by

Gereja Timur Orthodox: Ajaran baru kah? Gereja baru kah?

Oleh: Jurjis Gigih

Banyak sekali orang bereaksi tatkala mendengar tentang Gereja Orthodox/Kanisah Urtuduks, timbul prasangka buruk, terkejut, bahkan menganggap Orthodox bukan bagian dari Kristen.

Dan, terlebih lagi yang cukup mengerikan, ada pula yang mengatakan Orthodox merupakan “sinkretisme” antara Islam dengan Kristen. Setelah orang mengetahui dari penulis tentang tata cara ibadah Gereja Orthodox, dimana dalam Orthodox ada ibadah sholat tujuh waktu, tilawat/mengaji Kitab Suci dengan dilantunkan atau dikidungkan, dzikir, penggunaan kerudung dalam ibadah untuk wanita, dan lain sebagainya, yang sangat kentara sekali perbedaannya jika dibandingkan dengan ibadah yang ada dalam gereja-gereja di Indonesia.

Itulah yang seringkali dialami penulis di dalam kehidupan sehari-hari, selalu tidak lepas dari kesalahpahaman, dan orang yang menyalahpahami tidak hanya dari umat Muslim tetapi juga dari umat Kristen sendiri.

Kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk menguak lebih dalam lagi tentang apa itu Gereja Orthodox. Harap dimaklumi bahwa kesalahpahaman kebanyakan terjadi di dalam masyarakat Indonesia. Sebab di Indonesia mengetahui Kekristenan hanya dari dua bentuk saja, yaitu Katolik dan denominasi-denominasi Protestan, sehingga terasa asing bagi masyarakat Indonesia baik Islam maupun Kristen ketika mendengar adanya Gereja Orthodox.

Jika berdiskusi atau berdialog tentang Kekristenan, dapat dipastikan orang selalu begitu cepat mengambil kesimpulan, kalau bukan Katolik ya Protestan, begitu sebaliknya, kalau bukan Protestan ya pasti Katolik. Dan, dalam kubu denominasi Protestan pun demikian, orang selalu mengatakan dari denominasi Pantekosta kah? atau Kharismatik kah? atau gereja-gereja Protestan Calvinis? Lutheran? dan lain sebagainya.

Saat saya menjelaskan kepada orang lain tentang Gereja Orthodox, cukup banyak orang yang tidak mengenal dan dianggap “ajaran baru” atau “gereja baru,” dan pernah juga saya dianggap “sesat” oleh karena ketidaktahuan, kurang dan minimnya pengetahuan.

Keadaan ini tak bisa disalahkan, sebab dalam sejarahnya gereja-gereja yang ada di Indonesia ini sampai zaman modern didominasi oleh Kekristenan yang berasal dari budaya Barat Eropa, atau dikenal dengan Gereja Barat, yang dibawa oleh bangsa Portugis sampai pada masa pemerintahan VOC Hindia-Belanda.

Baca Juga: Toleransi Beragama di Masa Majapahit

Disusul juga dengan karya para misionaris dari denominasi Protestan dari Eropa maupun Amerika, sehingga itulah yang mengakibatkan masyakarakat Indonesia dibelenggu dengan pemikiran hitam dan putih, bahwa Kristen harus berwarna Barat dan Islam harus berwarna Arab, sampai berimbas pada bentuk pola peribadatan dan semakin runcing bahwa ibadah dalam Kristen menjadi kontras dengan Islam karena nuansa ke-Barat-an tadi. Mereka lupa bahwa sesungguhnya pola ibadah ke-Timur Tengah-an masih dilestarikan dalam Gereja Orthodox, dan lebih dahulu eksis jauh sebelum masa Islam lahir.

Tak heran jika selama ini terjadi jurang pemisah sekaligus kebuntuan dialogis antar hubungan Kristen-Islam karena telah terpaut jauh dari segi budaya dan bahasa.

Selayang Pandang

Perlu diketahui dan diingat, Gereja Orthodox adalah Kekristenan Purba yang sudah ada sejak zaman para Rasul Kristus (Hawariyyun), dan perlu dipahami lagi bahwa Kristen munculnya dari Timur Tengah bukan berasal dari Barat Eropa, karena Yesus Kristus atau Yasu’a al-Masih dan murid-murid-Nya berasal dari tanah Israel, orang Yahudi, meski memang nantinya berkembang luas di wilayah Eropa. Namun, Kekristenan Orthodox bukan disebut sebagai Kristen Barat, melainkan Gereja Timur.

Sejarah Gereja diawali dengan peristiwa bersejarah yang berpusat pada Pribadi yang nyata, Pribadi Sang Firman Allah yang menjadi manusia/Kalimatullah yang nuzul menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus (Yohanes 1:1-14), jadi bukan sebuah kitab yang turun, melainkan Firman Allah yang satu-dzat/hakekat dengan Allah itu turun jadi manusia.

Sejarah Gereja tidak dapat dilepaskan dengan teologi Kristen itu sendiri, penghayatan yang dalam akan keberadaan Yesus Kristus dalam karya-Nya yang telah lahir ke dunia melalui seorang Perawan Bunda Maria/Maryam Al-Adzra’i, kemudian wafat disalibkan, dikuburkan, dan tak berhenti disitu, tetapi Ia bangkit pada hari yang ketiga menunjukkan maut atau kematian tak berdaya atas-Nya, lalu naik – mi’raj ke sorga, itulah sebagai bentuk karya keselamatan dari Allah bagi umat manusia.

Sesudah kenaikan-Nya ke sorga, sesuai apa yang sudah dijanjikan-Nya bahwa pada Hag HaShavuot atau Hari Perayaan Pentakosta di Yerusalem, Roh Kudus/Ruhul Quddusi turun atas para Rasul (Kisah Para Rasul 2:14-40), hingga akibat dari khotbah yang dipimpin oleh Rasul Petrus banyak orang menerima Yesus, dibaptiskan, menjadi pengikut Kristus. Dan, saat itulah sampai sekarang dalam Kekristenan diperingati sebagai lahirnya Gereja yang menjadi bagian dari salah satu waktu dalam sholat harian (sholat sa’at Tsalitsah) dari 7 waktu.

Setelah turunnya Roh Kudus, umat semakin banyak, dan berkembang sampai luar tanah Israel, bahkan sampai ke Antiokhia (sekarang Syria). Di Antiokhia itulah, para pengikut Kristus disebut sebagai “Kristen” (Kisah Para Rasul 11:26-27).

Jadi, menurut apa yang tertulis dalam Alkitab Perjanjian Baru mengenai kata “Kristen” kala itu bukanlah identik dengan Protestanisme atau Katolik sebagaimana yang biasa terjadi di Indonesia. Sebab kata “katolik” bukan berarti sebuah nama agama, tetapi sebagai nama sifat Gereja itu sendiri, “katolik” berasal dari kata Yunani, kath = “menurut/sesuai dengan” dan holon = “utuh/penuh”, menjadi kathuliki artinya “sesuai dengan keutuhannya. Keutuhan Gereja yang dimaksud ialah sesuai dengan ajaran Kristus yang diterus-sampaikan dan dipelihara”.

Kata “Kristen” sesungguhnya julukan bagi Gereja Purba, jauh mendahului lahirnya Gerakan Protestanisme dengan segala macam denominasi-denominasi yang ada. Sedangkan, Protestan sendiri malah baru muncul pada tahun 1517.

Dari Gereja di Antiokhia-lah jiwa-jiwa makin tersebar ke seluruh wilayah Timur Kerajaan Romawi (karena saat itu Romawi menguasai daratan Israel dan sekitarnya), sampai ke Galatia, Efesus, Kolose, Tesalonika, Korintus, Athena, Roma.

Injil (jangan disalahartikan sebuah kitab yang turun, tetapi “berita tentang Yesus”) juga tersebar sampai ke Alexandria, Mesir yang diwakili oleh Appolos dari Alexandria (Kisah Para Rasul 18:24), meski menurut tradisi Gereja secara intensif mengabarkan Injil di Mesir adalah Markus si penulis Injil.

 

(Bersambung)

Jurjis Gigih, Pemuda Orthodox dan Alumni Anjangsana Pemuda Intas Iman

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed