Guru Muda untuk Keberlangsungan Pendidikan

Kabar Utama1327 Views

Kabar Damai | Sabtu, 26 November 2022

Tasikmalaya I Kabardamai.id I Peringatan Hari Guru Nasional pada tanggal 25 November bertepatan dengan Hari Ulang Tahun persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Hari ini diperingati sebagai bentuk apresiasi peran dan jasa guru terhadap anak bangsa.

“Guru adalah ujung tombak generasi tunas bangsa, gurulah yang pertama mengukir akan dijadikan apa generasi muda ini.” Peribahasa ini seringkali kita dengar saat kecil, katanya harus nurut sama guru karena guru adalah orang yang menyelamatkan muridnya dari kegelapan.

Pekerjaan guru adalah pekerjaan yang sangat dihormati dan dibanggakan, jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) menjadi idola para orang tua dan itu menjadi doktrin pertama dari orang tua.

Guruadalah cita-cita yang sering kali menjadi idola murid TK saat ditanya ingin jadi apa saat besar. Ingat sekali di SD saya kala itu masih kelas 1 hampir 30% menyatakan ingin menjadi guru. Guru yang dilihat adalah sosok yang ramah dan penyayang, menjadi idola muridnya agar kelak bisa menjadi seperti gurunya.

Namun jika sekarang ditanya, sangat jarang sekali anak kecil yang bercita-cita menjadi guru, kebanyakan dari mereka malah ingin menjadi youtuber terkenal seperti Atta Halilintar katanya.

Padahal peran dan jasa guru hari ini masih sama pentingnya dengan di masa lalu.

Lalu bagaimana dengan anak tahun 90an yang bercita-cita menjadi guru, bagaimana kira-kira kabar mereka.

Baca juga: Rekomendasi KUPI II Soroti Perlindungan Jiwa Perempuan

Salah seorang teman saya sudah satu tahun ini mengajar jadi guru SD di salah satu sekolah negeri yang terletak di perbatasan Garut dan Tasik. Sebelumnya dia mengajar di sekolah negeri yang kebetulan berada di kota. Katanya berbeda sekali anatar murid kota dan perbatasan.

“Anak perbatasan lebih aktif dan bandel dari murid di kota” katanya. Ia merasa kesulitan harus mendidik karakter murid-murid yang masih usia anak-anak itu. Kelas satu, kira-kira mereka masih berusia 7-8th. Dia merasa anak kota jauh lebih muda diatur dan taat dengan perintah guru. Namun hal tersebut tidak dirasakannya ditemukannya di sekolah perbatasan itu.

Ia baru menyadari, rupanya menjadi guru tidak hanya mengajarkan tentang apa yang ada di buku tulis dan kurikulum. Menjadi guru di kota mungkin lebih  mudah, segala akses dimiliki murid untuk bisa berkembang lebih cepat, bimbel dan teknologi menjadi patokannya.

Berbeda sekali dengan murid yang berada di perbatasan, apalagi di bawah kaki gunung Cikuray itu. Teman saya tidak hanya mengajarkan apa yang dituliskan dalam buku, namun ia diharuskan mengajarkan etika dan budi pekerti pada murid-murid yang sudah lebih dulu dicapnya nakal.

Namun dari sana dia merasa, bahwa pendidikan masih belum merata di negeri kita ini. Bayangkan saja, sekolah di perbatasan itu hanya memiliki guru yang sangat terbatas, apalagi usia mereka sudah cukup tua untuk menjadi guru. Guru yang ada sudah tidak lagi sanggup menghadapi murid-murid itu. Dan pola asuh lama masih melekat pada guru-guru senior itu yang mengarajkan ilmu pengetahuan melalui paksaan dan kekerasan.

Teman saya merasa dirinya sangat diperlukan di sekolah itu. “Harus ada guru muda untuk keberlangsungan pendidikan kita, agar pemerataan semakin meluas, guru muda harus lebih banyak lagi”, katanya dengan penuh optimis.

Teman itu masih optimis dan merasa memiliki harapan di masa yang akan datang jika dia terus mengabdikan dirinya menjadi guru. Ia bertekad akan menjadi guru yang akan selalu diidolakan muridnya sampai kapanpun.

Penulis : Amatul Noor

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *