by

Hari Ini dalam Sejarah, 12 Oktober: Tragedi Bom Bali 1

Kabar Damai | Selasa, 12 Oktober 2021

Jakarta | kabardamai.id | Hari ini 19 tahun lalu, tepatnya pada 12 Oktober 2002 malam, tiga buah bom meledak di kawasan Kuta dan Denpasar, Bali. Bom meledak di tiga lokasi di Bali dan menewaskan 202 orang.

Tiga lokasi yang menjadi ledakan bom yakni Paddy’s Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, serta Kantor Konsulat Amerika Serikat. Tragedi ini dinamakan peristiwa Bom Bali 1.

Tercatat, ada 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau cedera dalam peristiwa itu. Kebanyakan korban merupakan wisatawan asing yang sedang berkunjung ke temoat wisata di daerah Bali tersebut. Warga negara Australia paling banyak yang menajdi korban.

Dilansir Solopos.com (12/10/19), dari data korban, 88 warga Australia meninggal dunia dalam peristiwa itu. Sedangkan, warga negara Indonesia tercatat ada 38 orang yang menjadi korban disusul Britania Raya sebanyak 26 orang dan Amerika 7 orang, sisanya terdiri dari berbagai negara.

Tragedi ini dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia. Pihak kepolisian telah menangkap 26 tersangka tragedu tersebut dab beberapa diantaranya telah dipidana seumur hidup dan dihukum mati.

Pelaku pengeboman

Melansir Kompas.com (12/10/20), dalam pengejaran terhadap tersangka pengeboman, polisi berhasil menangkap Amrozi bin H Nurhasyim yang didakwa hukuman mati. Polisi juga menangkap Imam Samudra alias Abdul Aziz.

Sama seperti Amrozi, Imam Samudra juga dijatuhi hukuman mati. Pelaku lain yang terlibat dalam tragedi ini adalah Ali Ghufron bin H Nurhasyim alias Muklas, yang juga mendapatkan vonis hukuman mati.

Adapun tersangka lain seperti Ali Imron bin H Nurhasyim alias Alik divonis penjara seumur hidup. Vonis serupa juga diterima oleh Mubarok alias Utomo Pamungkas dan Suranto Abdul Goni alias Umar alias Wayan.

Baca Juga: Hari Ini dalam Sejarah: 9 Oktober 1740, Geger Pacinan di Batavia

Sementara tersangka lain, Dulmatin, tewas dalam pengepungan di Pamulang, Tangerang Selatan. Adapun teroris yang paling dicari yakni Dr Azahari bin Husin atau yang sering disebut sebagai The Demolition Man tewas pada 2005.

Dari fakta persidangan, diyakini bahwa para pelaku merupakan anggota Jamaah Islamiyah (JI).

 

Kisah keluarga korban

Salah satu warga negara Indonesia yang tewas dalam peristiwa tersebut adalah Aris Munandar.  Diberitakan Kompas.com, 18 Februari 2020, saat peristiwa itu terjadi, Aris sedang menunggu tamu di depan Sari Club yang dipenuhi pengunjung berkewarganegaraan asing.

Ia diduga tidur pulas setelah minum obat sebelum menunggu tamu. Aris ditemukan sehari setelah bom seberat 1,1 ton meledak. Jenazahnya hangus terbakar dan nyaris tak dikenali.

Garil Arnandha (27), putra sulung Aris, menceritakan beban berat yang selama ini dia pikul setelah tragedi itu merenggut nyawa ayahnya.

Pada 13 Oktober 2002, sekitar pukul dua siang, Garil yang masih berusia 10 tahun ditemani kakek angkatnya melihat jenazah ayahnya diturunkan dari mobil di depan kediaman keluarganya di Denpasar.

Adik kedua dan ketiganya saat itu masing-masing berumur lima tahun dan dua tahun. Ibunya, Endang Isnanik, saat itu sedang sakit. Saat jenazah Aris datang, Endang hanya melihat dari kejauhan.

Hari itu juga, setelah diturunkan di kediaman keluarga, jenazah Aris disalatkan di masjid dan kemudian dikuburkan. Setelah peristiwa naas itu, Garil mengaku memendam kemarahan, kesedihan, depresi, dan trauma.

Ia bahkan baru pertama kali melihat nama ayahnya tertulis di monumen peringatan Bom Bali I di Legian, Bali saat peringatan 17 tahun Bom Bali pada 12 Oktober 2019 lalu.

Selama 17 tahun ia memilih mengurung diri di dalam kamar setiap peringatan Bom Bali pada 12 Oktober yang menewaskan sang ayah. [solopos/kompas]

 

Penyunting: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed