by

Harapan yang Membawa Sukacita

Kabar Damai | Minggu, 28 Maret 2021

 

Jakarta | kabardamai.di | Setiap orang selalu mengharapkan hal yang baik terjadi dalam hidupnya. Rasanya tidak ada yang dalam keadaan stabil mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi baginya atau bagi orang yang dikasihinya.

Tahun lalu, kita mengawali tahun 2020 dengan harapan, impian, cita cita dan segala hal yang baik. Dengan semangat dan optimisme tinggi, kita berharap bahwa apa yang kita targetkan itu terwujud. Namun apa daya, mulai bulan Maret 2020 semua berubah. Impian besar mulai berganti menjadi upaya bertahan hidup. Ekonomi terguncang, suasana politik bergejolak, ketakutan melanda seluruh bangsa, bahkan dunia. Kita dituntut untuk beradaptasi, melakukan perubahan agar bisa bertahan menghadapi situasi yang diporak-porandakan makhluk tak kasat mata itu, COVID-19. Puluhan, ratusan, hingga ribuan orang harus meregang nyawa, setelah sekuat tenaga berperang melawan virus dan penyakit penyerta yang mengikutinya.

Baca Juga : Katong Samua Basudara

Pada akhir 2020, kita menemukan bahwa kita jauh dari apa yang kita bayangkan pada awal tahun. Sebagian orang terdampak buruk, sebagian lain justru mendapatkan berkah yang tak terduga. Sebagian orang menyesali apa yang terjadi, sebagian lain bersyukur karena ada banyak hal baru yang didapatkan dari situasi ini. Pada akhirnya kita menyadari bahwa pandangan manusia hanya sebatas tembok, tak mampu melampauinya.

Saudara, jika kita merenungkan secara mendalam, setiap kejadian, apa pun itu, selalu bersifat netral. Hujan di siang bolong, gelas yang terjatuh dari meja makan, ban mobil yang kempes di tengah jalan, dan rangkaian peristiwa lainnya, selalu bersifat netral. Yang membuatnya berbeda adalah bagaimana persepsi kita melihat kejadian tersebut. Hujan di siang hari yang sama bisa disyukuri oleh sejumlah orang, dan bisa disesali oleh orang yang lain. Semua tergantung dari bagaimana kita melihat kejadian itu. Kita tidak selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi di sekitar kita, itu benar-benar di luar kontrol kita. Namun, kita bisa mengendalikan persepsi yang kita pakai dan persepsi itulah yang menentukan tindakan apa yang kita ambil untuk merespons kejadian tersebut.

Pandemi dan segala peristiwa yang mengikutinya, tidak bisa kita kontrol, tetapi persepsi apa yang ingin kita pakai, benar-benar ada di kendali kita. Tentu, saya bisa sangat memahami, tidak mudah bagi kita untuk menggunakan persepsi yang terus positif ketika mengalami hal yang merugikan kita, dan pada momen seperti itulah kita membutuhkan harapan untuk membuat kita keluar dan menyongsong hari depan yang lebih cerah.

Beberapa waktu lalu, kita merayakan Natal. Natal adalah salah satu hari terpenting dalam kekristenan. Pada momen itulah kita mengingat cinta Allah yang begitu besar pada umat Nya dalam wujud Yesus Kristus yang hadir di tengah dunia. Biasanya, kita merayakan Natal dengan melihat ke masa lalu, yaitu peristiwa kelahiran Yesus. Tentu hal ini penting dan tak boleh kita lupakan. Namun, ada hal lain yang perlu kita lakukan walau sering terlupakan, yaitu merayakan Natal dengan melihat ke depan, sebuah harapan. Kelahiran Yesus di tengah dunia sesungguhnya adalah kelahiran sebuah harapan baru. Harapan yang membawa pembebasan dan sukacita bagi mereka yang mengimaninya.

Saya ingin mengajak kita untuk sejenak melihat masa lalu, tentang peristiwa pemberitaan kabar baik yang dibawa oleh malaikat, sebelum kita menatap masa depan.

Jika kita melihat kisah di Lukas pasal yang kedua, kita akan menemukan sebuah peristiwa yang hanya terdapat di dalam injil Lukas, yaitu tentang pemberitaan kelahiran Yesus yang dibawa oleh malaikat dan disampaikan kepada para gembala. Sudah menjadi hal umum di masyarakat Yahudi, bahwa orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi dan mengalami hari bahagia seperti kelahiran, akan menyewa seorang pembawa kabar untuk memberitakan kabar baik yang mereka alami. Terlebih jika anak sulung yang lahir itu laki-laki, berita itu akan disampaikan dengan penuh sukacita. Tak lain, karena kelahiran anak sulung laki-laki dalam sebuah keluarga diyakini sebagai perkenan Allah kepada keluarga tersebut. Keluarga itu dianggap diberkati Tuhan karena Tuhan mengizinkan mereka meneruskan generasi mereka.

Allah melakukan hal yang serupa. Kelahiran Yesus Kristus, Anak Tunggal-Nya, tak terlepas dari kabar yang disiarkan oleh pembawa berita, dalam hal ini malaikat Allah. Namun kepada siapa berita itu pertama kali disampaikan, menarik untuk kita perhatikan. Bayangkan Saudara, jika seorang raja atau penguasa memiliki anak sulung laki-laki, kepada siapa ia akan mengabarkan kabar sukacita itu? Secara logika, tentu kepada raja lain, penguasa lain, atau setidaknya kepada para pemuka agama Yahudi. Namun bukan itu yang Allah lakukan. Dia justru mengabarkan kabar sukacita itu kepada para gembala yang sedang menjaga ternak mereka di padang.

Mungkin sebagian dari kita akan berpikir, “Oh, ya, gembala itu kelompok orang sederhana. Lalu mengapa? Tak ada yang salah, bukan?” Ya, memang tidak salah, tapi ada hal lain yang lebih mendalam. Para gembala adalah kelompok yang tidak dihargai di tengah masyarakat Yahudi. Mereka miskin, karena umumnya ternak yang mereka gembalakan bukan kepunyaan mereka sendiri. Mereka hanya orang upahan. Selain miskin, mereka juga bukan kelompok orang yang terdidik, dan yang tak kalah penting, secara spiritual mereka dianggap tidak layak. Pekerjaan mereka—yang menuntut mereka untuk mengembara berminggu-minggu bahkan berbulan bulan—membuat mereka harus meninggalkan keluarga mereka. Selain itu, sulit sekali bagi mereka untuk bisa menguduskan hari Sabat. Ternak mereka menuntut perhatian mereka 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu, sehingga tentu nyaris tak mungkin mereka mematuhi seluruh hukum Taurat. Kondisi ini membuat mereka merasa tidak berharga, tidak layak, dan tidak dicintai.

Pemuka agama Yahudi jelas menjauhi mereka, karena dianggap tak taat dengan hukum Taurat. Bahkan salah satu stigma negatif yang menempel dalam diri mereka adalah pencuri pembohong. Para gembala ini kerap kali mencuri dalam berbagai bentuk, salah satunya yang paling umum adalah dengan membawa ternak mereka masuk ke lahan orang lain untuk mendapatkan makanan ternak tanpa izin pemilik lahan. Meskipun tidak semua gembala melakukannya, namun stigma itu melekat kuat dalam identitas mereka. Hal ini juga membuat para gembala sulit mendapatkan kepercayaan masyarakat. Bahkan, dalam sebuah pengadilan, gembala tidak umum dijadikan sebagai saksi, mereka tidak dipercaya. Jika mereka jatuh cinta pada seorang perempuan di daerah mereka, sulit sekali mereka mendapatkan restu dari orangtua perempuan itu. Bayangkan, dengan segala stigma buruk yang melekat pada diri mereka, ayah mana yang mau menikahkan anak perempuan mereka dengan seorang gembala.

Masa depan mereka pun sulit mendapatkan perubahan, dan pada umumnya keturunan gembala akan kembali menjadi gembala. Menariknya, kepada kelompok orang seperti inilah Allah pertama-tama memberitakan kabar kelahiran Yesus. Kepada kelompok orang yang secara Yahudi dianggap tidak layak, malaikat mengatakan, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kesukaan besar untuk seluruh bangsa: hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Yesus Kristus, Tuhan, di kota Daud” (ay 10- 11). Kabar baik apa yang diterima oleh para gembala ini? Kabar baik tentang lahirnya Juru Selamat bagi mereka, dan bagi seluruh dunia.

Selama ini, hal yang membuat para gembala makin merasa tidak layak di hadapan Tuhan dan sesama adalah peraturan-peraturan yang dibuat oleh agama. Di sinilah salah satu letak bahayanya agama jika tidak dihidupi secara baik dan benar. Salah satu kekeliruan yang bisa dilakukan agama adalah mereduksi kekristenan menjadi sebatas ritus dan peraturan. Padahal, kekristenan bukan soal aturan, tapi soal relasi cinta kasih antara manusia dengan Allah, manusia dengan dirinya sendiri, dan manusia dengan sesama. Itu sebabnya Allah hadir di dunia bukan untuk menciptakan agama baru, bahkan terkadang dalam situasi situasi tertentu Yesus justru melanggar apa yang ditetapkan oleh agama.

Kepada orang-orang inilah kabar kehadiran Juru Selamat itu pertama kali diberitakan. Mereka yang dinilai tak layak itu, justru mendapatkan ‘Kunjungan Kerajaan’, hak istimewa, dan terlebih lagi, keselamatan. Mereka yang selama ini berpikir bahwa mereka mungkin tidak selamat karena ketidakmampuan mereka menaati hukum Taurat, kini mendapatkan kabar bahwa Juru Selamat hadir bagi mereka. Tentu ini sebuah harapan yang membawa sukacita luar biasa bagi mereka. Kini mereka bisa menjalani hidup dengan keyakinan dan pemahaman baru, bahwa bukan kemampuan seseorang menjalankan hukum Taurat secara sempurna yang membuatnya layak di hadapan Allah, tetapi karena belas kasih Allah.

Pada hakikatnya, Natal menyoal tentang harapan, tentang pembebasan, dan tentang lunturnya stigma yang mengatakan ketidaklayakan seseorang di mata agamanya. Di momen inilah saya mengajak kita merayakan Natal bukan sekadar melihat ke belakang, melainkan juga menatap masa depan. Harapan apa yang muncul dalam diri Saudara pada Natal yang baru saja kita lalui? Harapan apa yang muncul dalam keluarga Saudara? Sebagaimana yang sempat saya utarakan di atas, setiap kejadian bersifat netral. Bahkan Natal yang kita rayakan setiap tahunnya pun bersifat netral. Ia takkan bermakna jika kita tidak memaknainya. Ia takkan berarti jika kita tidak menghayati dan membuatnya memiliki arti.

Jangan lewatkan Natal begitu saja, maknailah peristiwa besar itu di tengah kehidupan keluarga Saudara. Dan kini, pada awal tahun yang baru ini, apa yang Saudara harapkan akan terjadi dalam kehidupan Saudara? Berharaplah agar hal yang baik bukan hanya terjadi pada diri kita dan keluarga kita, melainkan sisipkanlah juga harapan kepada Tuhan, agar kita bisa meneladan Kristus, yang kehadiran-Nya mampu membawa pembebasan dan harapan bagi orang-orang di sekitar kita. Tuhan mendengar dan memampukan kita. Amin. [ ]

 

Penulis : Alex C. Sardo

Sumber: gkipi.org/harapan-yang-membawa-sukacita/

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed