by

Gong Perdamaian Nusantara: Simbol Persaudaraan dan Pemersatu Bangsa

Kabar Damai I Selasa, 27 Juli 2021

Jakarta I kabar damai.id I Indonesia merupakan negara besar dengan beragam suku bangsa, ras, dan agama. Perbedaan ini seperti dua mata pisau. Di satu sisi jika dikelola dengan baik dapat menjadi kekuatan yang akan membesarkan Indonesia, tapi bisa juga menjadi pemicu konflik yang mengancam keutuhan bangsa dan negara jika tidak dijaga dengan baik.

Keberagaman menjadi salah satu pembahasan yang dilakukan pada tahun 1928 silam. Pada saat itu, para pemuda dari berbagai wilayah Nusantara bersepakat untuk menyatukan keberagaman tersebut dalam sebuah keputusan kongres yang akhirnya dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Hal ini menjadi tonggak awal pejuangan meraih kemerdekaan Indonesia dengan menggelorakan semangat persatuan.

Meskipun kita telah 76 tahun merdeka, konflik yang melibatkan bentrokan suku maupun agama masih kerap terjadi di Indonesia yang menyebabkan banyak kerugian materi hingga korban jiwa. Konflik-konflik ini menjadi ujian dalam kehidupan bernegara sekaligus ancaman bagi keutuhan bangsa. Meskipun begitu, sebagian besar rakyat Indonesia tetap teguh untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengingatkan rakyat Indonesia bahwa perbedaan tidak boleh menjadikan bangsa ini terpecah belah. Salah satunya dengan membangun Gong Perdamaian Nusantara di berbagai wilayah di Indonesia.

Baca Juga: Tokoh Muda Bahai: Anak Muda Menciptakan Ruang Dialog dan Kolaborasi Perdamaian

Pembuatan Gong Perdamaian Nusantara berawal dari ide Djuyoto Suntani, pada awal tahun 2000. Presiden Komite Perdamaian Dunia ini merasa prihatin dengan konflik horizontal yang kerap terjadi di Indonesia dan mengancam keutuhan bangsa.

Seperti namanya, Gong Perdamaian Nusantara berbentuk bulat seperti alat musik gong dengan diameter sekitar 2 meter. Cara membunyikannya pun sama, yaitu dengan dipukul bagian tengahnya. Gong yang terbuat dari campuran logam ini memiliki warna kuning keemasan.

Melansir pariwisataindonesia.id, Gong Perdamaian Nusantara terbagi menjadi empat lingkaran yang masing-masing memiliki nilai filosofis. Di lingkaran terluar, terdapat 444 logo dan nama kabupaten serta kota dari seluruh Indonesia, sebagai lambang bahwa seluruh rakyat Indonesia mendukung upaya perdamaian dan persatuan ini.

Di bagian kedua terdapat 33 lambang dan provinsi di Indonesia (pada saat Gong Perdamaian Nusantara dibuat, Kalimantan Utara belum berdiri menjadi provinsi sendiri). Di lingkaran selanjutnya terdapat 5 agama besar resmi di Indonesia, yaitu Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghuchu. Sedangkan di bagian inti terdapat gambar pulau Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Tersebar di Berbagai Wilayah Indonesia

Gong Perdamaian Nusantara awalnya dibuat sebanyak 5 buah sesuai banyaknya sila dalam Pancasila. Dalam perkembangannya, jumlah gong pun bertambah dan tersebar di beberapa wilayah Indonesia, seperti Yogyakarta, Palu (Sulawesi Tengah), Singkawang (Kalimantan Barat), Kupang (Nusa Tenggara Timur), Purworejo (Jawa Tengah), serta Mamuju (Sulawesi Barat).

Pembangunan Gong Perdamaian di berbagai wilayah diharapkan menjadi pengingat bahwa meskipun memiliki keberagaman Suku, Agama, bahasa daerah, dan Ras, rakyat Indonesia tetap disatukan dalam Tanah, Bangsa, dan Bahasa Indonesia.

Sobat Pariwisata! Selain sebagai pengingat makna Bhineka Tunggal Ika, Gong Persaudaraan Nusantara juga menjadi spot pariwisata yang kerap dikunjungi para wisatawan. Semoga apapun usaha yang dilakukan semakin membuat bangsa ini utuh dalam persatuan, meskipun memiliki banyak keanekaragaman. Seperti semangat awal para pemuda yang menghasilkan Sumpah Pemuda.

Hadir di Palu Sebagai Pengingat Agar Konflik Tak Terulang

Gong Perdamaian Nusantara atau Monumen Nosarara Nosabatutu yang dalam Bahasa Kaili (suku asli di Sulawesi Tengah) memiliki arti bersaudara dan bersatu. Di Kota Palu pembangunan monumen Gong Perdamaian Nusantara ini dilatar belakangi oleh keprihatinan atas terjadinya kekerasan sosial dan konflik di wilayah Sulawesi Tengah.

Di antaranya di  Poso, Sigi, dan wilayah lainnya yang telah menimbulkan duka mendalam bagi masyarakat korban kekerasan sosial dan konflik di wilayah tersebut. Karenanya dirasa perlu membangun simbol-simbol perdamaian di kota Palu dengan tujuan untuk mengingatkan kembali masyarakat dan generasi berikutnya agar tidak terulang lagi kekerasan sosial dan konflik di Sulawesi Tengah.

Melansir laman kemenkeu.go.id, simbol perdamaian berupa Gong Perdamaian atau Monumen Nosarara Nosabatutu ini, diresmikan pada tanggal 11 Maret 2014 oleh Brigadir Dewa Parsana Kapolda Sulawesi Tengah. Dialah  pencetus Ide pembuatan monumen sebagai simbol perdamaian bertujuan sebagai dasar dalam membangun kebersamaan, kerukunan, dan mengajak seluruh komponen bangsa untuk ikut berperan aktif dalam mewujudkan keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia, khususnya di Sulawesi Tengah.

Monumen ini terletak di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu. Berada di atas bukit yang berjarak 2 km di belakang Mako Polda Sulawesi Tengah, tempat ini bisa dicapai melalui jalan Soekarno-Hatta dengan jalan mendaki sekitar 10 menit dengan menggunakan kendaraan.

Gong Perdamaian Nosarara Nosabatutu memiliki beberapa tulisan disetiap bagiannya. Pada bagian depan gong terdiri dari 3 bagian lingkaran dan 1 bagian yang menonjol keluar. Lingkaran yang paling luar terdapat 444 logo beserta nama Kota dan Kabupaten yang ada di Indonesia.

Lingkaran tengah terdapat 33 logo beserta nama Provinsi yang ada di negeri tercinta Indonesia, dan juga tulisan “GONG PERDAMAIAN NUSANTARA, SARANA PERSAUDARAAN DAN PEMERSATU BANGSA”. Bagian dalamnya terdapat 5 logo agama yang ada di Indonesia, yaitu agama Islam, Buddha, Kristen, Katolik dan Hindu. Sedangkan pada bagian tengah gong yang menonjol keluar terdapat gambar pulau Indonesia dan di atas gong terdapat tulisan UUD 1945.

Selain simbol gong untuk menjaga perdamaian, di Bukit Tondo juga dibangun graha yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah, menjadi alternatif tempat rekreasi dan hiburan masyarakat di Kota Palu. Salah satu manfaat lebih dari dibangunnya tempat tersebut, adalah adanya jalan yang membelah perbukitan dapat menghubungkan Kelurahan Tondo dengan Keluruhan Paboya, sekaligus dapat berfungsi sebagai jalan evakuasi bila ada bencana tsunami.

Beragam lokasi berswa foto (selfi) yang tersedia di area ini. Terdapat pula beberapa kafe jika kita haus dan ingin menikmati minuman hangat dan makanan kecil sambil memanjakan mata memandangi pemandangan hijau berbagai tumbuhan yang menghiasi taman serta Teluk Palu.  Tempat ini juga dilengkapi dengan mushola kecil serta toilet untuk pengunjung muslim yang akan melaksanakan solat.

Tugu Perdamaian Tiga Tingkat

Untuk mencapai Gong Perdamaian, kita akan melewati taman dan Monumen Nusarara Nusabatutu yang indah, serta kita juga harus menaiki beberapa tangga. Pada lokasi tersebut setelah mengitari beberapa tangga kita dapat menaiki bangunan tugu perdamaian Palu yang terdiri dari 3 tingkat.

Itu  menggambarkan untuk tetap menjaga 3 keseimbangan dalam hidup manusia didunia, yaitu: hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, hubungan antara manusia dengan manusia, dan hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Lokasi ini menjadi spot paling favorit bagi pengunjung karena dari ketinggian pengunjung dapat berswa foto dengan latar belakang laut dan kota Palu.

Makna dan arti penting dari masing-masing lantai dalam monumen tersebut mempunyai fungsi yang berbeda, Lantai dasar, berfungsi sebagai museum perdamaian, yang berisikan ajaran perdamaian dari kitab suci agama, pesan-pesan moral dan pesan perdamaian dari para tokoh perdamaian termasuk dari korban kekerasan.

Lantai dua, berfungsi sebagai museum seni budaya nusantara berisikan hasil kerajinan aneka seni budaya nusantara yang harus dipelihara dan dikembangkan. Dan lantai tiga, berfungsi sebagai museum bahaya penyalahgunaan Narkoba, sebagai antisipasi ancaman bahaya besar bagi generasi muda kedepan.

Ketika senja tiba, pemandangan akan lebih indah, kita dapat menikmati sunset, perjalanan mentari kembali ke peraduannya di ufuk barat. Bila berkunjung ke kota Palu anda perlu membuktikan betapa indahnya suasana di taman dan sekitaran Monumen Nusarara Nusabatutu. Kita juga dapat menyaksikan semburat merah di atas gunung yang terus menurun ditelan bumi.

 

Penyunting: Ahmad Nurcholish

Diolah dari berbagai sumber

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed