by

Gerakan Pemuda Ansor dan Eks Napiter Tolak Pembubaran Densus 88

Kabar Damai | Selasa, 19 Oktober 2021

Jakarta | kabardamai.id | Gerakan Pemuda ( GP) Ansor menolak keras usulan tentang pembubaran Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri sebagaimana yang disampaikan oleh anggota DPR RI Fadli Zon.

Melansir warta Pusat Media Damai BNPT, Ansor menilai, peran dan tugas Densus 88 masih banyak dibutuhkan Indonesia, khususnya untuk mengatasi potensi ancaman aksi terorisme saat ini.

“Dari pemetaan Ansor, potensi terorisme di Indonesia masih tinggi. Bahkan orang yang ingin melakukan aksi kekerasan termasuk menjadi pelaku bom bunuh diri juga tidak sedikit. Situasi ini harus dipahami dengan jernih, tidak asal minta pembubaran tanpa argumen kuat,” kata Kepala Densus 99 GP Ansor, Mohammad Nuruzzaman di Jakarta, Sabtu, 16 Oktober 2021, dikutip dari damailahindonesiaku.com (18/10).

Nuruzzaman mengungkapkan, Densus 88 Antiteror dibentuk sebagai upaya negara memberikan perlindungan kepada masyarakat dari bahaya terorisme. Sejak resmi dibentuk pada 2003 antara lain melalui UU No 13/2003 dan Skep Kapolri No 30/VI/2003, Densus 88 telah bekerja dengan baik.

Bukti tersebut antara lain ditandai dengan keberhasilan tim Densus yang berulangkali menangkap sejumlah pelaku terorisme di berbagai tempat. Bahkan, Densus 88 juga berhasil mencegah upaya aksi kekerasan yang telah direncanakan matang oleh para teroris. Kecermatan tim Densus dalam mengendus rencana aksi para pelaku teroris ini perlu mendapat apresiasi karena bisa mencegah timbulnya banyak korban jiwa.

“Namun diakui di beberapa kasus Densus 88 masih kecolongan seperti terakhir aksi bom gereja di Makassar Maret 2021 lalu. Tapi jika Densus dibubarkan, para pelaku terorisme jelas akan semakin tambah leluasa,” tandasnya.

Baca Juga: Desakan Untuk Segera Tuntaskan Agenda Reformasi Polri

Nuruzzaman mengatakan, alasan Fadli Zon mengusulkan pembubaran Densus 88 lantaran adanya Islamphobia juga sangat berlebihan. Justru GP Ansor melihat, dari waktu ke waktu Densus 88 Antiteror Polri semakin humanis dalam bekerja.

“Bahkan sudah banyak sekali mantan teroris yang selain kembali ke pangkuan NKRI juga menjalankan agamanya dengan baik dan benar. Ini terjadi karena aksi terorisme itu jelas menyimpang dari ajaran agama dan pendekatan yang dilakukan Densus 88 atau Polri pun semakin humanis, sehingga mereka sadar,” tegas Nuruzzaman.

Melihat fungsi strategis dari Densus 88 ini, GP Ansor akan terus mendukung penuh upaya Polri dalam menumpas aksi terorisme di Indonesia. Selain menindak tegas para pelaku teror, Ansor juga mendorong Polri untuk meneruskan program deradikalisasi yang selama ini tengah berjalan bersama instansi terkait.

“Lewat cara ini, Ansor optimistis, potensi terorisme di Indonesia akan bisa ditekan. Di sisi lain, masyarakat juga akan terlindungi dan keamanannya makin terjamin,” pungkas Nuruzzaman.

 

Eks Napiter: Bisa Kembali ke Jaringannya

Sebelumnya, Eks narapidana terorisme (napiter) Hendi Suhartono mengaku prihatin dengan komentar anggota DPR RI Fadli Zon yang meminta Densus 88 Antiteror Polri dibubarkan.

Menurutnya, dilansir dari PMD BNPT, Densus 88 sangat dibutuhkan bangsa Indonesia, khususnya untuk menangani napiter yang sudah keluar agar tidak kembali ke jaringannya.

”Jika tak ada Densus 88, tidak ada satuan khusus yang memberikan pendampingan dan mencarikan solusi pada mantan napi terorisme. Kalau Densus tak ada, orang-orang seperti saya siapa yang mau pegang,” ujar Hendi dalam diskusi yang digelar Jakarta Journalist Center bertajuk “Kenapa Densus 88 Penting”, Jumat, 15 Oktober 2021.

Hendi menambahkan, saat keluar dari lapas para napi terorisme bisa saja kembali bergabung menjadi radikal jika tak ada pendampingan dan pemberian solusi yang diberikan Densus 88. Di dalam lapas, para napiter terorisme mendapatkan ilmu agar bisa hidup lebih baik dan tak lagi terjerumus ke terorisme.

Hendi lalu menceritakan tentang Kepala Densus 88 Antiteror Polri Irjen Pol Martinus Hukom yang pernah membantunya di awal-awal menjalani kehidupannya seusai bebas. Martinus mau membantu dari mulai pembangunan TK hingga pendirian Yayasan Hubul Wathon Indonesia.

“Setelah TK diresmikan, ketika itu Pak Martinus memberikan tantangan pada saya, bisa nggak membuat wadah orang-orang seperti kamu bisa sejahtera? setelah tantangan beliau tadi, saya kumpulkan teman-teman, kita buat Yayasan Hubul Wathon, cinta tanah air,” tuturnya, dikutip dari damailahindonesiaku.com (18/10).

Dia bersyukur lantaran Martinus bukan hanya mensupport pendirian yayasan itu, tapi juga memantaunya. Alhasil, dia pun selalu ingat dengan pernyataan Martinus yang ingin menyejahterakan para mantan napiter tersebut selama tidak kembali melawan hukum.

Karena itu, bantuan Densus 88 yang tak setengah hati tersebut pada para mantan napiter, tak terkecuali dia, bisa membuatnya kembali diterima oleh masyarakat dengan baik. Dia pun menilai cara yang dilakukan Kadensus dalam menangani para mantan napiter terorisme itu bukanlah menyentuh fisik, melainkan menggunakan hati.

“Saya mengalami sendiri saat kembali ke masyarakat. Mereka acuh karena itu di hati ada dendam. Kalau cuma dipantau lembaga negara nggak akan bisa. Sakit hati kita, saat berbuat baik, diomongin sakit hati. Inilah faktor makanya ada yang kembali ke garis keras,” tandasnya.

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed