by

Haedar: Jangan Sampai Kader Muhammadiyah Wawasan Kebangsaannya Cupet

Kabar Damai  | Selasa, 6 Juli 2021

Denpasar | kabardamai.id | Muhammadiyah memiliki landasan akidah, pemikiran hingga karakter dan sikap kebangsaan yang jelas sebagaimana tercantum dalam berbagai dokumen resmi Persyarikatan.

Karena itu, dilansir dari laman PP Muhammadiyah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir berpesan agar orientasi keumatan dan kebangsaan Angkatan Muda Muhammadiyah terutama IMM selalu berpedoman dengan sikap resmi Muhammadiyah.

“Sifat, pandangan, bahkan orientasi, tindakan IMM harus selalu menyatu dengan kepentingan umat dan bangsa. Jangan menjadi komunitas yang terasing dari bangsa dan negara. Juga jangan menjadi komunitas yang kontra dari keumatan dan kebangsaan,” pesan Haedar dalam Tanwir XXX IMM, Sabtu, 3 Juli 2021.

“Wawasan kebangsaan kita harus jelas. Jangan malah dari kader Muhammadiyah lahir elit-elit kader yang justru wawasan kebangsaan dan keumatannya cupet. Sempit. Miopik. Malu kita dengan sejarah (Muhammadiyah),” imbuhnya, dikuyip dari muhammadiyah.or.id (4/7).

Haedar lantas mencontohkan sifat Kiai Ahmad Dahlan yang luwes dan melintas batas dalam bergaul. Semua kelompok dan golongan, bahkan mereka yang berbeda sekalipun menjadi kawan dan tempat belajar Kiai Dahlan.

Baca Juga: Haedar Nashir: Pancasila Tak Cukup Jadi Doktrin, Harus Kita Praktikkan

“Bagaimana mungkin kita hidup di era sekarang seratus lebih tahun dari Kiai Dahlan, kita mengenyam pendidikan ada yang dari luar, ada yang dari dalam negeri umum maupun khusus agama tapi kok wawasan kebangsaan kita sempit. Apalagi menjadi partisan, terpengaruh oleh momen-momen politik yang menggiring kita pada sikap kerdil,” katanya.

Maka, IMM dipesankan Haedar agar menjadi contoh yang berintegritas, sekaligus menjaga marwah dan muruah Persyarikatan.

“Sebab kalian sebagai kader harus punya idealisme yang tinggi, mau bersusah-susah dalam perjuangan. Jangan ingin instan. Termasuk dalam meraih kesuksesan ini. Hidup harus kita raih dengan perjuangan yang juga ada idealisme, ada integritas. Dan itulah yang ditanamkan oleh orangtua Muhammadiyah,” tegasnya.

Tirulah Soekarno dan Kiai Mas Mansur

Di tengah kehidupan modern yang penuh dinamika, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah berpesan agar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) terus memperbarui orientasi nilai Keislaman yang berkemajuan dan progresif.

Dalam pembukaan Tanwir XXX DPP IMM, orientasi nilai itu adalah Islam yang ditampilkan oleh dua tokoh Muhammadiyah yakni Soekarno muda dan Kiai Mas Mansur.

Dua tokoh itu, menurut Haedar menampilkan orientasi Islam yang maju sebagai hasil didikan langsung dari pendiri Muhammadiyah Kiai Ahmad Dahlan selama di Surabaya Bersama Tjokroaminoto.

“Soekarno menyerap betul yang kemudian beliau pada tahun 1938 ketika di Bengkulu dan menjadi anggota resmi dan pimpinan Majelis Pendidikan Muhammadiyah, bahkan mengakui dan mengatakan juga tahun 1962 dalam Muktamar Setengah Abad bahwa beliau mengintil, dzawil qurba, merasa menjadi murid yang memang pernah mengikuti pengajian-pengajian Kiai Dahlan,” ujar Haedar.

Beliau merasakan dan menyatakan bahwa Kiai Dahlan telah menanamkan nilai progresif, nilai kemajuan, nilai reformasi pemikiran sehingga dia katakan kenapa dia masuk Muhammadiyah? ya karena (kata Soekarno) sesuai dengan saya punya alam pikiran yakni alam pikiran progresif,” imbuhnya.

Sama seperti Soekarno, Kiai Mas Mansur menurut Haedar juga memperkenalkan cara Berislam yang maju. Ciri itu ditampilkan terutama setelah Kiai Mas Mansur menjadi Ketua PP Muhammadiyah tahun 1938-1942.

“Poin penting ini bagi IMM adalah sebagai kader Muhammadiyah belajarlah Islam yang mendalam, yang luas, yang multiprespektif.Belajarlah Islam dengan Bayani, Burhani dan Irfani sebagaimana Manhaj Tarjih agar IMM menjadi barometer anak muda Muhamamdiyah yang menampilkan perspektif Islam Berkemajuan, Islam yang progresif di tengah perubahan zaman. Watak ini harus menjadi DNA IMM. Harus melekat menjadi identitas IMM,” pesan Haedar.

“Maka sesibuk apapun ananda, pahamilah Islam baca Alquran dan hadis-hadis nabi. Baca sejarah dan pemikiran-pemikiran keislaman dari abad pertama hijriyah sampai kontemporer dari manapun sumbernya. Lalu baca pemikiran-pemikiran Muhammadiyah yang begitu maju, melampaui zamannya. Saya yakin bahwa kader-kader IMM inilah yang meneruskan kami-kami ini di pusat sampai di bawah,” tandasnya

Hadirkan Semangat Persatuan Otentik

Dalam kesempatan yang sama, Haedar Nashir juga berpesan agar IMM terus menggaungkan persatuan bangsa yang otentik dan bukan sekadar jargon semata.

Menurut Haedar, lahirnya semangat persatuan di Indonesia adalah barang mahal yang dicapai melalui perjuangan banyak pihak. Karena itu, solidaritas di antara semua elemen bangsa harus dijaga tanpa ada perilaku mengecilkan pihak lainnya.

“Jangan pernah meremehkan bahwa persatuan bangsa adalah sesuatu yang given (pemberian) karena dinamikanya begitu kompleks. Di tengah keragaman orientsi politik, kondisi ekonomi, dan berbagai macam alam pikiran yang hidup di bangsa ini setelah Reformasi, maka persatuan nasional, persatuan Indonesia sebagaimana tercantum dalam sila ketiga Pancasila bukanlah sesuatu yang dogmatis,” jelasnya.

Tantangan terhadap persatuan kini menurut Haedar dirasakan lebih besar. Apalagi dengan hadirnya media sosial yang gampang sekali meluncurkan narasi kebencian dan perpecahan dengan ciri mengecilkan kelompok lain yang berbeda.

“Ketika bangsa ini selalu menghadapi dinamika kekeluargaan yang plural, majemuk di tengah realitas ekonomi sosial, budaya yang begitu kompleks, yang kadang dalam batas tertentu ada keretakan perbedaan dan silang sengketa dengan kehadiran media sosial, bahkan juga kohesivitas kebangsaaan ini kadang juga menjadi semakin tidak mudah,” ungkapnya.

Karena itu, IMM dipesankan agar semangat persatuan itu selain digaungkan adalah diwujudkan dalam kehidupan kebangsaan nyata.

“Keragaman, perbedaan harus memperoleh titik resolusi dan negosiasi, dialog dan silaturahmi agar perbedaan dan keragaman itu menjadi potensi konstruktif, bukan menjadi faktor destruktif untuk persatuan nasional dan itu memerlukan kebesaran jiwa, kemauan untuk berbagi dan peduli,” tegasnya. [muhammadiyah.or.id]

 

Penyunting: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed