanya ialah manusia, mengapakah ada yang menurutkan bagian dirinya yang besar dan ada yang menurutkan bagian dirinya yang kecil? Tugas telinga dan mata tanpa dikendalikan pikiran, niscaya digelapkan oleh nafsu-nafsu (dari luar). Nafsu-nafsu (dari luar) bilamana bertemu dengan nafsu-nafsu (di dalam diri) mudah saling cenderung. Tugas hati ialah berpikir. Dengan berpikir kita akan berhasil. Tuhan YME mengarunia kita semua itu , agar kita lebih dahulu menegakkan bagian yang besar, sehingga bagian yang kecil tidak mengacau. Inilah yang menyebabkan orang bisa menjadi besar”.

Kendalanya, semuanya kembali kepada diri pribadi. Segala sesuatu akan mudah atau bisa dikerjakan, apabila di dalam diri kita secara teguh dan sungguh-sungguh mau untuk melaksanakannya, maka semua bisa dilaksanakannya. Tapi jika di dalam diri sendiri saja sudah merasa sukar atau tidak bisa, maka semuanya akan percuma saja dan sudah pasti tidak dapat diselesaikan.

Kitab Shi Su, Ajaran Besar Bab VI ayat 4 dijelaskan, “Harta benda dapat menghias rumah, laku bajik menghias diri; hati yang lapang akan membawa tubuh kita sehat. Maka seorang Kuncu senantiasa mengimankan tekadnya”. Ayat ini berhubungan dengan Bingcu VII A:21.4. Bingcu berkata, 1) Tanah luas dan penduduk padat itu dinginkan seorang Kuncu; tetapi, itu bukan hal yang dipandang benar-benar membahagiakan. 2) Dapat berdiri teguh ditengah dunia dan memberi damai kepada rakyat diempat penjuru lautan, itu membahagiakan seorang Kuncu; tetapi, itu bukan kebahagiaan tertinggi bagi watak sejatinya. 3) Yang di dalam Watak Sejati seorang Kuncu ialah yang tidak bertambah oleh kebesaran dan tidak rusak oleh kemiskinan; karena dialah takdir yang dikaruniakan (Tuhan YME). 4) Yang di dalam Watak Sejati seorang Kuncu ialah Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan, dan Kebijaksanaan. Inilah yang berakar di dalam hati, tumbuh meraga, membawa cahaya mulia pada wajah, memenuhi punggung ke empat anggota badan. Keempat anggota badan dengan tanpa kata-kata dapat mengerti sendiri. (AB. VI:4).

Apakah masih relevan dengan keadaan saat ini, tentunya masih relevan. Sangat jelas siapapun dia, setinggi apapun jabatannya, pendidikannya kalau tidak didukung dengan hati yang jujur, apalah artinya. Mengapa bisa ada korupsi. Seorang darah biru atau keturunan bangsawan, mengapa tidak bisa jujur. Nah ini dikarenakan oleh iman juga tidak mendukung dan tidak ada kejujuran di dalam hatinya. Jadi jika iman seorang yang mudah goyah, biasanya apa yang terkandung di hati, akan berbeda dengan apa yang terucap dari mulutnya.

Kesimpulannya, Hati Lapang Membawa Sehat dapat diartikan perasaan batin manusia yang  di dalamnya terdapat watak sejati (Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan, dan Kebijaksanaan). Apabila dapat di dijaga dengan baik, dengan penuh dengan kesabaran dan keikhlasan, maka akan menyebabkan kita bebas dari segala sakit hati, baik itu berupa iri hati, rasa benci, rasa dendam, rasa tidak puas hati dan sebagainya.

 

Hery Priyadi (Pengurus Makin Depok)

Sumber: https://kemenag.go.id/read/hati-lapang-membawa-sehat-01nxk

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed