by

Hadapi Virus Radikalisme: Kelompok Moderat Harus Lebih Lantang Bersuara

Kabar Damai I Rabu, 28 Juli 2021

Jakarta I kabardamai.id I Pada Desember 2020 lalu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merilis hasil survey bahwa potensi radikalisme di kalangan muda terjadi penurunan. Meskipun begitu, literasi digital dianggap belum bekerja efektif mencegah radikalisme.

Setali tiga uang, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti menilai hal demikian terjadi karena lemahnya militansi bersuara kelompok moderat dibanding kelompok radikal.

“Pertama, mungkin soal militansi dalam tanda petik. Kadang-kadang kelompok-kelompok moderat karena mereka moderat, jadi kurang militan. Sudahlah toleran saja, kata mereka. Nah kalau teman-teman yang cenderung agak ekslusif itu kan militan betul,” ungkap Mu’ti dalam forum diskusi Kanal Convey Indonesia, Jumat, 23 Juli 2021.

Baca Juga: Kunci Melawan Virus Radikalisme adalah Solidaritas Antar Sesama

Selain militan, melansir laman PP Muhammadiyah, kelompok radikal menurut Mu’ti memiliki kemampuan menarasikan pemikiran mereka dalam kemasan yang menarik, singkat dan sederhana untuk dipahami.

Pada beberapa kasus, argumen mereka juga nampak bisa dipertanggungjawabkan dari sisi otentitas dalil meski jika ditelisik lebih jauh seringkali terlepas dari konteks.

“Oleh karena itu menurut saya gerakan-gerakan kelompok modernis dan progresif ini perlu bergerak lagi,” saran Mu’ti.

Termasuk memperbanyak ruang menggaungkan suara bagi individu-individu yang memiliki komitmen terhadap moderasi.

Siapa Target Kelompok Radikal?

Menurut Mu’ti, mayoritas kaum muda yang potensial terpapar radikalisme adalah mereka yang tidak memiliki latar belakang kultur Keislaman yang baik.

“Nah karena itu kelompok-kelompok yang istilahnya dipopulerkan Prof Azyumardi Azra yaitu ‘knowledge attach to Islam’ itu berangkat dari pemikiran yang kosong, tidak ada background NU, Muhammadiyah atau yang lain. Sehingga ketika kemudian dia ingin mencari sesuatu dari Islam itu dan dia menemukan yang seperti itu (radikal) lalu dia attach to (mengidentifikasi diri),” jelasnya.

Faktor lain yang memperbesar peluang itu menurut Mu’ti adalah anggapan bahwa kelompok moderat seperti NU, Muhammadiyah, Persis dan yang lainnya adalah kelompok sektarian yang primordial (fanatisme/ashobiyah).

“Sehingga sekarang ada kecenderungan untuk tidak Muhammadiyah, tidak NU, tidak Persis, tidak berorganisasi. Pokoknya Islam saja, begitu. Just Islam, hanya Islam,” terangnya.

Apa Solusinya?

Membaca faktor-faktor di atas, Abdul Mu’ti beranggapan bahwa memperbanyak tokoh moderat yang membawa visi keagamaan secara personal dan tidak berafiliasi dengan lembaga keagamaan tertentu bisa menjadi strategi jitu.

“Nah kalau ini diperbanyak saya kira itu bisa menjadi bagian dari bagaimana kontestasi itu bisa menjadi lebih kaya dan masyarakat diberikan pilihan. Yang penting kan perspektif itu diberikan dalam sudut pandang masing-masing dan tidak menyalahkan yang lain, tidak menyerang yang lain,” katanya.

Tak lupa, individual moderat seperti itu juga perlu menanamkan kepada umatnya terkait kedewasaan menyikapi perbedaan sebagaimana dicontohkan oleh para imam mazhab di dalam khazanah Islam.

“Jadi kita kembali ke atsar para imam mazhab itu. Ketika beliau berpendapat itu ya dia tidak menyalahkan yang lain. Ini pendapat saya, silahkan kalau mau setuju kamu ikut. Kalau tidak dan itu lebih kuat silahkan kamu tidak ikut. Saya kira kultur ini bisa kita bangun dan saya kira individul tadi bisa kita perbanyak,” pungkasnya.

Ajak Pendidik Agama Sebarkan Pesan Toleransi

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengajak kepada guru agama, ustaz, kiai dan tokoh agama untuk mengajarkan perilaku toleransi dan anti-radikalisme dan anti-terorisme kepada generasi muda khususnya anak.

Pembelajaran perilaku tersebut, melansir laman BNPT,  dinilai sangat penting melihat tren kenaikan keterlibatan generasi muda dalam sejumlah aksi terorisme di Indonesia.

Ditambah lagi di masa pandemi Covid-19, media sosial yang sebagian besar diminati anak,  justru banyak memuat konten berbau agama namun dibalut dengan narasi intoleran dan radikal.

“Guru agama, ustaz, tokoh agama punya peran penting. Mereka berperan penting mengajarkan akhlak perilaku budi pekerti kepada generasi muda. Pendidik berperan aktif dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme,” ujar Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol  R. Ahmad Nurwakhid pada acara daring “Cegah Paham Radikalisme dan Terorisme di Masa Pandemi Melalui Masjid Ramah Anak, Senin, 26 Juli 2021.

Ia menambahkan, para pendidik agama tersebut dapat dengan rutin memberikan vaksin anti-intoleran dan radikalisme dengan cara menjadi buzzer-buzzer perdamaian dan cinta tanah air baik di dunia nyata maupun maya agar anak tidak memiliki pemahaman agama yang menyimpang.

“Radikalisme dan terorisme bisa muncul dan punya potensi di individu manusia terlepas dari agama dan statusnya. Pemahaman dan cara beragama yang menyimpang akan membuat individu terebut menjadi radikal,” jelasnya.

Agen Islam Rahmatan Lil-Alamin

Sementara itu, Ketua Bidang Pengembangan Potensi Muslimah, Anak dan Keluarga, Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia, Maria Ulfah Anshor mendukung adanya pembentukan akhlak generasi muda yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi oleh pendidik agama di dalam masjid dengan penguatan moderasi beragama secara integratif, sistemik dan multi-sektor.

“Semua orang di masjid harus menjadi agen Islam Rahmatan Lil Allamin. Nilai-nilai keragaman, toleran dan egaliter serta mencintai tanah air dan nilai-nilai kebangsaan harus selalu di ajarkan kepada anak di dalam lingkungan masjid yang ramah anak,” terangnya.

Pengamat terorisme, Ridlwan Habib juga mendukung pencegahan masuknya ideologi intoleran dan radikalisme kepada anak. Ridlwan khawatir jika pencegahan ini tidak dilakukan, banyak anak Indonesia yang nantinya terjerumus menjadi pelaku terorisme.

“Data menunjukan dari tahun 2000 hingga sekarang, pelaku bom bunuh diri berusia dalam rentan umur 18-30. Anak muda sangat rentan menjadi radikal dan terorisme,” tandasnya.

Kerjasama Bilateral AS – Indonesia

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H., beserta pejabat Deputi Bidang Kerja Sama Internasional BNPT, menerima kunjungan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Mr. Sung Yong Kim,  di Kantor BNPT Jakarta  pada Kamis (22/7).

Pertemuan kali ini sebagai bentuk silaturahmi kedua negara sekaligus momentum untuk membahas lebih dalam kelanjutan kerja sama kedua negara yang tertuang pada “Memorandum of Understanding between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the United States of America on Strengthening Counter-terrorism Cooperation.”

Pada kesempatan itu, diwartakan laman BNPT, Kepala BNPT mengawali pembahasan mengenai MoU dimaksud yang akan habis masa berlakunya pada tahun ini. Mensikapi hal tersebut, Duta Besar Amerika untuk Indonesia dan Kepala BNPT berencana untuk memperpanjang MoU kerja sama penanggulangan terorisme antara kedua negara tersebut. Adapun bentuk kerjasama yang telah dilakukan antara kedua negara meliputi pertukaran informasi, training, dan kerja sama pembangunan melalui United States Agency for International Development (USAID).

“Amerika Serikat merupakan mitra penting bagi Indonesia dalam memelihara perdamaian dan keamanan di tingkat regional dan multilateral, dan selama ini kerjasama Indonesia dan Amerika Serikat di bidang keamanan berjalan dengan baik. Oleh karena itu, ke depannya kami akan terus meningkatkan kerja sama dalam mencegah serta menanggulangi terorisme dan ekstremisme berbasis kekerasan”, tutur Boy Rafli.

Menanggapi sambutan hangat terhadap kunjungannya, Mr. Sung Yong Kim menyampaikan kegembiraan dan apresiasinya terhadap kerjasama yang telah terjalin dengan BNPT selama ini, termasuk dalam menangani masalah terorisme lintas negara.

“First of all I am delighted to be here, and honoured to meet with General Boy Rafli Amar. We have a wonderful discussion about the importance of our parallel cooperation of counter terrorism, which is related to your question, no country tend to fight against terrorism alone, so that is really important that they have strong international cooperation, including cooperation that United State has with Indonesia. And I think the next task is to continue countering different kind of terrorism threat, so that we are both protected as we can fight against terrorism threat”, ungkap Mr. Sung.

Lebih lanjut, Duta Besar Amerika untuk Indonesia juga berharap agar kerja sama yang sudah berlangsung, dapat di tingkatkan dan mempertajam fokus ke depannya.

“Well I think it’s important to us not only  to engage our strength in cooperation, but also to protect ourselves, to protect Americans , to protect Indonesians. What we keep doing together must have implications. Be safer, more secure, and more prosperous to our strong cooperation”, ujarnya.

Menutup pertemuan, Kepala BNPT pun menjelaskan mengenai Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme 2020-2024.

Hal ini merupakan upaya konkrit pemerintah Indonesia dalam pencegahan dan penanggulangan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme dengan mengedepankan pendekatan soft approach guna menanggulangi akar permasalahannya secara komprehensif. [Muhammadiyah/bnpt]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed