by

Gereja Ganjuran, Wujud Inkulturasi yang Sarat Nilai Toleransi

Kabar Damai I Sabtu, 03 Juli 2021

Yogyakarta I kabardamai.id I Gereja dan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran atau biasa dikenal orang sebagai Gereja Ganjuran ini sering digunakan untuk tempat peziarahan. Jika biasanya gereja Katolik Roma dibangun megah menjulang tinggi bernuansa Eropa, lain halnya dengan gereja di sisi selatan Yogyakarta ini. Bukan pemandangan yang biasa melihat gereja seperti rumah adat Jawa beserta sebuah candi yang berdiri di dekatnya.

Gereja Ganjuran terbuka bukan hanya untuk umat Katolik saja, namun bagi siapapun yang ingin berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Gereja ini juga memiliki tradisi kenduri lintas agama yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Tradisi tersebut memperlihatkan keharmonisan dan toleransi antar umat beragama di daerah ini.

Keistimewaan bangunan

Bangunan Gereja dan Candi HKTY Ganjuran memiliki keunikan tersendiri yang menunjukkan bentuk inkulturasi. Kalian akan melihat perpaduan gaya antara Eropa, Hindu, dan Jawa dalam kawasan wisata rohani ini. Gaya Eropa dapat tampak pada bangunan yang memiliki bentuk salib apabila dilihat dari udara. Lebih lanjut, atap gereja mempunyai bentuk tajug (piramida) yang dilengkapi dengan salib besar.

Sementara itu, gaya Jawa mudah terlihat dari bangunan yang berupa joglo dengan ukiran khas Jawa. Selain itu, tiang penyangga atap yang berbentuk tajug berjumlah empat, melambangkan keempat penulis Injil yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.

Tak hanya itu, nuansa Jawa juga ditunjukkan dari relief Hati Kudus Yesus yang diwujudkan sebagai raja dalam balutan budaya Jawa sedang bertahta di singgasana. Tulisan di bagian bawah relief berbunyi “Sang Maha Prabu Jesus Kristus Pangeraning Para Bangsa”.

Selain itu, terdapat pula relief Ibu Maria yang digambarkan dengan paras Jawa dan menggunakan kostum adat Jawa. Kedua relief yang kental dengan nuansa Jawa ini ingin menunjukkan bahwa Tuhan itu sungguh dekat dengan umat-Nya.

Baca Juga: Berperan: Potret Baik Gerakan Anak Muda Beri Manfaat Bagi Sesama

Tak jauh dari bangunan gereja, terdapat bangunan candi yang erat dengan nuansa Hindu. Dilansir situs Gereja Ganjuran, candi ini dibangun sebagai ungkapan syukur dan ungkapan iman dari Schmutzer bersaudara pada tahun 1927. Candi tersebut menjadi monumen atas keberhasilan pabrik gula keluarga Schmutzer yang lolos dari krisis keuangan kala itu.

Di samping Candi Ganjuran, terdapat sumber mata air yang bernama Tirta Perwitasari. Tirta artinya air, sedangkan Perwitasari merujuk pada nama orang yang pertama kali merasakan khasiat air di sini. Tirta Perwitasari diyakini bermanfaat untuk kesehatan dan pengobatan. Banyak peziarah yang mengambil air ini seraya memanjatkan doa dan permohonan.

Salah satu keunikan Gereja Ganjuran adalah gaya bangunannya yang merupakan hasil dari akulturasi budaya Jawa, Hindu, dan Eropa. Melansir dari Ugm.ac.id, budaya Jawa di Gereja Ganjuran hadir dengan adanya patung Yesus, Bunda Maria, dan malaikat yang mengenakan baju adat kebesaran Jawa. Sementara nuansa Hindu hadir dengan adanya bangunan Candi.

Di bawah candi itu, terdapat mata air yang biasa didoakan oleh para peziarah dengan harapan dapat memberi kesembuhan bagi yang sakit. Biasanya, beberapa peziarah membawa pulang air tersebut dalam sebuah botol atau jeriken kecil setelah didoakan. Air tersebut dipercaya dapat memberikan khasiat pengantara doa oleh Yang Maha Kuasa.

Selain patung orang suci berbusana Jawa, di sana terdapat pula pendopo yang biasa digunakan wisatawan untuk beristirahat yaitu Pendopo Julius Schmutzer, Joseph Schmutzer, Caroline Schmutzer, serta pendopo dengan nama orang Jawa seperti Pendopo Tekle. Nama pendopo itu diambil dari nama Yu Tekle, seorang yang cacat tangannya yang sering membantu membersihkan gereja ini. Sebenarnya nama asli Yu Tekle adalah Sarjiyem. Sebutan Tekle mengacu pada tangannya yang cacat.

Di Gereja Ganjuran pula, baik para peziarah maupun wisatawan bisa merasakan kesejukan, kerindangan, dan keheningan secara bersamaan. Pengunjung pun bebas berkunjung kapanpun karena tak ada jam buka atau tutup di tempat ibadah ini. Namun saat ada prosesi ibadah, pengunjung diharapkan bisa menjaga keheningan mengingat prosesi itu dianggap sakral bagi umat Katolik.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed