by

Hardiknas Jadi Momentum BPIP-BEM Fisip Unair untuk Bumikan Pancasila di Kalangan Milenial

Kabar Damai  | Senin, 03 Mei 2021

Surabaya | kabardamai.id | Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bersama BEM Fisip Universitas Airlangga (Unair) menyelenggarakan seminar bertajuk “Pembumian Ideologi Pancasila di Kalangan Mahasiswa sebagai Upaya Melawan Radikalisme di Kampus”, yang sekaligus menjadi refleksi Hari Pendidikan Nasional, Minggu, 2 Mei 2021.

Dalam seminar ini Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D mengatakan bahwa pembumian Pancasila bagi mahasiswa adalah sesuatu yang fundamental karena perannya sebagai agen perubahan.

Dilansir dari  laman resmi BPIP, Profesor Yudian berpesan kepada mahasiswa agar supaya ingat terhadap akar sejarah berdirinya bangsa Indonesia dengan cara bersyukur serta tetap berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan dengan mengisi ruang-ruang aktivitas kehidupan berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

“Pancasila harus dijaga dari kelompok yang ingin mengganti Pancasila. Ingat bahwa Pancasila sebagai konsensus bangsa sekaligus ijma’ dalam keberagamaan harus dijaga dari kelompok yang anti dengan Pancasila seperti pendukung khilafah”, terangnya, seperti dikutip dari bpip.go.id (3/5/2021).

Sehingga penjagaan dan pembumian Pancasila bukan saja membentengi ideologi Pancasila dari ideologi-ideologi yang membahayakan keutuhan dan persatuan, tetapi juga mampu membentuk dan meramu nilai-nilai toleransi dan gotong royong sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia.

Baca Juga : BPIP dan Guru Komitmen Gotong Royong Kuatkan Nilai-nilai Pancasila

Seminar yang diadakan di Kampus C Unair ini adalah kegiatan luring pertama yang diadakan dengan mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Sekaligus dihadiri oleh jajaran pejabat Rektorat Unair dan mahasiswa dari berbagai fakultas.

 

Pancasila sebagai Perekat NKRI yang Beragam

Wakil Rektor 1 Unair, Prof. Dr. Bambang Sektiari Lukiswanto, Drh., DEA dalam sambutannya menandaskan bahwa Pancasila merupakan ideologi yang sudah final dan tidak dapat diganggu gugat, sehingga masyarakat harus memiliki kesadaran akan hal tersebut.

“Menjadi sesuatu yang sulit kalau kita tidak menyadari kalau Pancasila adalah final. Apalagi memperjuangkan (lahirnya Pancasila, red) dengan berdarah-darah. Pancasila juga bisa merekatkan NKRI yang sangat beragam”, ungkap Prof. Bambang.

Digarisbawahi  Prof. Bambang, bahwa di era milenial seperti sekarang penting kiranya mahasiswa terlibat untuk mencegah berkembangnya radikalisme di kampus dengan melakukan penguatan ideologi Pancasila di setiap ruang-ruang diskusi.

Selaras dengan hal tersebut, Direktur Pengendalian BPIP, Mukhammad Fahrurozi, S.Sos, M.Si menyoroti maraknya intoleransi dan radikalisme yang bukan hanya menyebar di kampus-kampus, tetapi di tempat-tempat lain bahkan institusi pemerintah. “ASN, aparatur, politisi, mahasiswa juga ikut terpapar,” terangnya.

Dengan kondisi seperti itu, maka solusi yang perlu diperbanyak yaitu kegiatan-kegiatan edukasi (pembumian Pancasila, red) yang menyasar kaum milenial melalui berbagai platform seperti musik, olahraga, film, kuliner, dan lain sebagainya, ujar Direktur Pengendalian BPIP.

Kegiatan seminar kali ini merupakan acara luring pertama dengan menerapkan aturan rapid antigen kepada seluruh peserta yang diselenggarakan di Kampus C Unair . Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh pembicara-pembicara lain seperti Shahrur Marta Dwi Susilo, M.A., Ph.D sebagai Kepala Pusat Kebangsaan Unair, Dr. Bondan Kanumoyoso, M.Hum Budayawan Universitas Indonesia, serta Direktur Sosiali, Komunikasi, dan Jaringan BPIP, M. Akbar Hadiprabowo, S.H., M.H.

 

Berpegang Teguh pada Falsafah Pancasila

Menteri Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Nadiem Makarim memberikan sambutan dalam upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang digelar secara virtual hari ini Minggu, 2 Mei 2021.

Nadiem mengatakan, peringatan Hari Pendidikan Nasional adalah momentum untuk merefleksikan kembali apa yang sudah dikerjakan dengan baik dan apa saja yang perlu diperbaiki dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Lembaran baru pendidikan Indonesia berarti transformasi. Yaitu transformasi yang tetap bersandar pada sejarah bangsa, dan juga keberanian menciptakan sejarah baru yang gemilang.

“Saya ingin, anak-anak Indonesia menjadi pelajar yang menggenggam teguh falsafah Pancasila, pelajar yang merdeka sepanjang hayatnya, dan pelajar yang mampu menyongsong masa depan dengan percaya diri,” kata Nadiem.

Maka dari itu, pihaknya akan terus melakukan upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia dengan transformasi melalui terobosan merdeka belajar.

Nadiem menyebutkan, Kemendikbud Ristek bersama berbagai elemen masyarakat, terus melakukan upaya untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia.

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed