by

Generasi Muda Harus Pahami Bahaya Paparan Paham Radikalisme dan Terorisme

Kabar Damai  | Kamis, 9 September 2021

Jakarta | kabardamai.id | Kaum milenial, generasi muda ataupun mahasiswa yang saat ini masih menempuh pendidikan di bangku kuliah akan menjadi generasi penerus dan memimpin bangsa di masa mendatang. Namun tidak bisa dipungiri bahwa di era gobalisasi ini banyak mahasiswa berprestasi yang terpapar paham radikalisme.

Demikian dikatakan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM, saat menjadi narasumber secara daring pada acara pembekalan kepada mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri), Palembang pada Selasa, 7 September 2021.

“Masalah radikal terorisme ini sangat penting sekali untuk dipahami oleh adik-adik mahasiswa. Karena adik-adik mahasiswa yang nantinya akan memimpin bangsa ini perlu dibekali dengan pemahaman tentang radikalisme dan terorisme,” ujarnya, dikutip dari damailahindonesiaku.com (8/9).

Melansir laman Pusat Media Damai BNPT, Wakhid mengatakan perlunya generasi muda atau mahasiswa memahami permasalahan radikal terorisme karena ada tiga alasan. Pertama, karena anak-anak muda atau mahasiswa, para pemuda masih dalam fase tumbuh dan berkembang, baik mentalnya, wawasan pengetahuan keagamaanya, ilmu, kedewasaan dan sebagainya.untuk menuju kematangan.

“Kedua, anak muda atau mahasiswa ini masih labil dalam self control emosionalnya. Masih reaktif, masih sering mencari tantangan dan hal-hal yang baru. Sehingga ini potensial dan relatif mudah untuk dipengaruhi oleh kelompok radikal atau dilakukan radikalisasi,” terang Alumni Akpol tahun 1989 ini.

Baca Juga: Optimisme Generasi Muda Tinggi dalam Pendidikan dan Kebudayaan, Rendah Politik dan Hukum

Kemudian alasan ketiga menurutnya dikarenakan kelompok radikalisme atau jaringan terror ini selalu meyasar generasi muda.

“Ini karena memang tujuan dan agenda mereka ini adalah ingin mendirikan negara agama menurut versi mereka. Sehingga generasi muda itu dianggap masih memiliki semacam masa panjang atau long term yang dipersiapkan saat agenda mereka terwujud,” imbuhnya.

Kepada para mahasiswa Direktur Pencegahan menjelaskan mengenai radikalisme terorisme yang sejatinya adalah gerakan politik yang ingin mengambil alih kekuasaan dengan memanipulasi agama. Khususnya dalam konteks di Indonesia yakni ingin mengganti ideologi negara Pancasila dengan ideologi transnasional, yang dalam konteks ini adalah ideologi Khilafah.

“Dan mereka ini ingin mengganti sistem negara dengan sistem agama menurut versi kelompok ini atau menurut versi mereka. Dan biasanya ini dilakukan cenderung dengan cara-cara inkonstitusional menghalalkan segala cara dengan mengatasnamakan agama,” ungkap  Wakil Komandan Resimen Taruna (Wadanmentar) Akpol ini.

 

Tiga Motif: Ideology, Politik dan Gangguan Keamanan

Tetapi kalau berbicara terorisme menurutnya, tidak hanya yang mengatasnamakan agama, tetapi ada juga motif lainnya. Karena definisi terorisme menurut Undang-undang nomor 5 tahun 2018 pasal 1 ayat 2 adalah tindakan atau perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror dan takut secara meluas serta masih di masyarakat, menimbulkan korban jiwa, kerusakan atau kehancuran fasilitas publik fasilitas lingkungan hidup fasilitas internasional dengan motif ada tiga yaitu ideology, politik atau gangguan keamanan.

“Tiga motif ini bisa komulatif ataupun bisa alternatif. Contoh, Negara saat ini sudah mendekati ratau menjustifikasi KKB papua sebagai terorisme. Motifnya apa? Karena motifnya politik, ingin memisahkan diri dan ingin merdeka dari NKRI yang sudah menjadi kesepakatan atau konsensus nasional dan sudah disahkan oleh PBB. Tetapi mereka juga bermotif ideologi, karena anti terhadap Pancasila, karena mereka tidak mengakui NKRI yang berdasarkan Pancasila sebagai ideologi negara pemersatu bangsa,” tandasnya.

Maka dari itu harapan semuanya terutama untuk generasi muda bagaimana cara mengantisipasi atau cara menanggulanginya Dimana negara mengamanahkan tiga strategi di dalam proses pencegahan. Pencegahan ini menyangkut tiga aspek yakni Kesiapsiagaan Nasional, Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi.

“Kesiapsiagaan Nasional ini tidak hanya dilakukan oleh pasukan TNI-Polri, sistem manajemen, anggaran dan sebagainya. Tetapi juga adalah Kesiapsiagaan Ideologi. Kenapa ? Karena akar masalah daripada radikal terorisme terutama yang mengatasnamakan agama ini adalah ideologi yang menyimpang atau ideologi yang mengalami distorsi. Dan ini berpotensi pada setiap individu manusia termasuk kalian sebagai mahasiswa,” beber mantan Kapolres Gianyar, Bali  ini

Sementara terhadap mereka yang tidak sadar sudah terpapar paham radikal tersebut atau Orang Tanpa gejala (OTG), maka, dilakukan dengan apa yang namanya moderasi beragama, moderasi berbangsa melalui strategi yang namanya kontra radikalisasi.

“Dimana Kontra Radikalisai ini isinya adalah kontra narasi, kontra propaganda dan kontra ideologi,” ujar mantan Kabagbanops Detasemen Khusus (Densus) 88/Anti Teror Polri

Sedangkan yang ketiga bagi mereka yang sudah masuk ke jaringan teror, atau sudah high level tingkat keterpaparanya, maka dilakukan strategi yang namanya deradikalisasi.

“Deradikalisasi ini adalah upaya proses untuk mengembalikan paham radikal menjadi moderat, atau minimal mengurangi. Sehingga deradikalisasi ini adalah untuk mereka yang sudah menjadi tersangka, terdakwa terpidana, narapidana maupun mantan narapidana tindak pidana terorisme,” jelasnya.

 

Waspadai Tiga Strategi Kelompok Radikal

Perwira tinggi yang juga pernah menjadi Kapolres Jembrana ini pun juga memberikan gambarannya kepada mahasiswa untuk mewaspadai tiga strategi kelompok radikal di dalam menghancurkan indonesia ataupun memecah-belah umat beragama. Pertama, kelompok-kelompok itu beusaha untuk mengaburkan, menghilangkan dan menyesatkan sejarah bangsa ini.

”Mereka mengaburkan, menghilangkan bahkan menyesatkan sejarah seperti kolonialisme Belanda. Untuk apa? Untuk menghilangkan harga diri, jati diri dan kehormatan bangsa. Jadi dia sesatkan Sejarah Indonesia ini, sebingga bangsa Indonesia nggak punya kebanggaan terhadap para leluhurnya. Ini merupakan kerjaan mereka dan strategi mereka,” tandas Wakhid.

Lalu strategi kelompok radikal yang kedua, yakni mereka berupaya untuk menghancurkan budaya dan kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia ini seperti silaturahmi dan gotong royong. Contoh adat tradisi kenduri, yasinan maupun tahlilan. Dimana kelompok ini sering membi’ahkan dan menyesatkan., seolah-olah ini adalah sesuatu yang sesat atau sesuatu yang tidak baik.

“Padahal bukan itu. Tradisi kearifan lokal ini adalah tradisi keagamaan yang cassingnya saja adalah budaya. Tetapi substansinya adalah berdoa bersama, bersyukur dengan bersedekah, silaturahmi dan bergotong-royong. Nah hal tersebut oleh kelompok-kelompok tersebut dibid’ahkan, disesatkan bahkan di kafir-kafir kan. Tentunya hal itu adalah bagian dari penghancuran budaya dan kearifan lokal keagamaan. mereka juga mengharam haramkan musik dan lain sebagainya. Tentunya Hal itu merupakan strategi mereka,” ujanrya.

Dan yang ketiga, kelompok tersebut juga suka mengadu domba di antara anak bangsa dengan memunculkan isu-isu SARA maupun pandangan-pandangan intoleransi terhadap keragaman maupun perbedaan.

“Sekali lagi keragaman dan perbedaan ini adalah sunnatullah, adalah kodrat Ilahi. Barangsiapa intoleran terhadap keragaman yang menjadi sunnatullah maka dirinya sejatinya adalah tidak beriman atau lemah imannya. Karena salah satu diantara 6 rukun iman di dalam agama Islam,” tegas Wakhid. [damailahindonesiaku.com]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed