by

Gereja Toraja dan Upaya Merawat Kerukunan Bangsa

Kabar Damai  | Selasa, 19 Oktober 2021

Jakarta | kabardamai.id | Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyebut saat ini umat beragama memiliki tantangan yang tidak ringan. Beberapa tahun terakhir, berbagai persoalan kerukunan intern dan antar umat beragama kerap muncul dan menjadi perhatian.

Sejumlah kalangan bahkan menilai ini menjadi gejala disharmoni kehidupan keberagamaan. Masalah tersebut, mulai dari ujaran kebencian di media sosial, hingga kekerasan dan diskriminasi atas nama agama. Ini menjadi tantangan setiap lembaga keagamaan, termasuk gereja.

Karenanya, dilansir dari laman Kemenag, Menag Yaqut Cholil Qoumas mengajak seluruh pihak untuk mengambil peran dalam merawat dan memelihara kerukunan bangsa. Hal ini disampaikan Menag saat menyampaikan sambutan  dalam Pembukaan Sidang Sinode AM XXV  Gereja Toraja, secara virtual dari Kediaman Widya Chandra, Jakarta.

“Berangkat dari kondisi masyarakat di atas, dalam kehidupan ber-gereja di tengah-tengah masyarakat maka kebijakan dan program kerukunan umat beragama kiranya menempati peran strategis dalam Sidang Sinode Am ke-25 Gereja Toraja,” pesan Menag, Senin, 18  Oktober 2021, dikutip dari kemenag.go.id (18/10).

“Peran tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam pembinaan bidang agama, yang diantaranya adalah meningkatkan kualitas hidup dan kerukunan umat beragama,” imbuhnya.

Baca Juga: Masjid Al-Mujahadah dan Gereja GPDI Jadi Wujud Toleransi Umat Beragama di Landak

Merawat dan memelihara kerukunan, imbuh Menag, dapat teraktualisasikan ke dalam berbagai bentuk. Misalnya, bagaimana hidup berdampingan dengan orang yang berbeda keyakinan, menghormati hari-hari besar agama lain, menjamin kebebasan beribadat, tidak mudah terprovokasi untuk diadu domba dengan umat lain.

“Ini adalah cara yang telah diwariskan para leluhur dan pendiri bangsa untuk meniscayakan kerukunan,” ungkap Menag.

Gus Menteri juga berharap agar para pendeta dan pelayan jemaat di lingkungan Sinode Gereja Toraja, mampu menjadi transformator, motivator dan inovator masyarakat di tengah keagamaan moralitas modern. Sekaligus, berperan sebagai benteng moral dan ilmu, para pendeta dan pelayan jemaat dituntut untuk dapat berperan aktif dan konkrit, serta solutif di tengah-tengah problematika sosial.

“Kita berkewajiban menjaga keseimbangan peran, antara tugas-tugas kerohanian dan hubungan bermasyarakat sehingga nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan dapat berjalan seiring dan sesuai dengan ajaran Tuhan,” terang Ketua GP Ansor ini.

Menag Yaqut mengapresasi pelaksanaan Sidang Sinode Am ke-25 Gereja Toraja. Ia berharap pelaksanaan persidangan tersebut  dapat memutuskan program-program strategis yang dapat menjawab tantangan dan kebutuhan umat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Layanan Madrasah Inklusif

Sebelumnya, Kementerian Agama terus berupaya mewujudkan layanan madrasah inklusif. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membentuk Forum Pendidikan Madrasah Inklusi (FPMI).

Pesan ini ditegaskan Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah M Zain saat mengukuhkan pengurus FPMI Jawa Barat di Bogor. Mereka adalah para guru yang sebelumnya telah dilatih dalam kegiatan pengembangan pelatihan pendidik inklusi di Bogor, 13-17 Oktober 2021.

Dilansir dari laman Kemenag, pengukuhan ini sekaligus dirangkai dengan kunjungan ke Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Bogor yang menjadi salah satu madrasah pelopor pendidikan inklusif di Jawa Barat.

“Mewujudkan layanan yang inklusif dalam rangka memenuhi hak anak berkebutuhan khusus untuk dapat diterima pada madrasah, berarti memberikan kesempatan pembelajaran yang bermakna kepada semua anak,” terang Zain di Bogor, Sabtu 16 Oktober 2021, dikutip dari kemenag.go.id (17/10).

Menurut Zain, makna Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bukan disability atau anak-anak yang tidak memiliki kemampuan, namun lebih tepat dengan sebutan difabel (different ability) yakni anak-anak yang memiliki kemampuan berbeda.

“ABK adalah ‘malaikat-malaikat’ Allah yang memiliki keistimewaan dengan kemampuan yang berbeda,” kata Zain.

Zain menggarisbawahi, Kementerian Agama telah memberikan mandat untuk terus memperhatikan ABK dengan terus mengembangkan madrasah inklusif. Ini menjadi bagian dari upaya dan  proses meningkatkan partisipasi siswa dan mengurangi keterpisahannya dari budaya, kurikulum, dan komunitas madrasah setempat.

Di hadapan para pendidik inklusi, Zain berpesan untuk terus mengembangkan kecakapan pengetahuan yang memadai dalam mengelola proses pembelajaran di kelas, sehingga bisa memahami betul karakter anak-anak berkebutuhan khusus dan mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki setiap anak serta mengembangkannya menjadi bakat luar biasa.

Kasubdit Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Raudlatul Athfal Siti Sakdiyah, mengatakan sejak diberi amanah mengembangkan program madrasah inklusif, pihaknya telah melaksanakan pendidikan dan pelatihan bagi pendidik inklusi.

Program yang akan dilaksanakan berikutnya adalah membentuk pengurus wilayah FPMI di masing-masing provinsi yang menjadi mitra Direktorat GTK dalam mengawal madrasah Inklusif. Bersama FPMI Provinsi, Direktorat GTK akan mengimplementasikan madrasah inklusif dengan program short course atau pembelajaran dengan durasi yang berbeda (lebih singkat) dikhususkan untuk ABK. [kemenag.go.id]

 

Penyunting: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed